Kenan Dan Kania

Kenan Dan Kania
Kegundahan


__ADS_3

#Sebelumnya


Kania yang mengerti jika saat ini Kenan tidak dapat diganggu, langsung meninggalkan Kenan. Kania membersihkan semua makanan diatas meja dan sebagian dibuang karna tidak dapat disimpasn kedalam kulkas. Sungguh pada saat makanan itu terbuang hati Kania sungguh teriris. Ia merasa di luar sana masih banyak orang yang membutuhkan makanan. Tetapi, ia malah dengan gampang membuangnya.


#Selanjutnya


Kenan bangun dari tidurnya, waktu telah menunjukkan pukul 5 pagi. Dilihatnya Kania tertidur dengan pulas seperti kelelahan. Diselimutinya Kania lalu dikecupnya kening Kania. Ada rasa rindu ingin mendekap Kania, pada saat ia pulang dari kantor. Tetapi ia marah besar kepada Kania, tanpa Kania sadari.


-


Pada saat di kampus:


"Ngak apa kok. Santai, kalau bisa memilih pada waktu itu aku pasti tidak akan memilih dia sebagai perjodohanku. Aku tidak menyukai sebuah perjodohan." Jelas Kania


Hati Kenan hancur seketika, ia merasa jika Kania memang belum menerima pernikahan mereka. Hingga ia tidak menyukai sebuah perjodohan dengannya.


Disepanjang perjalanan pulang ke apartemen mengantarkan Kania. Kenan berkutat dengan pemikiran yang sebenarnya sudah membuat dirinya merasa tertekan.


Sesampainya dirumah, sebenarnya Kenan ingin sekali makan siang bersama Kania. Tetapi, hatinya terlalu sakit untuk bisa bersikap baik-baik saja dihadapan Kania. Lalu memilih pergi kembali ke kantor tanpa makan siang.


Sepanjang Kenan bekerja, pikirannya tidak fokus. Ia melampiaskan semuanya itu pada pekerjaan. Ia memang profesional, sekalipun ia melampiaskannya dengan bekerja tanpa henti tapi, tetap fokus terhadap apa yang ia kerjakan. Beberapa kali ia memperistirahatkan diri. karna pikirannya selalu melenceng dari hatinya yang sakit mendengar perkataan Kania.


Akhirnya karna tidak dapat membendung apapun. Kenan memilih pulang, sesampainya didepan pintu. Ingin sekali Kenan mendekap istrinya, mencium keningnya, membelai rambut panjang Kania, dan menjawab pertanyaannya dengan lembut. Tapi semuanya kalah dengan rasa sakit dan ucapan ketidakterimaan Kania pada pernikahan mereka. Akhirnya, ia pun mengabaikan Kania.


Beberapa kali Kania berbicara padanya, rasa marah itu sungguh membesar didada. Untung saja Kania mengerti dan pergi ketika Kenan mengalihkan posisi tubuhnya dari diri Kania.


-


Kenan yang asik berjalan pagi di sekitar apartemen. Bertemu dengan tetangganya.


"Bapak Kenan, suaminya bu Kania ya?"


"Iya, pak."


"Kebetulan ya bertemu disini."


"Bapak pengusaha sukses yang mendikari sendiri membuat usaha tanpa bantuan keluarga bapak kan."


"Ya, begitulah pak."


"Bapak adalah inspirasi saya loh."

__ADS_1


"Benarkah? sepertinya kamu masih muda. Apa yang kamu kerjakan saat ini?"


"Saya masih muda pak, tapi saya sudah menikah. Umur saya sama dengan ibu. Saat ini saya mengurus perusahaan ayah saya sih pak. Ya, saya memang tidak seberani bapak. Tapi saya memulainya dengan bekerja di perusahaan ayah saya, dan rencananya setelah mendapat ilmu serta pengalaman yang cukup saya ingin membuka usaha sama seperti bapak."


"Bagus, bagus saya mendukung anda. Istri masih muda kalau begitu?"


"Tidak pak, istri saya 5 tahun diatas saya."


"Hem, jauh juga ya. Dijodohkan?"


"Tidak, saling mencintai."


"Baguslah, saya senang mendengarnya."


"Emang kenapa pak?"


"Tidak, tidak ada apa apa."


"Jam berapa semalam bapak pulang? istri bapak setia banget menunggu hingga beberapa kali keluar masuk dari apartemen bapak."


"Menunggu saya? diluar pintu apartemen kami?"


"Iya, pak. Saya menyapa ibu, Karna kebetulan saya dan istri sedang menyusun barang masuk pindahan."


"Baru kemarin malam pindahannya pak."


"Hem."


"Bapak dan ibu pasti saling mencintai satu sama lain dan ngak terpisahkan heheh" Kenan membalas dengan senyuman terpaksa. Ia bahkan tidak mengerti tentang perasaan istrinya saat ini.


