
Kenan masuk kedalam kamar Leon dan merebahkan diri di atas ranjang. Belum beberapa menit ia bangkit kembali masuk kedalam kamar mandi untuk membuang air kecil. Alhasil insiden bajunya basah karna mendapatkan semprotan mendadak dari wastafel yang seharusnya sudah harus diperbaiki oleh tukang air tadi siang. Ia pun membuka bajunya dan mengambil kaos Leon dengan sembarang lalu melemparnya kedalam keranjang cuciaan.
Lemparan Kenan malah tidak tepat seperti biasanya. Ia pun pergi kearah tempat keranjang lalu mengambil bajunya di samping keranjang dan ingin memasukkannya kedalam keranjang. Betapa terkejutnya ia melihat darah pada seprei milik Leon.
Pintu kamar terbuka, Leon masuk dan melihat Kenan yang sedang berdiri di samping keranjang pakaian kotor dengan baju yang sedang dipegang Kenan.
“Anak siapa yang telah kau nodai?”
“Aku hanya menolongnya percayalah.”
Kenan melempar bajunya tepat mengenai wajah Leon.
“Apa-apaan sih kamu Kenan.”
“Kamu yang apa-apaan."
"Kenapa kamu melemparkan bajumu padaku.”
“Itu belum seberapa bajingan curut.” Kenan mengambil bantal dan memukul-mukuli saudara gesreknya itu.
Bug, buhg..
“Ken, ken aku jelaskan ok. Ok.”
Kenan berhenti memukul lalu mengatur kembali napasnya dengan duduk di sofa. Leon pun dengan sedikit takut kepada saudara sepupunya langsung mengambil tempat duduk disampingnya.
“CERITAKAN!” dengan suara dinginnya.
Kenan memang tidak suka jika Leon kembali meniduri wanita lain, karna, setahu Kenan Leon bukanlah pria seperti itu. Kejadian dengan Aira saja pada waktu itu terpaksa Leon lakukan hanya untuk Kenan.
Leon pun menceritakan kejadian yang telah dialaminya kemarin malam bersama wanita yang tidak ia kenal sebelumnya.
-
“Terus gadis itu bagaimana?”
“Pulanglah Ken, kerumahnya. Ya kali disini kan bukan rumahnya.”
“Dia tidak meminta pertanggung jawabanmu?”
“Tidak. Aku yang posisi diperkosa olehnya. Aku yang harus meminta pertanggung jawaban bukan malah dia Ken.”
Kenan tertawa lalu memiting leher saudaranya itu.
“Kau menikmatinya?” tanya Kenan menggoda
“Ya, sangat. Mungkin karna pengaruh obat, walaupun dia tidak mahir tetapi dia sangat memuaskan ku. Lebih yahut ini daripada Ai…..”
Leon menghentikan perkataannya saat dia sadar sedang menggali cerita lama mereka. Kenan yang menatap Leon langsung tersenyum tipis.
“Apakah, Aira masih tersegel?”
“Percayalah, rasamu dengan Kania saat pertama kali beda dengan Aira.”
__ADS_1
“Mengapa?”
“Membuka segel lebih beda rasanya dibandingkan yang sudah tak bersegel.”
Kenan termanggu, ia tidak menyangka jika Aira sudah melakukannya dengan oranglain. Bahkan sebelum dengan sepupunya.
“Kau, tidak menyesal keperjakaanmu kau berikan padanya?”
“Tidak juga, ia mengajarkan pelajaran yang baik sebelum berhubungan dengan istriku nanti.”
Pletak, Kenan memukul kepala Leon begitu saja. Leon yang tidak terima ia pun membalasnya. Terjadilah pertengkaran kedua bocah tua.
-
Kania masuk kedalam apartemen Leon, ia meminta alamat dan juga pin apartemen nya kepada tangan kanan Leon. Ia masuk dan memasak sarapan bagi suami dan adik sepupu iparnya itu.
Setelah semua masakan siap, Kania masuk kedalam kamar para lelaki yang bertingkah seperti bocah itu. Alangkah terkejutnya ia mendepati seisi kamar hancur berantakan akibat perkelahian kedua bocah tua itu.
“Ya, ampun apa-apaan mereka ini. Apa yang terjadi mengapa bisa berantakan seperti ini?” Kania menggerutu sambil membersihkan kamar itu.
Dilihatnya posisi Kenan dan Leon yang sangat intim sekali. Ia pun mengambil gawai miliknya lalu memprotet keadaan kedua bocah tua yang sedang tidur bermesraan itu.
Sambil terkekeh Kania menarik tangan suaminya yang sedang memeluk erat pinggang Leon.
“Bangun, ayo bangun kalian harus berangkat kerja.”
