Kenan Dan Kania

Kenan Dan Kania
Apa? Dedek Bayi!


__ADS_3

Hai, sobat ini request an nya dari sobat 'K&K' Author senang banget, walaupun sebenarnya agak susah buat author bikin episode double up dengan segala aktivitas. Tapi, Author belain untuk kalian para pembaca setia 'K&K' dan buat yang udah memberikan dukungannya buat Author Terimakasih, senang banget. Walaupun banyak yang baca tapi sedikit yang nge like, ngak apa. Author tetap bersyukur kok. hehhe


Langsung aja, Selamat membaca dan jangan lupa untuk tinggalin jejak ya. Yang udah dukung Author. Author selalu follback buat siapapun orangnya yang udah ngedukung. Sebagai ungkapan terimakasih Author.


-


#Sebelumnya


"Baik kakak ku. Bagaimana dengan kak Kenan?" Tanya Cantika.


"Baik Can, Darta?"


"Baik kak, dia sekarang sedang training karna dia akan segera dijadikan ahli waris dari perusahaan Naka. "


"Waw, selamat ya buat kalian. Bagaimana dedek nya?"


"Tara...." Menunjukkan tubuhnya yang sednag hamil 6 bulan.


"Wuah, sudah berapa bulan Can?"


"6 bulan kak. Bentar lagi, pokoknya kakak harus datang ya."


"Kakak usahakan ya Can. Soalnya ngak mungkin seenaknya kakak minta izin kan. "


"Ngak mau tau, Cantika lahiran kakak hatus datang. Cantika bejek bejek tu kak Kenan kalau ngak bisa buat kak Kania kemari. "


"Hahah, masih sama ya. "


"Hahaha. Oh, iya kak. Bagaimana kakak dan kak Kenan sudah uwu uwu kan?"


"Uwu, uwu apa itu?"


"Ya, ampun kak. Kak Kania belum pakai lingerie yang Cantika berikan? "


"Lingerie?"


Feren dan Jeje terkejut, mendengar pembicaraan Cantika dan Kania.


"Untuk apa kamu Kan lingerie itu?" Tanya Jeje


"Ngak tahu, emang apaan sih itu?"


"Kakak bicara dengan teman-teman kakak ya."Tanya cantika


"iya, namanya Jeje dan ini Feren" jawab Kania sambil mengarahkan Vc nya kepada mereka


"Hai" kompak


"Hai, juga teman kak Kania. "


"Ini lingerie" Feren menunjukkannya di hp kepada Kania.


"What, astaga jadi pakaian itu dari mu Cantika."


"Iya, dong kak. Biar cepat nyusul Cantika dapat dedek bayi. "


"Apa? dedek bayi." Feren dan Jeje terkejut


-


"Hem, Jadi seperti itu toh." Jawab Feren setelah mendengarkan perjalanan singkat kehidupan Kania.


"Berat juga jadi kamu ya Kan, menikah karna perjodohan. Masih ada gitu, aku salut banget."

__ADS_1


Jelas Jeje


"Ya, ngak segampang itu memang. Tapi, setelah dijalani juga terlewatikan."


"Terus bagaimana dengan suamimu saat ini, apakah kalian sudah saling mencintai satu sama lain?" Tanya Feren penasaran.


"Hem, dia..... dia..... "


"Dia apa Kan? yang jelas dong ngak usah bikin kami penasaran begitu."


"Ya, Dia sudah berkata sih kalau dia mencintaiku."


"Waw, terus terus kamu?"


"Aku tidak tahu, yang jelas aku selalu ingin bersamanya."


"Wah wah wah, kamu memang polos banget Kan, soal percintaan. Pasti kamu belum pernah merasakan namanya jatuh cintakan?"


"Emang jatuh cinta itu seperti apa?"


"Kalau makan selalu ingat dia, tidur ingat dia, mandi, ingat dia. Semuanya aktifitas dikepala itu tentang dia dia dan dia. Kalau dekat dia jantung berdebar debar, setiap hari mati karna merindukan dia." Ya begitulah orang jatuh cinta."


Kania, menarik napasnya dalam dalam untuk menenangkan hatinya.


"Kamu kenapa Kan?"


"Sepertinya, aku sudah jatuh cinta padanya."


"Benarkah? Wah, bagus dong jika seperti itu."