-


Bunyi pintu apartemen terdengar terbuka. Kania menoleh kepada Kenan, begitu juga dengan Kenan yang masuk dari arah pintu. Kecanggungan pun terjadi diantara mereka.


Kania mempersiapkan makanan, sebelum itu ia telah membersihkan rumah dan menyiapkan keperluan Kenan dengan baik. Kania merasa senang melakukan kegiatan yang sudah menjadi kebiasaannya dahulu.


Kania masuk kedalam kamar lalu membersihkannya. Kenan keluar dari kamar mandi dengan celana kain berwarna abu-abu tanpa memakai kaos singlet yang memamerkan roti sobek miliknya, sambil memakai handuk untuk mengeringkan kepalanya agar segar.


Mata mereka sekilas bertemu kembali, dengan tergesa-gesa mereka mengalihkan pandangan tersebut... CANGUNG WEH....... CANGGUNG!!!!!! heheh


Kania mengambil handuk miliknya lalu masuk ke kamar mandi untuk bersiap-siap pergi ke kampus.

__ADS_1


Kania telah selesai, ia keluar dari kamar mandi dengan kemeja bercorak kotak-kotak yang didominasi biru dan celana jeans biru gelap. Kania keluar seperti menahan kesakitan, ia memegang perutnya dibagian lambung. Ya, pasti asam lambung Kania kumat, karna dari siang hingga malam ia belum makan.


Kenan menunggu Kania di atas meja makan yang telah tersedia sarapan untuk mereka. Kania keluar dari kamar dengan tidak memperdulikan rasa sakitnya.


Kania mengambil bubur dan memberikannya kepada Kenan. Kenan terkesima melihat menu makanan favoritnya ada diatas meja. Ia pun mengambilnya lalu mencampurkannya ke dalam bubur.


Kenan yang tidak sabaran akan mencicipi makanan lupa untuk berdoa dan meminum air hangat agar lambungnya tidak terkejut. Dengan sigap Kania menepuk keras lengan Kenan.


Sendok yang segera masuk ke dalam mulutnya terheti, mata Kenan menatap tajam ke arah Kania.


"Jelas sekali kamu lapar, berdoa saja lupa." Jelas Kania


Kenan memimpin doa untuk makan. Setelah itu hal serupa pun kembali dilakukan Kania untuk menghentikan Kenan memasukan makanan ke dalam mulutnya.


"Minum air hangatnya, agar perutmu tidak terkejut." Kenan mengangguk dan meminum air hangatnya, lalu melanjutkan aksinya untuk langsung memakan sarapannya.


Kenan merasa senang karna Kania memperhatikan dirinya. Kenan pun mencoba untuk berbicara tentang kemarin malam.


"Kenapa menungguku hingga keluar masuk apartemen?"


"Darimana kamu tahu?"


"Tetangga yang baru pindahan, aku bertemunya tadi lalu menceritakannya."


"Ohw."


"Ohw, saja?"


"Terus?"


"Kania, aku bertanya kenapa kamu menungguku hingga seperti itu?" Serius


"Memangnya kenapa? Aku tidak boleh menunggumu seperti itu?". Sedikit emosi


"Tidak boleh, bagaimana jika terjadi sesuatu padamu? itu sudah larut malam." Menaikan suaranya sedikit meninggi.


Kania merasa dibentak oleh Kenan langsung melampiaskannya dengan menghentakkan sendok ke atas mangkok dengan kasar. Kania berdiri dan mengeluarkan semua emosinya kepada Kenan.


"Kalau begitu jangan membuatku khawatir, kamu tidak memberitahukanku bagaimana kabarmu, apakah kamu lembur, pulang malam, atau tidak pulang. Apakah kamu tahu, bagaimana kegelisahanku, kecemasanku? tidak kan. Kamu tidak perduli Kenan, sama sekali tidak memperdulikanku."


"Kenapa kamu memperdulikanku? bukankah kamu yang mengatakan jika kamu tidak menginginkanku sebagai perjodohanmu? kamu tidak menyukai perjodohan ini kan? lalu kenapa kamu harus perduli denganku? kenapa? kamu ingin citra baik di hadapanku? kamu ingin aku tergila-gila mencintaimu lalu mencampakkan ku begitu saja? aku tidak menyangka Kania kamu lebih jahat daripada Aira."

__ADS_1


Kenan telah mencurahkan isi hatinya, kegundahan yang dari semalam ia tahan. Air mata Kania lolos begitu saja, mendengar semua isi hati Kenan yang telah menyakiti Kania.


Kania ingin menjelaskan semua tuduhan itu, tetapi ia tak berdaya, ia merintih kesakitan lalu terkulai di lantai. Kenan panik dan langsung membawanya kerumah sakit.


__ADS_2