Kenan Dan Kania

Kenan Dan Kania
Merindukannya


__ADS_3

Keluarga Angga menjengguk Sandra di rumah sakit. Mereka menyesal atas kejadian yang terjadi pada waktu itu.


"Nak, atas nama Angga om dan tante minta maaf ya!" Ayah Angga berbicara.


"Tidak apa om, tante. Sandra yang salah, karna kencang membawa mobil."


"Sudahlah yang berlalu biarlah berlalu. Saat ini kita harus berdoa untuk kesembuhan Sandra. " Jawab ayah Sandra.


"Tidak ayah, bagaimana bisa ini kubiarkan. Lihat saja wanita licik, aku akan menghancurkanmu!." Ungkap Sandra dalam hati.


-


Kania sudah masuk kampus, walaupun harus melalui perdebatan antara dirinya dan Kenan.


Kania berjalan bersama Feren dan Jeje menuju taman, karena jam kuliah mereka telah berakhir hari ini. Dari arah belakang seseorang memangil nama Kania.


"Kania!" Kania menoleh


"Kak Angga!"Angga menghampiri mereka.


"Kau sudah baikan?"Kania mengangguk dan tersenyum. "Baguslah, hem Kania bolehkah kita bicara empat mata?"


Kania terkejut, dan bingung apa yang harus ia lakukan. Feren dan Jeje pun berbisik kecil kepada Kania agar dirinya mau menerima ajakan kak Angga.


"Sudahlah Kan, mungkin ada sesuatu yang harus dibicarakan! " Feren membujuk


"Iya, sekalian kamu harus memberitahukan dirinya agar tidak mengejarmu lagi." Jeje menimpali


Kania mempertimbangkan perkataan teman-temannya itu dan menyetujuinya.


-


Angga mengajak Kania untuk duduk ditaman sedikit jauh dari arah Jeje dan Feren.


"Ada apa kak?"


"Kan, aku minta maaf ya atas perbuatan yang dilakukan oleh Sandra kepada dirimu. Pasti berat sekalikan bagi dirimu."


"Tidak juga kak, aku juga tidak terlalu pusing untuk memikirkannya. Lagi, pula kita memang tidak ada hubungan apapun terus ngapain dipikirkan. "


"Ya, kamu benar Kania, kita tidak ada hubungan apapun."


"Oh, ya kak. Kanoa dengar Sandra masuk rumah sakit ya?"


"Ya, dia hampir saja menabrak truk. untungnya dia menghindar dan menabrak pohon besar didepannya."


"Terus bagaimana kak keadaannya?"


"Aku dan keluargaku baru saja menjengguknya dari rumah sakit, dan syukurnya dia hanya terluka pada kening dan tangannya saja."


"Syukurlah, semoga dia lekas sembuh ya kak."


"Amin. Kan, bolehkah aku bertanya padamu? "


"Ya, tanya saja kak. Tidak ada yang melarangkan?"

__ADS_1


"Kania, apakah benar Kenandri Ganendra adalah suamimu?"


"Iya, kak benar."


Hati Angga seperti dibom oleh waktu, hancur seketika setelah mendengar kebenarannya langsung dari mulut Kania.


"Kau berbohong padaku kan, Kania!"


"Haha, kenapa aku harus berbohong padamu. Aku telah menikah kak, usia pernikahan kami akan memasuki satu tahun."


"Satu tahun? tidak, aku tidak percaya. Kenan berasal dari keluarga terpandang. Bagaimana mungkin dia menikahimu tanpa adanya berita. Apalagi Kenan adalah salah satu motivator."


"Apakah maksudmu aku tidak layak bersanding dengan Kenandri Ganendra?"


"Bukan seperti itu maksudku Kania. Tidak mungkin Kenan menikah tetapi tidak di publish."


Seseorang datang dari samping mereka dan menyambung pembicaraan.


"Apakah kehidupanku, termasuk pernikahanku harus kupublish?" Kenan datang


"Ken, kapan kamu datang?" tanya Kania.


"Cukup untuk mendengar perbincangan kalian." Menatap tajam kearah Angga.


Melihat tatapan para pria itu membunuh satu sama lain. Kania Mengakhiri perbincangannya bersama Angga lalu pulang bersama Kenan.


"Kak, Angga. Aku telah di jemput kalau begitu kami pamit dulu ya." Menarik tangan Kenan.


-


"Kenapa sih kamu menarik tanganku."


"Kenapa? kamu ingin berkelahi kan dengannya."


"Bukan, berkelahi Kania tetapi memberikan pelajaran."


"Sama saja. ayo kita pulang!"


"Tidak, biarkan dahulu aku memberikan pelajaran padanya."


