
Sandra langsung masuk kedalam kamar mandi dengan rintihan karena sakit di area sensitive nya. dengan segera ia membersihkan diri. Astaga ia baru sadar jika ia tidak membawa pakaian dan handuk. sedangkan selimut yang ia gunakan saat melarikan diri telah basah.
"Astaga, betapa bodohnya aku. Bagaimana ini?" Ia mengigit jarinya.
Sandra mengintip ke arah luar untuk melihat apakah Leon masih di kamar. Celingak celinguk. huftt... syukur Leon telah pergi jika tidak ia pasti mati kedinginan di dalam kamar mandi.
Dengan cepat Sandra memungut semua pakaiannya. Upsss,,, Leon menagkap Sandra yang sedang asik memunguti pakaiannya. Dengan tersenyum ingin menggoda gadis itu, Leon melangkah dan mendudukan dirinya pada sisi kasur sambil menatap Sandra. Syukurlah pakaian Sandra tidak sebasah semalam walaupun masih sangat lembab.
"Kau yakin akan memakai pakaian itu?" Tanya Leon.
"Aaaaaaaaaa....." Sandra berteriak sambil berusaha menutupi tubuhnya. Leon terkekeh melihat respon Sandra. "Kau, memang pria hidung belang. Pergilah!!!!" hardik Sandra
"hahahha,,, Bagaimana aku bisa pergi? apakah kau telah lupa? aku pemilik apartemen ini sayang!" Leon mendekat sambil menyelipkan anak rambut Sandra.
Mata mereka kembali bertemu, sesuatu yang aneh desiran dan perasaan menjadi satu.
"Tunggulah, aku sudah memesan pakaian untukmu." jelas Leon.
Belum sempat Sandra mengungkapkan apa yang dia inginkan, bel berbunyi.
"Itu pasti pesananku. Sebentar ya. Pakailah dahulu selimut yang baru untuk menutup tubuhmu itu. Ya, seprai yang semalam mereka gunakan sudah di ganti oleh Leon karena pecah perawan Sandra.
-
Sandra keluar dari kamar dengan dress bunga lengan pendek berkesan anggun dipakai oleh Sandra. Ia keluar dan mendapati Leon yang sedang memasak sarapan untuk mereka. Leon menangkap wujud Sandra, seketika ia terpesona melihat Sandra yang sangat anggun memakai pakaian yang ia pesan itu. Sandra menghampiri Leon.
"Apkah kau, masih belum puas dengan pertarungan kita semalam?" Leon kembali melakukan aktifiktasnya
"Maksudnya?"
"Ia, apakah kau tahu. berapa ronde kita lakukan kemarin malam?" Sandra menggeleng "Untuk seorang pemula kau hebat juga bisa membuat 4 ronde dalam semalam"
Sandra yang baru saja ingin meminum air putihnya langsung saja tersedak.
"Apa 4? jangan bercanda!"
__ADS_1
"Ngapain aku bercanda? tatap mataku dan lihat apakah aku sedang bercanda." Leon menghadapkan wajahnya dan menatap dalam Sandra. Sandra hilang fokus, dengan cepat ia mengalihkan matanya tersebut.
"Maaf." Ucap Sandra lirih. Seketika Leon juga merasa sedih. karena ini memang bukan kesalahan Sandra.
"Sudahlah lagi pula itu adalah pengaruh dari obat yang telah diberikan kepadamu kemarin malam." mengusap pucuk rambut Sandra.
Sandra yang mendapatkan perlakuan seperti itu entah mengapa sangat bahagia.
"Ayo, kita sarapan. Setelah itu aku akan mengantarkanmu ke rumah."
"Mobilku?"
"Kita pakai mobilmu, tenang saja aku hanya menjadi sopir mu. Aku hanya ingin memastikan bahwa kau baik-baik saja." Sandra mengangguk
-
Setelah mereka sarapan bersama, mereka langsung pulang ke kediaman Sandra. Saat ini mereka sudah sampai di depan gerbang rumah Sandra sedikit jauh, agar tidak ketahuan dengan kedua orang tua Sandra.