Kenan menepis tangan Kania dan semakin memeluk erat kembali pinggang Leon.
Ia, mendekatkan bibirnya kearah kuping Kenan. Lalu membisikkan sesuatu.
“Yang, sayang ayo bangun.”
Kenan tidak sadar jika ia di apartemen milik Leon, ia piker ia sedang tidur memeluk Kania.
Ia malah mencerucukkan bibirnya dileher Leon sambil kembali memeluk erat pinggang Leon. Kania kembali terkekeh.
“Yang, ayo bangun. Kalau kamu tidak bangun aku cium nih.”
Kenan tersenyum merona mendengar Kania yang sedang menggodanya. Ia pun, malah mencium leher Leon dengan mesranya, membuat Leon yang sebenarnya sedikit kesesakan karna Kenan yang memeluknya dengan erat. Membuka matanya mengumpulkan kesadaran tentang apa yang telah terjadi.
Kania tertawa terbahak-bahak, mendengar tawa Kania itu. Kenan dan Leon menoleh kearah sumber suara. Kania masih dengan posisi tawanya melihat mereka berdua.
Kenan dan Leon saling menatap heran. Lalu mereka tersadar posisi mereka yang terlalu intim.
“Ahhhhhhhh…..” teriak mereka serempak.
“Apa yang telah kau lakukan?” tanya Kenan cepat sambil memeluk dirinya seperti ternodai.
“Hei! Apa-apaan itu kau! Seharusnya aku bertanya padamu. Kau yang telah memelukku… huhuhuhu Kania suamimu telah berani melecehkanku.” Wajah Leon menyedih.
“Tidak, kau yang telah melecehkanku.” Tegas Kenan karena merasa benar.
“Kau!”
__ADS_1
“Kau!”
“Sudah-sudah, kalian kedua bocah tua. Ayo, lekas mandi. Atau kalian ingin mandi berdua iya?” Ancam Kania yang Kesal karena melihat kedua bocah tua yang sealu berkelahi itu.
“Tidak!” sargas kedua bocah tua dengan serempak.
“Ya, sudah mandi sana.” Kania kembali berkemas.
Leon dan Kenan masih dengan posisi terduduk diranjang sambil memegang gawai mereka. Ketika Kania hampir selesai dengan mengemaskan kamar tersebut. Ia pergi kearah keranjang kotor untuk mengambil handuk karena, kedua bocah itu tidak akan bergerak. Alhasil, ia melihat baju Kenan dan mengambilnya.
“Yang, kenapa bajumu disini?” tanya Kania sambil mengambil bajunya.
Ia terkejut melihat noda darah yang terdapat di seprei
“Darah apa ini?” Tanya Kania sambil mengangkat seprei tersebut.
Kenan dan Leon saling menatap lalu bersikap biasa. Agar Kania tidak salah sangka.
“Leon!”panggil Kania
“Ya, Kan.” jawab Leon
“Darah apa ini?” tanya Kania dingin.
“Oh, itu Kan. itu… ehm….”
“Kenandri Ganendra kemari!” panggil Kania dengan nada sedikit meninggi.
Kenan bergerak dari posisinya, mereka saling menatap. Sedangkan Leon seperti ingin meminta bantuan dari
Kenaan. Kenan yang mengerti tatapan itu hanya mengedikkan bahu. Lalu melangkah kearah Kania.
“Ada apa sayangku?” Kenan memeluk Kania untuk meredakan emosi istrinya.
“Jawab saja Kenandri, tidak perlu membujukku.” Tegas Kania
“Ehm, yang ini noda…. Ehm,,, noda.”
“Noda, perempuan! Gitu aja bingung. Jawab aja, perempuan mana yang sudah kamu nodai?” tanya Kania dengan emosi yang meledak.
“Yang, ngak gitu yang…”
“Stttttt, aku mau pulang!” Kania menghempaskan seprei itu lalu pergi. Kenan mengejar Kania. leon bangkit dari
posisinya dan mengikuti mereka.
“Yang, dengar dulu. Dengarkan dulu penjelasanku.” Kenan menarik tangan Kania, dan jatuhlah Kania dalam pelukan Kenan.
Kania menangis dalam pelukan Kenan. Kenan yang merasakan kania sedang menangis menjadi ikut sedih. Ia, mengelus-elus lembut rambut Kania lalu mengurai pelukan mereka dan mencium keningnya dengan penuh perasaan menjelaskan bahwa semuanya tidak seperti yang terlihat.
Kenan mengarahkan Kania untuk duduk disofa ruang tamu. Leon pun ikut duduk tidak jauh dari posisi mereka.
“Kan, maaf ya sudah membuat kamu salah paham begini dengan Kenan.” Ungkap leon dengan perasaan menyesal karena telah membuat Kania menangis.
__ADS_1