
Kania masuk ke dalam kamar, dan menghempaskan dirinya ke atas kasur sambil menutup wajahnya dengan bantal kepalanya. Kenan masuk dilihatnya Kania yang sedang menangis dibalik bantal. Ia pun duduk di samping ranjang sambil meminta maaf.
"Ma... maafkan aku Kania. Aku tidak ber....." Belum sempat Kenan berhenti berbicara, Kania bangkit berdiri sambil mengusap air matanya.
Ia pun mengambil kopernya lalu menyusun pakaian miliknya dari lemari.
"Apa yang kau lakukan Kania? aku.... aku tidak bermaksud apapun tadi." Kenan beranjak dari duduknya sambil menghentikan Kania tetapi, Kania tidak menghiraukannya sama sekali.
Melihat Kania yang sedang berbalut emosi, Kenan membentak kania sambil menguncangkan tubuhnya.
"KANIA." Mata mereka beradu satu sama lain.
Tangis kania pecah seketika, Kenan yang begitu pilu melihat Kania, langsung meraih tubuh Kania dalam dekapannya. Kenan mengelus rambut Kania begitu lembut membuat ketenangan jiwa yang dirasakan oleh Kania.
Kenan mengarahkan tubuh mereka untuk duduk di sofa, hingga Kania tertidur dalam dekapan Kenan. Setelah di pindahkannya Kania ke atas tempat tidur, Ia pun pergi untuk makan malam. Dalam perjalanan menuju dapur, dilihatnya kakek yang berjalan ke arah ruang baca rumahnya.
Kenan memangil kakek lalu mengajak kakek untuk makan malam. Di tatapnya wajah kakek yang begitu sangat sedih. Ia pun mengerti pasti sesuatu telah terjadi dirumah. Ketika kakeknya menolak dan memilih untuk melanjutkan jalannya ke ruang baca, Kenan mengikuti langkah kakek.
Kenan berpura-pura untuk membaca mencari celah untuk kakek bercerita. Seperti biasanya, Kenan memang selalu bisa untuk membuat kakeknya itu mengungkapkan perasaannya. Perasaan Kenan bercampur aduk, ia berpura-pura membaca buku untuk tidak memperlihatkan perasaannya kepada kakek.
*
Kenan duduk di sebelah sisi ranjang Kania menggunakan kursi rias. Ditatapnya lekat wajah Kania, ada perasaan kecewa, marah, sedih, dan takut. Beberapa kali ia memijat kening dan mencubitnya, hingga Kania tersadar dari tidurnya.
Dilihatnya Kenan yang sedang memijat kening sambil memejamkan mata.
"Kau lelah, kenapa tidak berbaring?" Kenan menoleh ke arah Kania.
"Kau sudah bangun? ayo, kita makan." Kenan beranjak dari kursinya dan membantu Kania untuk bangun.
"Jam berapa ini? kenapa kau belum makan?" Tanya Kania.
Kenan hanya diam dan mengenggam tangan Kania menuntunya ke arah dapur. Kania hanya pasrah mengikuti langkah Kenan. Ini memang bukan pertama kali Kenan memasak untuknya tetapi, perasaan Kania sungguh amat bahagia. Apalagi, Kenan memasak tepat dihadapannya.
Kenan yang merasa diperhatikan sejak sedari tadi, merasa sedikit canggung.
"Jangan memandangiku seperti itu, kamu tidak takut jatuh cinta padaku?"
__ADS_1
"Emangnya kamu tidak mau jika aku jatuh cinta padamu?" sambil mengaduk-aduk nasi yang telah di hidangkan oleh Kenan.
Kenan mengehentikan pekerjaannya, lalu mempersiapkan hidangan utama mereka diatas meja.
"Ayo, makan. Aku sudah sangat lapar." Kenan mengambil hidangan utama dan meletakkannya pada piring Kania.
"Aku, tidak pernah menyangka kau mempunyai sisi sebaik dan selembut ini." Gumam Kania dalam hati sambil tersenyum kepada Kenan.
"Wah, apakah sekarang kau sedang tidak waras?"
"Maksudmu?"
"Lihat dirimu, kau tersenyum memandangiku."
"Emangnya jika aku tersenyum memandangmu itu tidak waras apa?"
"Makanlah, keburu dingin." Kenan mengakhiri perdebatan mereka, jika tidak itu akan semakin panjang.
"Kakek, dan ayah sudah makan?" Tanya Kania.
Kenan berhenti seketika, ia tahu pasti saat ini Kania merasa cemas, dan bersalah kepada keluarganya.
