Kenan Dan Kania

Kenan Dan Kania
Belajar Bijaksana


__ADS_3

Kania menangis sepanjang perjalanan menuju kediamannya, tibalah Kania didepan pintu apartemennya. Ia melihat Kenan yang juga baru saja tiba dari kantor. Dengan perasaan yang ingin menumpahkan segalanya kepada Kenan ia pun langsung berlari dan memeluk Kenan sambil menangis. Kenan melepas tasnya dan memeluk Kania dengan erat.


Seelah beberapa saat Kenan mengajak Kania untuk masuk ke dalam apartemen miliknya. Ia menyuruh Kania untuk duduk di sofa lalu mengambil air minum untuk menenangkan Kania. Kania menggelengkan kepalanya lalu kembali memeluk Kenan.


"Sayang, minum dulu yuk. Biar kamu tenang ya." mengarahkan gelas ke bibir Kania.


Kania pun menurut lalu meneguk air yang diberikan Kenan. Kenan mengelus lembut kepala Kania.


"Bagaimana? Apa ceritanya?" tanya Kenan yang sebenarnya sudah sangat kepooo heheheh....


Kania bercerita dari awal hingga akhir, diiringi dengan kesedihannya. Karna sudah mengetahui perasaan Kania, Kenan kembali memeluk Kania lalu mengecup keningnya.


"Sayang, mungkin belum tepat kalau aku memberikanmu masukan saat ini. Tapi, coba kamu belajar bijaksana dalam permasalahan ini."


"Maksudnya?" tanya Kania


"Posisikan dirimu di tempat mamah Sarah. Jika kakek menyuruhmu untuk memilih antara aku atau anak kita siapa yang akan kamu pilih?" Kania terdiam


"Ngak bisalah mas, aku ngak mau. Aku akan memilih kamu maupun anak kita."


"Nah, itu jawabannya. Begitu juga dengan mamah Satah.Tidak akan ada yang mau diposisi mamah Sarah sayang. Tapi jika itu memang harus terjadi pikirkanlah siapa yang haru kamu pilih. Jika itu terjadi diantara kita, dan aku yang haru memilih antara kamu dan anak kita. Aku pasti akan memilih kamu."


"Secepat itu kamu mengambil keputusan mas? Kamu ngak sayang sama anak kita?"


"Sayang, orang tua mana yang tidak mencintai darah dagingnya? coba tunjukkan padaku." Kania menatap Kenan


"Orangtua yang ngak waras." jawab Kania


"Menurutmu aku waras atau tidak?"


"Waras!" Acuh Kania di tanggapi dengan senyuman Kenan. "Terus kenapa kamu lebih memilih aku ketimbang anak kita?"


"Karna seluruh hidupku ini tentangmu. Kau hidupku Kania Amonade Ganendra." Kania membawa Kania kedalam dekapannya. "Entahlah aku sudah terlalu bergantung kepadamu Kania. Hingga aku pun takut jika kau meninggalkanku. Aku berdoa kepada Tuhan, biarlah aku yang duluan pergi ketimbang dirimu." Kania mengangkat wajahnya dan melihat kedalaman mata Kenan. "Kau Nafasku Kania, seperti itulah yang dirasakan oleh papa dan mama, buktinya papa yang semula memilih untuk mengejar impiannya malah memilih kembali bersama mama ya walaupun kesalahan papa sangat fatal sekali." Kania menghela napasnya lalu mendekap kembali kepelukan Kenan. "Jika kita hanya melihat pada satu posisi kita hanya bisa stuk dan menyalahkan saja. tapi jika lihat dari berbagai posisi kita akan sadar bahwa semuanya tidak ada yang benar dan yang salah. maka kita bisa melihat bahwasanya permasalahan ini adalah pengalaman untuk mendewasakan."


-


Kenan keluar dari kamar mandi sambil mengelap kasar rambutnya. Ia melihat kania yang tampak murung di depan cermin.


"Istri siapa sih yang duduk di depan kaca itu, jelek banget." Ejek Kenan.


"Istri Kenandri Ganendra." Kania menjawab dengan ketus sambil mengambil sisir.


Kenan mendekat lalu mengambil sisir tersebut dan menyisir rambut Kania.


"Sayang...."


"Hem....."

__ADS_1


"Aku tahu bagaimana caranya supaya kamu ngak badmood lagi."


"Bagaimana?"


Kenan mendekatkan bibirnya ke telinga Kania dan membisikan sesuatu.


"Ih,,, mas ngak mau ah."


