
Ketika keadaan Leon sudah mulai membaik. Kania mengantarnya ke sebuah apartemen pribadi yang ditempati oleh Leon. Bukan tanpa sebab Kania mengantar Leon. Pasalnya, ketika mereka akan beranjak meninggalkan tempat itu. Tubuh Leon oleng, dan hampir terjatuh. Untung saja Leon memegang bangku disebelahnya sehingga ia tidak langsung rebah. Kania bergegas memopong Leon dan dirasanya tubuh Leon hangat.
Mereka pergi ke apartemen Leon diantar dengan supir Kania. Kania berencana untuk membawa Leon ke rumah sakit. Tetapi, Leon mencegahnya dan ingin dirawat dirumah saja. Sesampainya di apartemen pribadi Leon. Kania mengambil air dingin untuk mengompres Leon dan hingga sore hari. ketika, dirasa keadaan Leon sudah mulai membaik. Kania pamit untuk pulang. Leon sangat berterimakasih kepada Kania yang telah mau untuk merawatnya.
Sebelum Kania pulang, Leon memberikan sebuah amplop kepada Kania. Kania membuka isi amplop tersebut. Betapa terkejutnya ia mengetahui bahwa dalang kejadian yang dialami oleh Cantika adalah Nitra. Kecurigaan Kania telah terbukti. Ia mengepal tangannya dan mencoba untuk mengontrol emosi yang telah berada di dada hingga kepalanya.
*
Di kantor Kenan, tepatnya diruang rapat. Kenan mendapat sebuah pesan dari telpon genggamnya. Dilihatnya isi pesan tersebut, tangannya terkepal dan memukul meja rapat. Sontak semua orang di ruangan tersebut terkejut dan menoleh ke arah kenan. Kenan tidak bergeming terhadap telepon genggamnya itu. Asisten Kenan yang melihat reaksi peserta rapat langsung menyadarkan Kenan. Kenan memasang wajah dingin dan kesalnya, menyuruh mereka untuk kembali fokus ke pada rapat mereka.
Kenan memang sangat profesional, apapun yang terjadi. Sebisa mungkin ia bersifat profesional dalam pekerjaan. itu juga yang membuat dirinya sesukses sekarang ini. kata orang Loyalitas tanpa batas.
Rapat telah selesai, Kenan masuk ke ruangannya dan segera menelpon seseorang.
'tit tit tit.' suara panggilan telpon
"angkat kania, angkat." gumam kenan sambil mondar-mandir di ruangan kantornya dengan tangan sebelah kiri dimasukkan ke dalam saku.
Berulang- ulang kali Kenan menghubungi Kania. Tetapi, tidak di angkat oleh Kania.
"Ah, Kania" mengusap kasar wajahnya.
'tok tok tok' suara pintu ruangannya terketuk. Kenan mempersilahkan orang tersebut untuk masuk. Sekretarisnya datang dan mengantarkan berkas yang perlu ditanda tangani.
"Pak, hari ini kita ada jadwal untuk turun ke lapangan bersama pak Bimo. Proyeknya hampir selesai."
Kenan tidak menghiraukan perkataan dari sekretarisnya. Ia sibuk mengotak- atik telepon gengamnya dengan wajah yang serius. Hingga berulang- ulang kali Sekretarisnya menyadarkan Kenan.
"Ha? ada apa?"
"Bapak tidak mendengarkan saya ya." kritik sedikit sekretaris kenan, kenan merasa malu dan meletakkan telepon genggamnya di atas meja.
"Maaf kan saya, ada apa?" tanya kenan kembali
"Hari ini kita ada jadwal untuk turun ke lapangan bersama pak Bimo. Proyeknya hampir selesai." ulang sekretarisnya
__ADS_1
"Baiklah. Jam berapa?"
"Sekarang pak."
"Ok, Siapkan mobil kita berangkat." jawab Kenan dengan tegas.
"Baik pak."
*
Kania telah sampai dirumah. Ia kelihatan sangat lelah sekali. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang king size dikamarnya. Tanpa terasa matanya menarik diri untuk masuk kedalam mimpi.
Selang satu jam beristirahat, Kania terbangun karna merasa ada cipratan air diwajahnya. Kania berusaha mengumpulkan kembali nyawanya dan mulai membuka mata. Dilihatnya seseorang yang sedang mengeringkan rambutnya tepat disamping sisi ranjang kasur. Seakan mencoba untuk membangunkan Kania secara tidak langsung.
"Hem, ken." kania menghalau cipratan rambut kenan, dengan tangannya.
kenan tetap melakukan aksinya hingga kania mendengus kesal lalu duduk
"Ken.... air rambutmu itu." Kenan bersikekeh "ken....... kenan.... ich kenan." membelalakan matanya sambil menyatukan alisnya tanda kesal.