"Baiklah, jaga dirimu baik-baik ok! jangan berbohong untuk meminta izin keluar dengan orang tuamu. Akibatnya yah ini, atau bahkan lebih buruk. Apakah kamu mau di Mutalasi di tempat? pikirkan keluargamu sebelum bertindak, kasian mereka." Leon mencoba menasehati Sandra. Sandra menunduk sambil melilit-lilit bajunya pada jemari milikna."Setiap manusia punya permasalahannya masing-masing. tetapi tidak untuk membuat kita lari dari kenyataan. Hadapilah kenyataan dan rasa sakit itu. Kau mengerti?" Jelas Leon
Sandra mengangguk dengan kuat. Tampak ia sangat merasa bersalah kepada kedua orangtuanya. Leon melepaskan tali pengamannya dan ingin melangkah keluar tetapi ditahan oleh Sandra. Leon pun menatap mata Sandra untuk terakhir kalinya.
"Ya, aku juga berterimakasih kepadamu..... Terimakasih telah menjadikanku perintis untuk membuka segelmu." balas Leon hangat sambil mencium kening Sandra dengan penuh perasaan. "Sampai jumpa Wanita murahanku"
Entahlah apa yang telah mereka dua rasakan. Dalam satu malam, dapat membuat getaran, desiran dan perasaan hingga menembus hati. Sebut saja Cinta Satu Malam. Itu yang mereka pikir.
-
Kania dan Kenan akan makan malam. Tiba-tiba suara bl berbunyi. Kania langsung membukanya. Alangkah terkejutnya ia melihat Leon yang sedang berdiri menatap dirinya di depan pintu. Kania yang terlihat sangat bahagia melihat kedatangan Leon dengan gerakan refleks memeluk tubuh Leon sambil menjerit histeris. Mendengar istrinya histeris. Kenan pun langsung menghampirinya.
"Ada apa sa....." dia terkejut melihat Kania yang memeluk Leon.
Dengan langkah sigap Kenan menarik Kania untuk melepaskan pelukannya. Kania bingung dengan sikap Kenan. Ia pun langsung menatap kearah suaminya. Wajah cemburu yang merah padam menatapnya.
"Heheh... maaf suamiku tersayang, Itu hanya pelukan saudara." cengir Kania untuk membuat Kenan meredam kecemburuan.
__ADS_1
"Pelukan saudara darimana? dari HONGKONG?" Jawab Kenan ketus
Leon tidak peduli, dia masuk tanpa mempedulikan suami istri yang bucin itu.
"Wah, kebetulan sekali kakak ipar aku juga sedang lapar. PASS!!!" Cengir Leon langsung duduk di meja makan.
Mereka pun makan malam dengan segala candaan, kekesalan Kenan, dan ribuan pertanyaan Kania untuk Leon.
"Jadi, Leon dalam rangka apa kamu kemari?"
"Undangan dari pemerintah Kan."
"Ohw, iya aku lupa sabtu ini kan mulainya?"
"Ya, kamu ikut kan KANIA?" tanya Leon "kalau kamu ngak diajak sama sepupu Kencur ini biar kamu aja jadi partner ku."
"Enak aja, langkahi dahulu mayatku!" Kenan masih waspada terhadap Leon karena perasaan Leon kepada Kania.
"Dasar BUCINNN!!!!!." ejek Leon. Kania hanya menahan tawanya sambil melirik ke arah Kenan yang memasang wajah kesal
"Kania." panggil Leon
"Ya."
"Apakah kamu juga ingin membuatku cemburu seperti suamimu ini?"
"Maksudnya?" jawab Kania, diikuti tatapan tajam Kenan.
"Ya, pamer cumbuan si Kenan ya?" Jawab Leon santai sambil meminum supnya
Kania melirik kearah leher dan dadanya. Blush wajah Kania memerah padam karena malu kepada Leon. Ia pun menaikkan baju dasternya yang sedikit terbuka dibagian leher dan atas dadanya itu.
Kenan tersenyum bangga, menjelaskan jika Kania hanya milik nya seorang. Leon yang melihat senyuman itu sedikit tertawa. Bagaimana bisa sepupu sayangnya itu kekanak-kanakan seperti ini. Ia pun kembali ingin memanas-manasi Kania yang memerah bak bayi yang baru lahir.
"Apakah kau selalu di serang tiap malam Kania?" Kania mengigit bibir bawahnya sambil menunduk. "Wah, kau begitu sekali sih Ken. Kasian Kania setiap malam mendapati gempuranmu itu."
__ADS_1
"Emangnya kenapa? dia milikku terserahku dong. Kalau emang aku gempurnya tiap malam emang kenapa? masalah buat lo!" sewet Kenan kepada Leon.
Kania melentingkan sendoknya kepiring.