"Ayolah sayang, barusan kita bahas tentang anak. Emang kamu ngak kepengen punya anak?"


"Ngak sekarang juga suamiku, besok aja ya mas. Capek selama kamu disini aku ngak pernah bisa tidur nyenyak. Ble...." Kania melangkahkan Kakinya ke arah tempat tidur lalu membaringkan diri untuk beristirahat. Kenanpun tersenyum dan melakukan hal yang sama seperti Kania.


"Selamat malam Istriku... Muah...."


-


Leon keluar dari sebua restoran setelah selesai bertemu dengan kliennya. Dari arah kanan nya terlihat kerumunan orang sedang mempeributkan sesuatu. Jiwa keponya pun meronta-ronta lalu menghampiri kerumunan tersebut. Ia terkejut melihat seorang gadis berdiri disamping mobilnya sambil medengarkan kata-kata kasar dari kerumunan tersebut terlihat seorang kakek tua terduduk lemas tak berdaya, sepertinya terlah tertabrak.


"Loh, bukan kah itu wanita murahanku? Ngapain dia disini? Apakah dia yang telah menabrak kakek itu?" tanya Leon dalam hati


Leon memaksa masuk kedalam kerumunan dan berdiri disamping gadis itu.


"Ada apa ini?" tanya Leon.


"Loh, Pria ini bukannya?" Mencoba berpikir kembali "Pria hidung belang, ngapain dia disini?" tanya Sandra dalam hati


"Mba ini sudah menabrak kakek ini mas." jawab salah satu orang yang berada di kerumunan tersebut


"Kenapa bisa menabrak kakek ini? kamu mabuk lagi?" Tanya Leon


"Sembarangan, enggaklah."


"Lalu?"


"Saya yang menyebrang tidak lihat jalan mas." jawab kakek dengan lemas


"Enggak kok, aku juga salah. seharusnya aku juga ngak asal main gas aja."


"Ini, maksudnya kakek nyebrang jalan tapi ngak lihat mobil ini?"


"Iya cu." jawab kakek


-


Sesudah kakek diobati dan Sandra sudah meminta maaf kepada kakek dan keluarganya. Mereka pun pamit pulang kerumah.


Dalam perjalanan pulang

__ADS_1


"Lain kali, jika menyetir itu fokus. Lihat kiri dan kanan."


"Kakek nya juga salah kok."


"Dibilangin kok ngeyel."


"Aku tuh tau loh kalau salah, udah dong jangan nyalahin terus." Sandra menangis dengan kuat.


Leon menghentikan mobil lalu membawa Sandra kedalam pelukannya.


"Maaf ya, aku ngak bermaksud menyalahkan kamu kok. Kalau nasehat aku salah maaf ya."


"Nasehat kamu ngak salah pria hidung belang."


"Terus?"


"Aku, capek disalahin terus. Dari tempat kejadian semua orang menyalahkan serta berkata kasar kepadaku. padahalkan aku udah minta maaf dan menyesal. hicks hicks hicks... datang kamu menyalahkan ku kembali padahal kakek dan keluarganya udah memaafkanku." tangis Sandra pun semakin kencang


"Aduh, iya iya maaf ya... maaf... janji deh aku ngak bahas tentang ini lagi."


Sandra melepaskan pelukan tersebut lalu mengancungkan jari kelingkingnya.


"Janji?"


"Janji." Leon tersenyum dan mengaitkan jari kelingking mereka.


-


Mereka tela sampai dikediaman Sandra


"Kamu, bawa mobilku saja. Besok pagi kamu jemput aku baru kuantar ke tempatmu."


"Baiklah."


"Sandra" memberikan tangannya untuk berjabat tangan


"Leon" menerima jabatan tangan tersebut


"Oh, iya mana HP mu?"


"Untuk apa? aku takut besok kamu terlambat jadi aku butuh nomormu."


"Benar juga, ni."


Sandra memasukan nomornya lalu menelpon dirinya, setelah itu memberikan HP itu kepada pemiliknya. Sandra membuka sitbeltnya lalu tiba-tiba mencium pipi Leon dengan cepat.


"Trimakasih sudah membantuku pria hidung belang." pergi dengan cepat menuju gerbang rumahnya.

__ADS_1


Leon yang menerima serangan dadakan itu terpaku ditempat lalu memegang pipinya sambil tersenyum.


"Sama-sama wanita murahanku." Ia pun segera melajukan mobil untuk pulang kerumah.


__ADS_2