"Ya,kesal lah. Air rambutmu itu jatuh ke aku. Kamu sengaja kan?" tanya Kania sambil menatap tajam ke arah Kenan
"Ya, aku sengaja. Kenapa kamu tidak suka?" kenan mengeluarkan napasnya dengan kasar. "Suami pulang bukannya disambut malah asik tidur." Tanya Kenan sinis.
"Aku sedang lelah Kenan. Makanya aku tertidur." jawab Kania ketus dengan raut wajah yang penuh dengan kekesalan.
"Ya, bagaimana kamu tidak lelah. Seharian kamu melayani pacarmu di luar sana." ketus kenan.
"Pacar? maksudmu siapa? kamu menuduh aku berselingkuh dibelakangmu?" Jawab kania dengan nada yang tinggi. Sambil turun dari ranjang dengan emosi.
"Pelan kan suaramu itu. Berani sekali kamu membentakku." balas Kenan dengan suara tegas yang penuh amarah
"Kamu sendiri yang cari perkara denganku. Pakai menuduhku segala, berselingkuh." jawab Kania dengan sedikit merendahkan suaranya walaupun masih terdengar meninggi.
"Aku tidak menuduhmu berselingkuh jika tidak punya bukti Kania." Kenan menghadapkan wajahnya kepada Kania dan menatapnya dengan intens. "Kemana kamu tadi siang?" kenan tampak ingin mengintrogasi Kania.
__ADS_1
"Aku ketemu teman di cafe JJJ." jawab Kania dengan tangan yang melipat
"Kenapa kamu tidak memberitahukan ku?" tatap kenan dengan kening yang mengkerut
"A,,,, ku a..... ku" jawab kania sedikit gugup karna sedang berpikir "kenapa aku bisa lupa ya? aduh mampuslah ini" gumam Kania dalam hati
Kenan mengambil amplop dari tasnya dan membuka isi amplop tersebut lalu membuangnya ke atas ranjang sisi Kania. Kania terkejut melihat poto-poto kebersamaan dirinya dan Leon sangat mesra ketika merangkul, dan memberikan leon air berikut dengan beberpa pose yang tidak sengaja diambil. Ia menutup mulutnya dan mengambil beberapa poto. Tapi, dia bersyukur karna wajah Leon tidak jelas di poto tersebut. Jika, tidak Leon pasti dalam masalah. Walaupun ia tahu memang sudah bermasalah. heheh.
'he' menghela napasnya dengan kasar lalu tersenyum sinis
"Lihat, begini ekspresi seorang penjahat kalau sudah tertangkap basah." Menatap Kania dengan perasaan kecewa.
"Ya ampun, Kenan bagaimana ini bisa terjadi?" tanya kenan sembari panik
"Sudahlah jangan berdalih." kesal kenan
Bukannya merasa bersalah, Kania justru tersenyum manis memandangi setiap lembaran poto. Kenan yang melihat ekspresi Kania menjadi heran.
"Dasar setres, Ini anak kesambet apa? kok malah senyam-senyum melihat poto itu" gumam kenan dengan geram dalam hati
"Kenapa kamu terseyum seperti itu?"
"Aku tidak menyangka jika aku secantik ini Kenan. Coba kamu lihat." Kania menunjuk wajahnya dipoto sambil Kenan mendekat.
"Aku tidak sedang bercanda Kania." Tegas Kenan.
"Emang aku sedang bercanda ya?" Kania menatap mata kenan lalu menjatuhkannya kembali ke poto tersebut
"K A N I A." Kenan membentak Kania, dengan amarah yang membara
Kania sangat terkejut mendengar kenan membentaknya, Hingga poto-poto tersebut terjatuh dari tangan. Kania menatap wajah Kenan dengan penuh ketakutan. Kenan yang melihat mata Kania yang sudah hampir berlinang air mata, merasa bersalah. Emosi yang semula meledak itu kini surut dengan seketika. Kenan meraih wajah Kania untuk menghapus air mata Kania yang telah jatuh saat ini. Tetapi di tangkis Kania dengan seketika.
Entah bagaimana harus diekspresikan wajah Kania untuk saat ini. Wajah yang penuh dengan emosi negatif. MARAH, KECEWA, dan SEDIH semuanya bercampur aduk dengan seketika.
"Dengan sangat terhormat, tuan Kenandri Ganendra. Jangan samakan Aku KANIA AMONADE yang sudah menjadi ISTRIMU yang SAH dengan MANTAN CALON ISTRIMU itu. Kau mengerti!!." Kania menekankan perkataan demi perkataan kepada Kenan dengan tatapan yang penuh ketegasan. "Harus kau ingat, AKU bukanlah AIRA NAKA, A.....Ku bukanlah seorang Pengkhianat sepertinya. Walaupun pernikahan ini, tidak didasari oleh CINTA aku akan selalu menghormati kesakralannya." Kania pergi dengan menghempaskan bantal ke wajah Kenan. Kenan terdiam, tak berkutik.
__ADS_1
Entah apa yang harus di katakan, ia bahkan terkejut mendengar Kania yang mengetahui tentang AIra Naka mantan calon istrinya itu.