
#Sebelumnya
Bukankah kau telah berjanji padaku untuk menjumpaiku disini. Kenapa setelah 4 bulan aku disini baru sekarang kau menjumpaiku? dasar pembohong!. Oh, aku tahu jangan-jangan kau menyuruhku untuk melanjutkan kuliah agar kau bisa main gila kan di belakangku?" Kania sangat emosional Ia mengubah posisinya hingga berdiri memarahi Kenan. "Sama siapa kau berselingkuh? jawab aku, sekretarismu, karyawanmu, Aira Naka mantan tunanganmu itu atau..... ah, aku tau Nitra wanita yang selalu mengejar-ngejar cintamu. Iya kan." Kania mengatur napasnya setelah mengeluarkan emosi isi hatinya kepada Kenan. Kenan memandang Kania dengan tenang.
#Selanjutnya
Lalu mendekapnya dengan lembut.
"Apakah kau merindukanku?" Tanya Kenan. Kania tetap pada kegengsiannya, dan menggelengkan kepala menandakan tidak.
Kenan melepaskan dekapannya dan pergi dari hadapan Kania. Kania heran dan berdecak kesal.
Kania membersihkan tubuhnya, ia berjalan untuk menuju dapur, menyiapkan makan malam. Dalam perjalanannya menuju dapur, ia melihat Kenan sedang bersiap-siap dengan koper dan barang-barang yang sudah di susun rapi untuk pergi.
"Mau kemana?" Tanya Kania
"Pulang."
"Pulang? "
"Iya."
Ekspresi Kania tampak tak bersahabat, ia berbalik kembali ke arah kamar dan dengan sengaja memecahkan vas bunga diatas meja hias.
Kenan terkejut dan memarahinya.
"Apa, maksudnya ini Kania?" Kania lalu lalang pura-pura tidak mendengarkan. "Kania... Kania... "
Kenan terpancing emosi ia pun mengikuti Kania masuk kedalam kamar lalu menahan tangan kanan Kania dan menghadapkan wajah mereka.
"Kenapa kamu pecahkan vas bunga itu?"
"Aku tidak memecahkannya, ia terjatuh sendiri. "
"Jangan membodohiku, aku melihatnya dengan mata kepala ku sendiri. Kau menjatuhkannya dengan sengaja. Sekarang bersihkan vas bunga itu."
"Aku tidak mau." Kania bersih kekeh lalu melipat kedua tangannya didada tanda penolakan keras.
Kenan hilang kesabaran, ia menarik paksa tangan Kania lalu menghadapkannya ke tempat dimana vas bunga itu pecah bederai.
"Ken, sakit Ken. Ken lepaskan aku kau telah menyakitiku."
"Bersihkan ulahmu ini."
"Aku tidak mau."
__ADS_1
"Bersihkan Kania. " Geram
"Aku tidak mau."
"KANIA" Kenan membentak, Kania sangat terkejut mendengar hal itu.
"Kau, pikir kau menikahiku untuk dijadikan bahan bentakanmu?"
"Kan... Aku.... " Menyesal
"Cukup, aku sudah tidak tahan. Apakah selama ini kau menganggapku sebagai pelayanmu Kenan? yang bisa kau perlakukan seenaknya?"
"Kan, aku tidak.... "
"Kau menyuruhku untuk pergi dan melanjutkan sekolah ke Kolkuta ini dengan alasan mendukungku untuk mencari orang tuaku agar kau bisa hidup dengan duniamu sendiri kan?"
"Kan, tidak seperti itu."
"Bukan seperti itu bagaimana? alasanmu jelas sekali Ken. Kau membenciku? kau masih belum bisa menerimaku sebagai istrimu!"
"Bagaimana kau bisa berbicara seperti itu? sedangkan kau tidak mengerti apa....."
"Itu adalah faktanya Ken. Kau berasal dari keluarga yang terpandang. Masalah untuk mencari keberadaan orang tuaku adalah hal yang mudah bagimu. Tapi, kau malah menyuruhku untuk pergi kemari dan bodohnya diriku terjebak dalam rencanamu ini. Dengan alasan melanjutkan sekolah.... picik sekali. Tapi baiklah aku akan mengikuti rencanamu ini. Setidaknya, kau merasa bahagia dan bebas tanpa diriku." Dengan air mata yang belinang Kania masuk kedalam kamar.
-
Ia masuk kedalam kamar, dan menemukan Kania sedang berdiri di balkon. Kenan berjalan ke arah Kania dan berdiri tepat dibelakangnya, menghalau tubuh Kania agar tidak pergi, sambil menciumi aroma segar rambut Kania.
"Maafkan aku."