*
Mereka telah selesai makan dan kembali ke kamar. Kania berdiam diri diluar balkon kamarnya, sedangkan Kenan sedang sibuk merapikan berkas yang akan dibawanya besok di ruang kerja. Setelah itu Kenan keluar lalu matanya menemukan Kania yang berdiri di luar balkon. Di hembuskan napasnya dengan kasar, Kenan membuka lemari mengambil sebuah selimut lalu memberikannya kepada Kania.
"Kenapa disini? ini sudah malam ayo kita masuk!." Sambil melilitkan selimut pada tubuh Kania.
"Ken, ada yang ingin aku bicarakan." Kania menatap Kenan dengan serius. Mereka pun duduk di kursi Balkon.
Kania mengumpulkan keberanian untuk berbicara kepada Kenan. Ia pasrah jika Kenan juga akan marah dan kecewa padanya. Sebisa mungkin ditahannya tangisan dan menceritakan semua yang terjadi kepada Cantika. Kenan sedikit pun tidak bergeming untuk menatap Kania. Dilihatnya tatapan penuh penyesalan yang tulus dari Kania.
"Ken... hicks... hikcs.... dari hati ku yang paling dalam. Hicks, hicks... sedikitpun aku tidak ingin membohongi kalian, Aku hanya ingin Darta dan Cantika siap untuk memberitahukannya." Kania memegang tangan Kenan sambil tertunduk menangis. Kenan hanya membalas dalam diam dan memeluk kania dalam dekapannya.
Kenan, bergelut dalam pikirannya sendiri.
"Aku, tau kania kau tidak mungkin ingin membohongi kami. Kau gadis yang baik, aku melihat ketulusan dalam setiap perbuatanmu pada keluarga kami. Kau telah membuat pengorbanan yang besar dengan menyerahkan hidupmu padaku. Aku kecewa, dan terluka padamu, karna kau tidak memberitahukan apapun padaku tentang Cantika adik perempuan yang sangat kami sayang. Ingin sekali aku marah, marah padamu. Entah kenapa melihatmu pilu seperti ini membuatku lebih terluka lagi. Sakit Kania, ini lebih dari kata menyakitkan." Gumam Kenan dalam hati hingga meneteskan air mata dalam dekapannya yang erat pada Kania.
__ADS_1
Kania salah mengartikan pelukan Kenan yang sangat erat, pelukan itu membuat dirinya ketakutan. Ia pun meminta maaf kepada Kenan.
"Maafkan aku Ken, tolong maafkan aku........" Tangis Kania pun pecah.
"Hei, hei hei. Kenapa tangismu semakin pecah? jangan menangis Kania kumohon. Ini membuatku lebih sakit lagi."
"Aku takut, karna kau sangat marah padaku?"
"Marah? akukan dari tadi diam terus kenapa kau menyimpulkan marah."
"Karna, kau mendekapku sangat erat tadi?"
"Hahahahahah, dasar kau ini. Aku hanya melampiaskan emosiku yang bercampur aduk padamu." Sambil menghapus air mata Kania di pipi.
Karna hari semakin malam dan udara semakin dingin, Kenan mengajak Kania untuk masuk ke dalam kamar.
"Ayo, kita masuk. Hari semakin malam, dan udaranya juga semakin dingin. Entar masuk angin lo, kamu mau aku repotkan lagi jika, aku sakit? hem?" Kania menggeleng, mereka pun masuk ke dalam kamar.
"Ken..."
"Ya?..."
"Besok aku akan pergi dari rumah ini." Jelas Kania yang membuat Kenan sontak terkejut.
"Kenapa? Kan, dengar kau harus menghadapi masalahnya bukan kabur seperti ini." Kenan memegang pipi Kania dengan kedua tangannya.
"Aku, tidak kabur Ken." Kania melepas tangan Kenan dari pipinya lalu mengambil koper sambil mengepak bajunya kembali.
"Terus?"
Kania menjelaskan alasanya pergi dari rumah karna itu adalah permintaan kakek agar memaafkannya. Kenan terduduk lemas sambil memperhatikan Kania yang sibuk merapikan pakaiannya.
"Kenapa lemas seperti itu? bukankah itu baik, kau bisa mencari istri yang baru." Goda Kania.
Melihat istrinya sedang menggoda dirinya, Kenan pun tersenyum sinis lalu membalas godaan Kania.
"Iya kau benar juga, kenapa tidak terpikirkan olehku. Hem, siapa ya kira-kira akan ku jadikan calon?." Pura-pura berpikir sambil memegang dagunya. Lalu melirik Kania sembunyi-sembunyi.
__ADS_1
"Silvannya? atau Jeni? oh, tidak si Clara saja wanita yang seksi, dan cantik. Bodynya ya ampun brghhhh." Sambil bergidik.
Kania menatap Kenan dengan tatapan membunuh, rahangnya mengeras karna geram mendengar perkataan Kenan yang mengagumi wanita lain dihadapannya.