Kenan Dan Kania

Kenan Dan Kania
"Sebuah Keinginan"


__ADS_3

Sebelumnya


“Mulai sekarang kau bukan putriku lagi! Segala bentuk ikatan apapun aku tidak punya denganmu. Putri ku sudah mati, mati bersama ibunya ketika melahirkan. Pergi dan jangan pernah menunjukkan wajah kalian lagi dihadapanku dan ingat jangan pernah temui KANIA lagi. Karena dia adalah Putri Amonade keluarga Amonade. Mengerti! Ray suruh mereka pergi dari sini.”


Dengan berat hati Ray pun mengusir adik kesayangannya itu.


Selanjutnya


Flash Back Off


“Tuk…. Tuk…. Tuk…..” Suara ketukan terdengar dari pintu kamar ibu Sarah yaitu ibu dari Sandra yang telah ia kunci sebelumnya. Dengan segera ia mengemas dan memasukkan kembali barang-barang yang telah dikeluarkannya dari kotak tersebut. Ia merapikan penampilannya yang sedikit berantakan akibat meratapi kesedihan yang terbesit kembali dalam ingatan masa lalu. Setelah itu ia pergi melangkah kea rah pintu dan membuka pintu tersebut untuk melihat siapa yang berkepentingan dengannya saat ini.


“Ceklek” suara pintu dibuka


“Papa?” Ibu Sarah terkejut melihat suaminya sudah berada di depan pintu kamar mereka. Diliriknya jam dinding yang terletak di depan ranjang tidurnya. Pantasan ia lupa jika hari ini Suaminya dan dirinya sudah berjanji untuk menghadiri acara makan siang dari salah satu teman se-profesinya.


“Ada apa ma?” Tanya suaminya yang tahu saat ini pasti istrinya sedang dalam tidak baik-baik saja. Buktinya kenapa ia harus mengunci pintu, belum siap-siap, dan satu hal lagi terkejut seperti sedang tertangkap basah.


“Tidak ada apa-apa pa.” meyakinkan suaminya tersebut. Ia takut suaminya akan marah padanya jika ia mengetahui hal yang sudah lama mereka kubur dalam-dalam di gali kembali.


Bukan tanpa alasan, setelah mereka pergi dari rumah kediaman keluarga Amonade. Sarah sempat mengalami depresi berat begitu juga dengan Cahyono yang merasa bersalah, menyesal, dan mengutuki dirinya kepada kekasih yang telah ia jadikan istrinya tanpa restu tersebut. Hingga suatu ketika mereka yang tenggelam pada kesedihan yang mendalam tersadarkan oleh sepasang suami istri yang hebat melampaui permasalahan dalam biduk rumah tangga yang begitu berat dengan satu kata dan rasa yang sama yaitu “CINTA”.


Sarah dan Cahyono pun sepakat untuk memulai semuanya dengan lembaran yang baru. Maka, dari itu mereka mencoba untuk menguburnya dalam-dalam. Tetapi, apa daya permasalahan yang telah mereka kubur tersebut malah siap meruak untuk di gali dan kembali berharap untuk dituntaskan.


“Istriku ini tidak pintar untuk berbohong kepada suaminya.” Membawa istrinya duduk di sofa. “Ceritakanlah ma, sejak kapan kamu berani untuk berbohong kepadaku?”


“Papa terlalu dramatis deh, enggak ada loh. Ngak percaya banget sih!” menutupinya dengan berpura-pura jengkel karena sudah dituduh oleh sang suami.


“Bukan ngak percaya ma. Aku sudah mengenal, mempelajari, dan memahami sejak lama hingga saat ini. Aku bukan orang yang baru datang dihatimu.” Mencoba untuk memberikan pengertian kepada istri tercintanya itu.

__ADS_1


Ibu Sarah terdiam dan membuang matanya kesembarangan arah. Ia sedang mecoba untuk berani menceritakan apa yang sedang ia alami.


Melihat hal itu, tanpa sengaja mata ayah Sandra terlempar ke arah ranjang dan melihat kotak yang tidak asing dimatanya di sana. Tanpa aba-aba ayah Sandra bangkit berdiri lalu berjalan kearah kotak tersebut. Mata mama Sandra mengikuti ke arah tujuan suaminya tersebut dan terkejut bahwa ia lupa untuk menyembunyikan kotak tersebut karena sangking panic dan tergesa-gesa.