-


Kania menunggu Kenan di pintu masuk bersama teman-temannya yang sudah kepo melihat wajah suami Kania.


"Kita pulang?" Teman-teman Kania terpelongok melihat pesona dan kharisma yang dimiliki seorang Kenandri Ganendra.


"Iya, hem Ken. Perkenalkan ini."


"Feren, dan ini pasti Jeje. Benarkan?" Kenan menebak lalu mengulurkan tangan.


"Iya benar, salam kenal." Serentak.


"Darimana kamu tahu kami?." Jeje bertanya


"Istriku, ini selalu bercerita tentang apapun kepadaku. Jadi, ya aku pun tau dan mengenal kalian sekali kita bertemu."


"Btw, kak Kenan tadi pagi pergi ke kampuskan? kalau ngak salah ke arah ruangan rektor. " Tanya Feren.


"Iya, benar."


"Kamu sudah berjumpa dengan kak Kenan, Ren?" tanya Jeje.


"Yang, tadi pagi kubilang itu loh. Pangeran, asupan pagi." Tersenyum


"Hem, pantasan lah kamu bilang asupan pagi. Memang asupan kok ini. Hehe ups, maaf ya Kania aku tidak bermaksud." Maaf Jeje.


"Kalau kak Kenan yang dijodohkan samaku sih aku juga ngak nolak. Kamu beruntung banget sih Kan." Jawab Feren santai.


"Hus, udah punya Kania itu Ren jangan berani berani kamu ya. Maaf ya kak Kenan, Kania." Maaf Jeje kembali


"Ngak apa kok. Santai, kalau bisa memilih pada waktu itu aku pasti tidak akan memilih dia sebagai perjodohanku. Aku tidak menyukai sebuah perjodohan."


Feren, Jeje dan Kenan hening seketika. Kenan menatap Kania dengan perasaan yang teramat sedih dan kecewa.

__ADS_1


"Kalau begitu apakah kita bisa pulang sekarang" Tanya Kania memecah keheningan.


"Ya, kami juga harus ke toko buku itu Kania. Sama seperti yang dikatakan ibu oerpus tadi."


"Maaf, ya aku ngak bisa nemanin. "


"Tidak apa, sampai dirumah hubungi kami ok."


"Baiklah da!"


"da!"


"By, kak Kenan." Ucap Feren.


"By."


Jeje memiting kepala Feren dan mendumel karna berani menggoda Kenan dihadapan Kania.


-


Didalam mobil Feren menuju toko buku.


"Kamu gila ya Ren, masih bisa menggoda kak Kenan dihadapan Kania. Ingat dia suami kak Kania."


"Aku tahu, Je. Gila apa aku mau merebut kak Kenan dan kak Kania."


"Terus, kenapa kamu selalu menggodanya?"


"Pada saat kak Kenan membuka kacamatanya, mata kak Kenan itu jelas banget mencintai kak Kania dengan sungguh."


"Terus?"


"Aku hanya ingin membuat kak Kania memantabkan hatinya mencintai kak Kenan."


"Hem, dengan perasaan cemburu."


"Ya, pintar sekali."


"Hem, baguslah bagus."


Info: Diawal pertemanan, Feren dan Jeje selalu memanggil kakak kepada Kania. Karna, merasa panggilan itu tidak meng-akrabkan mereka. Akhirnya Kania meminta, untuk memanggilnya dengan sebutan nama.


-


Kania dan Kenan telah tiba di Apartemen. Sepanjang jalan menuju Apartemen, Kenan dan Kania tidak sekalipun memecah kehrningan mereka. Mereka sibuk dan bergelut pada pemikiran mereka masing-masing.


Kania membersihkan diri lalu menyiapkan makan siang. Sedangkan Kenan, membereskan berkas yang akan dibawanya ke kantor.


Kenan telah selesai merapikan berkasnya lalu mengambil kunci mobil yang ia letakkan di atas meja untuk pergi ke kantor cabang kembali.


Kania yang sedang menyiapkan makan siang dan tanpa sengaja melihat aksi Kenan. Langsung menahannya.


"Kamu mau kemana?"


"Ke kantor lagi."


"Kamu, sudah makan?"


"Belum."


"Kalau begitu, mari kita makan."


"Tidak Kania, kamu saja ya. Aku tidak lapar. By, aku pergi."

__ADS_1


"Iya, hati-hati Ken." Jawab Kania lesu.


__ADS_2