
jam menunjukkan pukul 09.45 Kania sudah sampai di sekolahAska. Ia, disambut baik oleh kepala sekolahnya. Acara pun dimulai tepat pukul 10.00 semua mata terfokus dengan penampilan seni yang dibawakan anak-anak tersebut. Tak lupa mereka juga dengan gembiranya mengabadikan penampilan itu dengan telpon genggam yang dimiliki. Aska tampak sangat tampan dan gagah dalam memperankan diri sebagai pahlawan dalam pertunjukkan drama tersebut.
Acara telah selesai, Kania menunggu Aska diluar karna, ada pengarahan oleh gurunya sebelum pulang.
“bibi.” (memegang tangan kanan Kania)
“eh, sayang. Sudah selesai pengarahannya?”
“sudah bibi.”
“ayo, kita pulang (memegang kedua tangan Aska)”
Kania sedang mengamati ekspresi Aska yang terlihat sedikit sedih.
“ada apa Aska? Aska kok kelihatan sedih? Aska ngak senang ya kalau bibi yang dampingi kamu disini?”
Aska menggelengkan kepalanya dengan wajah ditekuk.
“terus, kok wajah ganteng nya bibi ini ditekuk seperti ini (memegang dagu aska)”
“Aska ngak mau pulang.”
“loh, kok ngak mau? Emangnya kenapa sayang?”
“kemarin mama sama papa janji mau bawa Aska ke mall hari ini. tapi, mama sama papa jahat.” Seketika tangis Aska kecil pecah dan memeluk Kania dengan begitu erat.
Kania mencoba untuk membujuknya pulang. Dia, juga tidak bisa memaksa Aska untuk menurutinya kembali ke rumah. ide untuk mengajak Aska berjalan ditaman kota yang letaknya tidak jauh dari sekolahan Aska dilakukan kania. Kania meminta ijin kepada Kenan untuk mengajak Aska ditaman.
Hari, telah sore. Kania, tetap berusaha untuk membujuk Aska kecil tetapi, ia tidak mau pulang. Kania mengakalinya dengan berakting berpura-pura sakit perut dihadapan Aska. Tentu saja akal Kania berhasil dengan sekejap Aska pun luluh dan ingin pulang bersamanya.
Kania menelpon pak sopir untuk menjemput mereka. Memang, pada saat acara Kania menyuruh sopir nya untuk kembali kekediaman keluarga Ganendra karna, kasian melihat pak sopir yang akan terlalu lama menunggu mereka. Tetapi, tit tit tit batrai hp Kania ngedrop dan mati. Karena, telah digunakan seharian untuk merekam dan bermain handphone sembari menunggu Aska dan menemani Aska bermain di taman.
Kania panik, segera ia mencari power bank miliknya. Alhasil, ia lupa membawanya. Ia bingung bagaimana cara mereka untuk pulang. Kania tidak tahu jalan, dan bahkan tidak tahu dimana alamat lengkap rumah mereka. Kania dan Aska kembali ke sekolah dan syukurnya mereka bertemu dengan guru bimbingan Aska yang menyimpan nomor Kenan. karna, pada waktu itu Aska demam dan guru tersebut mencoba untuk menghubungi keluarga Aska. Dan, yang mengangkat hanya nomor Kenan saja.
“halo, selamat siang ibu.”
“halo, ken. Ini aku Kania.”
__ADS_1
Kenan menatap kembali ke arah ponselnya karna, yang ia lihat nama orang yang berada dalam panggilan adalah ibu bimbingan Aska. tetapi, mengapa suara kania yang terdengar tanya kenan dalam hati
“halo, halo. Ken. Ke….”
“iya, ada apa? Kok kamu bisa memakai nomor ini? emangnya handphone kamu kenapa?”
“Handphone ku mati karna, habis baterai.”
“lalu, mengapa menelpon ku.”
“kamu bisa menjemput kami di sekolahannya Aska?”
“jemput? (melirik ke jam tangannya) ngak bisa aku masih kerja. Lagi pula ngapain sih kamu minta aku jemput supir mu mana?”
“aku suruh pulang tadi, karna kupikir dari pada menungguku disini sangat lama kan kasihan. Lebih baik pulang.”
“kania, kania (menggelengkan kepala) tchei (berdecit) ya, sudah naik taksi saja.”
“aku, tidak tau dimana alamat rumah kita.”
Kenan tampak kesal dan marah hingga temannya masuk terkejut
mendengar kenan yang sedang mengomel dengan kesal di telpon.
“iya, maaf. Aku salah.”
“ya, sudahlah. Tunggu saja disitu aku akan segera menelpon sopir untuk menjemput kamu.”
“iya, trimaka……”
“ihc, galak banget sih. Merah kan kuping ku jadinya (mengusap kupingnya)” berbisik di dalam hati
“makasih banget ya bu, atas bantuannya. Ini handphone ibu.” Menyodorkan kepada ibu guru
“sama-sama bu Ganendra.” Jawab ibu guru bimbingan Aska
~-~
__ADS_1
Diruangan Kenandri,
“siapa, ken? Kok kamu segitunya marah dan kesal?.”
“bagaimana coba ngak marah, kesal. Alamat rumah aja dia ngak
tau loh.”
“siapa? Istrimu maksudnya?”
“iya, siapa lagi.”
“wuahaha, makanya istrimu jangan dianggurin seperti itu. kamu ajak dong dia sekali-kali jalan-jalan jangan dibekap didalam rumah aja.”
“sudahlah, Frans kamu bisanya mengejek ku saja (sambil menempelkan kupingnya ke telepon gengam).”
“halo, pak. Siapa supir nona Kania?”
“pak raden. Tuan kenan.”
“kalau begitu, suruh pak raden ke sekolah karna Kania dan Aska sudah pulang.”
“maaf tuan Kenan, tapi pak raden baru saja pergi bersama nenek nasya ke……”
“owalah, ya udah pak. Trimakasih ya.”
“sama-sama tuan.”
Kenan menutup telpon dengan wajah lemas. Frans yang mengetahui jika sopir Kenan tidak bisa menjemput Kania. tersenyum tipis sambil memberikan arahan.
“ya, sudah jemputs aja. Sekalian ajak istrimu jalan-jalan berdua.”
“frans….” Frans tersenyum
Kenan pun menyenderkan tubuhnya pada kursi sambil menutup mata. dan meletakkan tangannya di atas jidat sambil mengelus dada
“huft…. Merepotkan saja kamu Kania.” sepenggal kata yang terucap dari mulut Kenandri Ganendra.
__ADS_1