Kenan Dan Kania

Kenan Dan Kania
KANIA ANAKKU


__ADS_3

Sebelumnya


Kediaman Cahyono


Ibu Sandra serta beberapa pekerja dirumahnya sedang sibuk merapikan sebuah gudang di halaman belakang rumahnya.


“Bibi, ini tolong dibuang saja semua kardusnya. Ngak usah ditumpuk begini, hanya memenuhin tempat saja.”


Selanjutnya


“Baik nyonya.” Pekerja tersebut langsung melaksanakan perintah dari majikannya


 Beberepa menit telah berlalu begitu cepat dengan rasa lelah yang telah menghampiri Ibu Sandra.


“Ya, ampun. Banyak banget barang-barang ini.” Ibu Sandra bercekak pingang dan menghela napasnya dengan berat.


Ia menatap kesemua arah penjuru ruangan melihat seberapa banyak lagi tenaga yang akan dikeluarkannya. Ia pun memulai kembali aksinya untuk merapikan tempat itu  dari sebuah tumpukan buku yang sudah cukup usang, mungkin itu punya suaminya terdahulu.


Dipertengahan aksinya ia mendapatkan sebuah kotak berukuran sedang dengan pita pink diatasnya. Sebuah kotak yang sangat indah. Tapi, entah mengapa ketika melihat kotak tersebut hatinya berdesir hebat dan wajahnya memucat. Ia, mengambil kotak tersebut dan membawanya masuk kedalam kamarnya.


“Bi, saya tinggal dulu ya.” Ungkap Ibu Sarah dalam ketegangannya.


“Baik nyonya.” Balas pekerjanya


“Apakah ibu baik-baik saja bi?” Tanya tukang kebun


“Saya kurang tahu mang, saya juga heran mengapa nyonya begitu terkejut melihat kotak tersebut.”


“Mungkin, ada sesuatu didalam kotak itu bi.” Tukang kebun


“Sudalah bukan urusan kita. ayo kita kerja lagi biar cepat kelar.” Jawab bibi


“Baik bi.” Tukang kebun


Ibu Sandra dengan tergesa-gesa sambil membawa kotak tersebut menuju kamarnya. Sesampainya di kamar ia menutup pintu, dan duduk di atas ranjang-nya. Airmatanya lolos begitu saja dipelupuk matanya. Ada rasa, sedih, menyesal, dan takut disana. Ia mengumpulkan keberanian untuk membuka kotak tersebut, menghela napasnya, menyeka air matanya, lalu membuka kotak tersebut.


Sebuah lampin kecil berwarna biru bercorak bunga-bunga dengan kain yang halus dan lembut, serta kaos kaki rajutan berwarna pink senada dengan warna topi rajutan bertuliskan nama Kania Cahyono. Tangan ibu Sandra bergetar ia mengambil isi di dalam kotak tersebut dan mencium serta menangis tersedu-sedu didalam sana.


Ia mengingat kembali memori ketika ia harus memilih antara anak dan suaminya.


Flashback


Sarah Putri Amonade salah satu wanita yang banyak digemari kaum adam dikampus karna paras dan kepribadiannya yang terkenal baik, ramah, dan lemah lembut. Walaupun seperti itu Sarah tidak pernah menanggapi pria yang selalu mencoba untuk mendekatinya. Ia sangat focus dengan pendidikan yang sedang ia jalani. Sampai pada ditahun ketiga tingkat lima ia jatuh cinta dengan seorang pria bernama Adipra Cahyono seorang mahasiswa Magister. Hingga akhirnya mereka pun berpacaran, cinta mereka sangat dalam hingga akhirnya mereka


terjerumus pada hubungan berpacaran yang bebas. Hari kelulusan untuk Sarah pun tiba kakek Koba, dan paman Ray datang dengan sangat bahagia. Sarah terlihat cantik dan anggun, setelah acara wisuda telah selesai dan sesi poto berakhir.


Cahyono datang menemui Sarah dengan wajah yang sulit diartikan. Cahyono memberi isyarat kepada Sarah untuk menemuinya di ujung koridor utama. Sarah pun berpamitan untuk pergi ke toilet sebentar.

__ADS_1


“Sarah.”


“Ada apa Di? Mengapa wajahmu sulit diartikan seperti itu?”


“Kamu Cantik!” Sarah tersenyum bahagia atas pujian dari sang kekasih. Tetapi, seketika wajahnya berubah menjadi serius.


“Ada yang ingin aku katakan.” Ia meraih dan mengenggam tangan Cahyono.


“Aku juga.”


“Kalau begitu kamu dahulu.”


“Kamu, saja duluan.” Cahyono tidak ingin membuat Sarah menjadi sedih atas kabar kurang baik yang akan dia katakana.


“Aku…… Aku…. HAMIL!”


JEDUAR. Perasaan Cahyono bercampur aduk, antara senang, sekaligus sedih. Apa yang harus ia lakukan? apa yang harus ia perbuat?. Sarah yang melihat perbedaan raut wajah Cahyono menjadi sedih.


“Kenapa? Kenapa reaksimu seperti itu?” Tanya Sarah menuntut.


Cahyono mengelap wajahnya dengan kasar.


“Aku bingung Rah.”


“Bingung kenapa? Apakah kamu tidak menginginkan anak ini? Darah daging kamu? Buah cinta kita?” Sarah sedikit emosi karna Adi yang seperti pria tidak bertanggung jawab. Ia melepas genggaman tanganya


“Terus?”