Ayah Sandra duduk diranjang dan membuka kotak itu. Ya, apa yang ia tebak sungguh sangat tepat. Kotak yang mereka kubur dalam-dalam untuk tidak digali kembali. Ibu Sandra menghela napasnya berat laluu mengikuti suaminya untuk duduk diranjang dengan posisi di depan suaminya.


“Pa…. Maafkan….. Mama. Tadi siang, tanpa sengaja aku membersihkan gudang dan membawa isi kotak tersebut kemari.” Air mata mama Sandra menetes begitu saja tanpa ada peringatan. “Pa… mama tidak……” perkataan


ibu Sandra terputus melihat tatapan suaminya yang melemah dan sedih.


“Tidak ada yang perlu di maafkan ma.” Ayah Sandra meraba halus kain, topi, serta kaos kaki tersebut dengan perlahan seperti ingin merasakan sentuhan putri mereka.


“Mama piker papa, sudah membuang kotak ini!” Tanya mama meminta penjelasan


“Bagaimana? Bagaimana aku bisa tega untuk membuang salah satu hal yang sangat berarti dihidupku dan mu ma? Katakan padaku?” dengan suara melemah tetapi tegas. “Dia putri yang secara tidak sengaja ingin kubunuh dan kuinginkan berada dalam dekapanku setelah ia lahir. Jangankan untuk menyentuhnya, melihatnya saja aku tidak bisa.” Suara ayah Sandra terdengar serak dan parau karena menahan perasaan yang bercampur aduk ingin keluar.


Ibu Sandra menyingkirkan kotak tersebut dan memeluk suaminya dengan erat untuk memberikan kekuatan dan ketenangan.


ketenangan tersebut.


“Pa, kapan kita akan memberitahukan ini kepada Sandra? Kalau dia mempunyai saudari perempuan?”


“Kita pasti memberitahukannya ma. Tapi tidak sekarang, saat ini Sandra masih sedang menata hati dan pikirannya.” Ujar ayah Sandra yakin.


“Pa, bolehkah aku memberitahukan keinginanku padamu saat ini?”


“Kenapa mama seolah-olah tidak yakin papa memberikannya?”


“Karna ini sungguh berat pa.”

__ADS_1


“Apapun itu, aku akan mencoba untuk mengabulkannya” meyakinkan istrinya dengan menggenggam jari jemari istri tercintanya.


“Aku ingin menemui ayah, saudara dan anakku pa. Aku tahu ini tidaklah mungkin apalagi permintaan ayah kepadaku untuk tidak berhubungan dengannya kembali. Tetapi aku sangat ingin melihat putriku walaupun nanti bisa


saja itu menjadi pertemuan pertama dan terakhir kami setelah ia bertumbuh kembang menjadi seorang gadis dewasa saat ini.”


Ini sebuah permintaan yang sangat berat dari nyonya Cahyono kepada tuan Cahyono. Tetapi ia tidak mungkin menolaknya. Apalagi selama membangun rumah tangga nyonya Cahyono tidak pernah sedikit pun untuk meminta


dan memohon sesuatu kepadanya.


“Baiklah, kita akan mencobanya Ma.”


“Papa yakin?” ibu Sandra menyakinkan ayah Sandra atas pengabulannya itu.


Ayah Sandra mengangguk penuh dengan keyakinan disorot matanya. Ibu Sandra pun senang bukan kepalang atas persetujuan suaminya tersebut.


“Sudah, saatnya untuk bersiap-siap. Karna, kita sudah pasti terlambat.”


Dengan segera ibu Sandra berisap- siap untuk acara makan siang mereka bersama para teman seprofesi suaminya tersebut.


-


Di pukul 1 siang, kantin kampus Kania, Feren dan Jeje sedang berkompromi mengenai 3 identitas yang telah mereka dapatkan untuk pencarian orangtua Kania.


“Bagaimana kalau kita telpon dan menemui mereka satu persatu. Lalu kita tanyakan deh.” Ujar Feren


“Ide yang bagus juga Kan. Tapi tentunya hanya kamu saja yang mengobrol kami di kursi lain untuk tidak mengganggu pembicaraan kamu dan mereka bertiga ini.” Jawab jeje


“Huft, ya iyalah Je. Masak kita berdua juga ikut. Ini masalah keluarga, privasi dong.” Sanggah Feren.

__ADS_1


“Aku, tuh hanya meluruskan aja Feren.” Sela Jeje.


__ADS_2