"Untuk apa Ken?"


"Untuk apa katamu? Kania dia itu menyukaimu Makanya dia mencoba untuk terus mendekatimu. "


"Oho, jadi kamu cemburu ya dengannya. makanya tingkahmu seperti ini kan." Kania mendekat kearah Kenan dan menaik turunkan alisnya.


Kenan tidak tahan dengan godaan dari Kania. Ia pun langsung memeluk erat Kania.


"Ken, lepaskan. Kamu tidak malu jika ada yang melihat?"


"Biarkan saja, biarkan semua orang mengetahui jika kau adalah istriku."


"Ken, hahah. Baiklah baiklah mari kita pulang."


-

__ADS_1


Sandra meminta untuk segera dipulangkan kerumah. Ia tidak ingin berlama-lama di rumah sakit.


Sesampainya dirumah Sandra marah kepada orang tuanya. Ia meminta agar dirinya dirawat dikamarnya dilantai 2. Sedangkan kedua orangtuanya telah menyiapkan tempat untuk dirinya dirawat di lantai dasar saja.


Maksud kedua orangtua Sandra agar pekerja dirumahnya tidak kerepotan, dan orangtuanya lebih mudah sigap jika sesuatu terjadi kepada dirinya.


Kemarahan Sandra menjadi-jadi ketika ibunya bersikekeh untuk merawatnya dilantai dasar. Ayah Sandra pun meminta kepada ibunya agar mengalah saja kepada keinginan putri mereka.


Ibu Sandra sangat kecewa kepada putrinya yang sangat membangkang. Ia pun pergi dari hadapan mereka, sedangkan Sandra langsung menuju kekamarnya diikuti ayahnya Sandra mengantar putrinya tersebut.


-


Ibu Sandra berada didalam kamar. Ia menangis sambil menatap lekat poto dirinya, suami, berserta anaknya. Ia memeluk poto tersebut ia mengenang kehangatan pada saat poto itu.


Entah apa yang terjadi, ia mengingat seseorang yang ia jumpai belakangan hari ini. Seseorang yang baik, sopan, dan ramah.


"Kania."


Ya, ibu Sarah adalah wanita yang dijumpai oleh Kania beberapa waktu yang lalu.


Ibu Sarah mengambil sebuah kunci dilaci nakasnya dan membuka lemari lalu mengambil sebuah kotak berukuran sedang dan menempatkannya di pangkuan ketika duduk di atas ranjang.


Ia mengambil sebuah kaos kaki, baju, dan topi bayi dari dalam kotak tersebut. Ia memeluk lalu, memegang benda-benda tersebut sambil menangis.


"Maafkan ibu nak, ibu merindukanmu. Pasti kamu sudah dewasa sekarang kan?. Hicks hicks hicks."


Ayah Sandra masuk kedalam kamar dan mendapati istrinya sedang bersedih. Dilihatnya barang-barang tersebut.


Ibu Sandra yersadar akan kehadiran suaminya. Ia pun menangis, dan memeluk erat tubuh suaminya itu. Seperti tersirat perasaan bersalah dalam diri ayah Sandra. Ia pun membalas pelukan istrinya sambil menenangkannya.


"Ibu, merindukannya yah. Sangat merindukannya."


"Tenanglah bu, ayah juga sangat merindukannya."


"Apakah, kita bisa menemuinya? saat ini pasti umurnya sudah cukup dewasa. Ibu tau ini sangat terlambat, setidaknya kita berusaha yah."


"Bu, ayah tau ibu sangat merindukan putri kita. Tapi, perlu banyak pertimbangan untuk berkunjung."


Ibu Sandra mengangkat badannya dari pelukan suaminya.


"Ini, sudah terlalu lama yah. Apalagi sekarang? sudah terlalu lama ibu menunggu hari dimana ibu bisa memeluk, mencium, dan mengelus rambutnya. Ibu sudah tidak tahan lagi. Besok ibu akan pergi menemuinya."


"Ibu! dengarkan ayah. Ibu tidak akan pergi sendirian ayah akan ikut bersama ibu. Ayah tidak ingin, ibu pergi sendiri seperti waktu itu."


"Baiklah yah."


"Tetapi, tidak besok ya bu!"


"Kenapa?"


"Ayah, perlu mengatur jadwal. Ibu juga kan? kita harus mengatur jadwal kita dulu lalu kita pergi menemuinya. Ayah janji, kita akan berangkat dalam waktu dekat ini. Tapi, ibu harus berjanji akan mengatur waktu dalam waktu dekat ini."


"Baiklah yah, ibu setuju."


Ayah Sandra mencium kening ibunya dengan sangat lembut.

__ADS_1


__ADS_2