"Apa yang kau lakukan Ken?" Kania risih dan sedikit memberontak tetapi Kenan tetap menciumi rambut Kania. "Ken, lepas... kan"
Kenan membalikan tubuh kania agar menghadap wajahnya. Mata mereka pun saling beradu satu sama lain seperti memadu kasih. Tatapan mereka sangat dalam satu sama lain. Kedalaman itu membuat hasrat Kenan untuk menyentuh bibir Kania dengan bibirnya terdorong.
'cup' ciuman pertama Kania pun terjadi, dan Kenan berhasil untuk mendapatkannya. Kenan, melepaskan ciuman itu dan memberikan penjelasan.
"Apakah kau pikir aku sanggup untuk berjauhan darimu? apakah kau tidak mengerti dengan segala sikap dan perbuatan yang telah kulakukan padamu?" Kania menggelengkan kepalanya.
"Apakah kau tidak mencintaiku Kania?"
'Dor' mata Kania terbelalak lalu menunduk seketika.
Kenan mendekatkan bibirnya ke arah telinga Kania.
"Aku mencintaimu Kania Amonade Ganendra." Kenan memeluk Kania dengan erat. "Sangat mencintaimu, hanya kau yang berada di relung hatiku ini, tidak Nitra, sekretaris, karyawan, atau pun Aira. Hanya Kania, cukup Kania saat ini dan untuk selamanya. Huftttt, (menghembuskan napasnya kasar) aku sangat merindukanmu. Rasanya aku ingin mati menahan rindu ini padamu." mencium kening Kania
__ADS_1
"Ala, gombal."
"Tatap mataku Kania, dan telisiklah disana apakah setiap perkataanku itu adalah kebohongan? aku berusaha mengutarakannya kepadamu, dan kau bilang itu adalah sebuah kebohongan? sungguh mengecewakan." Kenan sedikit kesal dan berniat untuk masuk ke dalam kamar.
Tiba-tiba langkah Kenan berhenti karna Kania memeluknya dari arah belakang.
"Aku juga merindukanmu, sangat-sangat merindukanmu. Hicks hicks hicks" Kenan menghapus air mata Kania dan memeluknya kembali.
-
Kania dan Kenan sedang menikmati makan malam mereka dengan wajah yang cerah.
"Perasaanku, seseorang pernah berkata. Jika ia tidak akan pernah menangis karna merindukanku. Sepertinya, hari ini menjadi bukti dan jawabannya." Kania yang sadar jika Kenan sedang menyinggung dirinya, menatap Kenan dengan tajam. "Wah, galak banget buk. Hati-hati" Goda Kenan dengan wajah penuh senyuman.
"Hati-hati mengapa?"
"Hati-hati, entar aku makin tambah cinta. 'cup'" Kenan mengakhiri makan malam mereka dengan ciumannya di pipi dan mengemaskan piring untuk membawanya kedapur.
'blus' pipi Kania merah merona dengan seketika, Jantung Kania terpompa begitu kencang. Ia pun terbatuk, lalu mengambil minuman untuk menenangkan diri.
Kania telah selesai mencuci piring, matanya mencari Kenan dan menemukannya di ruang tamu sambil mengepak berkas kantornya.
"Kau jadi pergi malam ini?"
"Apakah kau tidak rela jika aku pergi malam ini?"
"Bagaimana bisa aku merelakanmu? kau baru saja tiba."
"Ohoho, jangan marah istriku. Aku tidak akan pergi malam ini. Aku harus disini untuk beberapa hari, sampai rindu istri tuan Kenandri Ganendra terobati." Kenan mengacak-acak pucuk kepala Kania. Kania membalasnya dengan senyuman bahagia.
"Terus, koper, berkas dan semua barangmu ini?"
"Hem, berkas-berkas ini akan dikirimkan ke perusahaan Ganendra. Ini koperku, aku tidak sempat untuk memasukkannya ke dalam kamar. dan barang-barang ini kiriman keluarga Ganendra untuk istriku ini." Mencubit pipi Kania karna gemas.
"Ohw, padahal aku senang sekali. Jika kau pulang hari ini. Rupanya menginap toh, yah kecewa deh. ble" Kania mengejek.
"Hem, baiklah kalau begitu aku harus memesan kamar hotel keluarga untuk ku tempati malam ini. Soalnya, istriku sudah tidak merindukanku lagi. ble" Kenan membalas
"Pesan saja, rumah akan ku kunci agar kau tidak bisa keluar." menghentak-hentakan kakinya karna kesal.
-
Hai sobat 'K&K', tetap semangat buat dukung Author terus ya! biar Author tambah semakin tambah, semangatnya buat update cerita kenan dan kania. Jangan lupa Like, Komen, Vote kalian author tunggu loh. Trimakasih.
Oh, iya jangan lupa. Baca juga chat story author 'Nyaman dan Cinta' Author tunggu kedatangan kalian.
__ADS_1
peyuk cium peyuk cium
Tertanda 'K&K'.😘