Kenan Dan Kania

Kenan Dan Kania
Pasar malam


__ADS_3

Kania dan Aska sudah mulai bosan menunggu jemputannya.


“aduh, kemana sih supir yang dibilang sama kenan. ini sudah jam 6 lewat loh.” Kania menggerutu.


Tiba-tiba sebuah mobil yang tidak asing berhenti tepat di depan mereka.


“selamat malam pak.” Sapa kenan yang keluar memberi salam kepada security yang berada di pintu masuk.


“selamat malam pak Kenan. sudah lama ya tidak berjumpa.”


“iya, pak. Lumayan sibuk.”


Aska masuk play group sudah 2 tahun terakhir ketika ia berusia 4 tahun. selama tahun pertama Kenan jika tidak dinas keluar kota akan menjemput Aska ke sekolahnya menggantikan Kak Kamila yang merawat ibunya yang sakit.


“paman kenan.” Aska berlari menuju pamannya dan memeluk Kenan.


“aska.” Kenan menggendong aska naik ke tubuhnya.


“kami pulang dulu ya pak.” Kania berpamitan kepada pak satpam


“iya, bu hati-hati ya dijalan.”


“iya.”


Di dalam mobil, Kania menahan kegeramannya. Karna, Kenan yang lama menjemput mereka. Kenan melirik sedikit ke arah Kania yang tidak berkicau.


“kenapa kamu diam? Merasa bersalah?”


“kenapa, aku yang harus merasa bersalah. Bukan kamu?”


“lah, kamu nyalahin aku untuk apa? Harusnya kamu tuh introspeksi nona Kania. bukan malah nyalahin orang lain begitu.”


“kok, jadi aku sih yang harus introspeksi. Ok baiklah aku memang salah. Karna, tidak mengetahui alamat rumah sendiri. Tapi, ya itukan juga karna aku selalu dirumah kenan. coba kamu pikir selain dirumah apakah aku punya tempat tujuan lainnya? enggak kan. Kalau pun ada, pasti ada supir yang antarin aku atau orang rumah yang nemenin aku. Jadi, wajar dong kalau aku ngak pernah tau alamat rumah kita dimana.”


“tapi, setidaknya……” kenan ingin menimpali


“iya, aku tau. Kalau terjadi sesuatu seperti ini aku jadi ngak tahu di mana alamat rumahku. Siapa yang harus aku hubungi dan yang lainnya. jadi, sekali lagi aku minta maaf uda merepotkan kamu tuan Kenandri ganendra. (memberikan permohonan maaf dengan tangganya)”


Kenan, tampak tidak bisa berkata-kata. Apa yang dikatakan Kania memang benar selain di rumah tidak ada tempat tujuan lain yang akan ia tuju. lagipula Kania telah mengakui kesalahannya.


“terus kenapa kamu marah padaku?” tanya kenan.


“sudahlah, lupakan saja.”


“hem, ngambek deh jadinya.”

__ADS_1


“siapa, yang ngambek ngak ada.”


“kalau begitu kasih tahu apa kesalahan ku.” Kenan menjawab dengan nada suara yang lembut Kania yang mendengar nada suara kenan menjadi luluh dengan seketika.


“kamu, membuat kami menunggu terlalu lama. Kamu bilang supir akan menjemput kami. Tetapi, yang datang malah kamu.”


“jadi, kamu tidak senang kalau aku yang jemput.” tanya kenan


“bukan begitu juga.”


“terus (menaiki alisnya)”


“ya, udahlah cape jelasin nya sama kamu. Pasti, ada aja bahan buat memancing emosiku.”


“siapa yang memancing emosi kamu? Aku kan…….”


Kania menutup mulut kenan dengan tanganya. Membuat mereka terdiam


tak bersuara tetapi, jantung kenan berdetak dengan kencang.


“aku bilang diam. Aku sudah lelah nungguin kamu. Jadi, aku ngak mau berdebat lagi.”


Dalam perjalanan  ia menatap ke samping kiri luar jendela mobilnya dan melihat sebuah pasar malam yang sangat ramai. Ia, pun menyuruh Kenan untuk menepikan mobilnya. Mobil mereka menepi sedikit jauh dari pintu masuk


“pinggir- pinggir ”


“ayo, kita kepasar malam.”


“ha pasar malam.”


“iya, itu (menunjuk arah pasar malam)”


“ini, sudah malam loh Kania. kamu bilang udah lelah.”


“tolonglah ken, kali ini saja jangan berdebat denganku kenapa sih. (menatap kenan)”


“siapa yang ngajak kamu berdebat. Aku kan hanya …..”


kania kembali menutup mulut kenan dengan tanganya. Jantung kenan kembali berdegup dengan kencang dilihatnya mata Kania yang cantik dan indah mengisyaratkan permohonan sedikit di cahaya matanya. Kania melepaskan tangannya dari mulut Kenan dan melihat ke arah Aska. Tetapi, Aska malah tertidur pulas di belakang mobil.


Melihat Aska yang sudah tertidur pulas di belakang mobil mengurungkan niat Kania untuk mengajaknya ke pasar malam. Kania menyenderkan kepalanya mereng di kursi mobil sambil menghadap kenan yang masih menatapnya.


“huftt (menghela napas) kita pulang saja”.


Kenan pun mulai mengendarai mobil kembali.

__ADS_1


“apakah, kamu sangat lelah?”


“pakai banget.”


“maaf kan aku.”


“apa? (terkejut) aku ngak salah dengar kan? Kamu meminta maaf padaku.”


“iya, memang kenapa.”


“tidak (tersenyum)”


Kenan pun menjelaskan alasannya mengapa supir tidak menjemput mereka dan malah kenan sendiri yang menjemput mereka.


“kenapa, kamu ingin kepasar malam?”


“tidak, aku tidak ingin pergi kepasar malam.”


“terus?”


“kamu, tahu kenapa aku mengajak Aska ke taman kota?” Kenan menggelengkan kepalanya.


“kak Kamila dan Bang Jack menjanjikan diri untuk mengajaknya bermain di mall. Ia sangat kecewa hari ini. sampai aku pun lelah untuk membujuk nya.”


“hem,  Kak Kamila memang sedang was was sekarang, dengan ibunya yang sakit sudah 2 tahun terkahir ini. sedangkan bang jack, sedang gempar gempurnya dengan perusahaan di luar negri yang bermasalah.”


“Makanya, ini sangat berat untuk Aska kan.”


“benar.”


tak lama kemudian, Mereka telah sampai di kediaman Ganendra. Kenan melihat ke arah Kania yang sedang tertidur pulas menghadap dirinya. Ditatap kenan Wajah Kania dengan lekat.


“gadis ini cantik juga jika dilihat-lihat. Dan sangat manis jika dalam keadaan tertidur seperti ini. tapi, kalau dia sudah bangun wa wa wa wa hahahah ada saja bahan nya untuk membuatku kesal, (tersenyum manis) eh, kok aku malah memikir kan gadis ini sih. sadar kenan sadar.” Pikir kenan dalam hati.


“brrrr” kenan berusaha membangunkan pikirannya yang membuat air liurnya jatuh ke wajah Kania.


Kania yang merasa ada sesuatu yang jatuh dimukanya membuat Kania terbangun dari mimpi tidurnya.


“apa, ini hujan ya.”


“eh, kamu. Ayo, bangun kita sudah sampai.” ajak kenan


“wuah, cepat sekali.”


“sudah cepat turun.”

__ADS_1


Mereka turun dari mobil, Kenan mengendong Aska dan masuk ke dalam rumah diikuti dengan Kania yang berada di belakang Kenan


__ADS_2