“Rah, cita-cita ku sudah didepan mata. Aku mendapat beasiswa di universitas XZXZ terbaik didunia untuk gelar Doktor ku akan terwujud. Dan aku juga mendapatkan tawaran pekerjaan di salah satu perusahaan terbaik di dunia. Impian ku di depan mata Rah”


“Kalau begitu bagaimana dengan anak ini?” Mata mereka saling beradu


Sejenak Cahyono seperti menimbang dan memikirkan caranya. Dan kata yang tak diharapkan pun lolos begitu saja.


“Kita GUGURKAN saja, bagaimana?


JEDUAR. Kali ini Sarah yang mendapatkan suara itu. dia tidak habis piker bagaimana pria yang ia cintai begitu kejam terhadap dia dan calon anaknya.


BUGH… Cahyono ambruk ditempat ketika kakek KOBA memukulnya dengan sangat keras beberapa kali. Untung saja paman Ray menahan ayahnya itu kalau tidak bisa-bisa Cahyono bisa mati ditempat.


“Kau, bajingan. Berani sekali kau merusak putriku ha?” Sarah yang ketakutan langsung ikut menahan ayahnya


“Ayah, jangan ayah dia tidak bersalah. Kami melakukannya karena kami saling mencintai.”


Sorot mata Kakek KOBA tajam seperti pisau ketika melihat putri kesayangannya itu mengatakan hal senaif itu. tampak kekecewaan yang mendalam terhadap putrinya tersebut.


Kakek Koba menarik tangan putrinya secara paksa dan meninggalkan Cahyono yang terkulai tak berdaya.

__ADS_1


Beberapa Bulan kemudian


Seorang bayi perempuan lahir dengan normal di rumah kediaman keluarga Amonade. Sarah melihat putri kecilnya itu dengan perasaan senang dan haru. Ia mengecup perlahan pipi gembul bayi tersebut. Setelah beberapa hari pasca melahirkan terdengar suara gaduh di halaman rumahnya. Sarah yang sedang memilih kaos kaki, topi dan kain untuk putrinya di ruang setrika berjalan menuju halaman depan sambil membawa kaos kaki, topi, serta kain yang sudah dipilihnya.


Ia melihat Cahyono yang sedang dihajar habis oleh para asisten kakek Koba langsung menghalau mereka dan menghampiri Cahyono yang babak belur.


“Kau tidak apa- apa?” Cahyono tersenyum bahagia melihat kekasih hatinya tersebut.


“Sarah masuk!” Perintah Cahyono


“Ayah….”


“Masuk! Ray bawa adikmu masuk!”


“Tidak, ayah ayolah kenapa harus seperti ini. Kita bisa bicarakannya dengan kepala dingin kan?”


“Aku tidak akan sudi berbicara kepala dingin dengan pria Brengsek ini!. Ray bawa adikmu masuk. SEKARANG!” dengan nada yang meninggi


“Ayah…. Ayah…. Tidak Ayah!!!” Sarah berusaha untuk melepaskan diri dari abangnya


“Sarah, maafkan aku, aku datang untuk menjemputmu. Sarah aku mencintaimu, aku tidak bisa hidup tanpamu! Uhuk uhuk.” Adi mencoba sekuat tenaga untuk menjelaskan kedatanganya


“Apa? Sekarang kamu bilang mencintainya, tidak dapat hidup tanpanya? Setelah kau membuangnya dan ingin mengugurkan anaknya. Terus kau datang dengan seenaknya?” Kakek Koba mendekat dan mengambil kayu untuk memukul Cahyono.


Tetapi ketika kakek Koba malah melepaskan pukulan keras tersebut kepada putri kesayangannya yang telah melindungi diri untuk kekasihnya tersebut.


Kakek Koba terkejut, karena ini pertama kalinya ia berbuat kasar pada putrinya tersebut.


“Ayah, maafkanlah Adi.” Kakek Koba melihat kearah Adi dan semakin bencilah ia terhadap kekasih putrinya tersebut. Kakek Koba


berdiri.


“Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memafkannya. Sarah kau benar-benar mengecewakan ku. Sekarang keputusan ada di tanganmu, pilihlah kau ingin hidup bersama pria itu, atau kau putrimu?”


“Ayah, tidak ayah. Jangan seperti ini. Aku tidak akan bisa memilih diantara mereka berdua.”


“Pilihlah! Kau tahukan aku tidak pernah main- main dengan perkataanku? Jadi pilihlah.”


Sarah terdiam, ia melihat kearah Cahyono, dan melihat kearah jendela dimana putrinya tertidur. Sebelum ia memantabkan keputusannya ia menitikkan air mata.


“Aku memilih ADI”


Kakek Koba menoleh karena tak percaya, begitu juga dengan paman Ray.


“Mulai sekarang kau bukan putriku lagi! Segala bentuk ikatan apapun aku tidak punya denganmu. Putri ku sudah mati, mati bersama ibunya ketika melahirkan. Pergi dan jangan pernah menunjukkan wajah kalian lagi dihadapanku dan ingat jangan pernah temui KANIA lagi. Karena dia adalah Putri Amonade keluarga Amonade. Mengerti! Ray suruh mereka pergi dari sini.”


Dengan berat hati Ray pun mengusir adik kesayangannya itu.

__ADS_1


__ADS_2