Kenan Dan Kania

Kenan Dan Kania
Informan


__ADS_3

Sebelumnya


Iya bu, saya senang bisa berjumpa dengan ibu kembali. Kemarin saya juga berharap bisa bertemu dengan ibu. Eh, rupanya tuhan mengizinkan kita untuk berjumpa disini.,"


Selanjutnya


"Siapa ibu ini sayang?" Tanya Kenan.


"Oh, iya Mas. Ini, ibu Sarah. Kami bertemu pada saat berbelanja juga waktu itu iya kan bu."


"Iya, nak. Benar."


"Ibu, ini suami perkenalkan ini suami Kania namanya Kenan."


"Kenan? wah, pantasan ya kalian jodoh. namanya saja hampir mirip. KENAN DAN KANIA. "


"Terimakasih bu, atas pujiannya." jawab Kenan.


"Kamu beruntung banget loh Ken dapat Kania. Kania wanita yang baik, sopan, ramah, berbudi luhur dan pastinya cantik lagi."


"Ahahaha, apaan sih bu. Pujiannya berlebihan deh."


"Tapi benarkan Ken?."


"Benarlah bu, kalau dia tidak seperti itu. Mungkin aku tidak akan bersamanya selama ini." Jawab Kenan


"Kenapa?" tanya Kania penasaran.


"Iyalah, kamu kan bawel, keras kepala, semaunya. Siapa yang mau dengan dirimu yang seperti itu."


"Ihc, kamu tuh. Siapa yang mau denganmu yang tengik, sok dingin, sok ganteng."


"Eh, aku emang ganteng ya." Sanggah Kenan.


Kania ingin membalas sanggahan Kenan kembali tetapi dengan cepat dia menutup mulut Kania. Dan tersenyum ke arah ibu Sarah.


"Maaf bu, istriku ini ngak akan pernah mau kalah kalau berdebat denganku. Seribu bahasa akan dilontarkannya."


Ibu Sarah tertawa lepas melihat tingkah konyol suami istri itu.


"Kalian mengingatkan ibu dengan suami ibu. Dulu diawal pernikahan kami, kami sama seperti kalian. Hari demi hari kami lewati dengan sedikit perdebatan kecil yang membuat pernikahan kami itu penuh dengan warna dan cinta. Sampai pada akhirnya suatu kejadian merubah semuanya." Tiba-tiba termenung mengingat kejadian lampau.


Kenan dan Kania saling menatap satu sama lain. Dan memberi isyarat kenapa dengan ibu tersebut.


Kania memegang pundak ibu itu dan membangunkannya dari flash back masa lalunya.


"Maaf, maaf ibu jadi termenung ya."

__ADS_1


"Apakah ibu dan bapak sedang dalam masalah saat ini?" Tanya Kania pelan agar tidak menyinggung perasaann ibu tersebut.


"Tidak, bukan permasalahan yang bagaimana. Tapi ibu percaya, kalian berdua akan selalu bisa melewati semuanya dengan baik. Ibu doakan pernikahan kalian sampai akhir hayat ya."


"Amin, terimakasih bu." Jawab Kania


"Hem, luka lutut dan siku ibu akibat ditabrak tadi bagaimana?"


"Tidak apa, ini hanya luka kecil kok. Ibu juga salah nyebrang ngak liat-liat jadinya ketabrak deh."


"Orang tadi juga salah bu, siapa suruh ngak ngeliat jalan, kabur lagi ngak ada itikad baik." Ketus Kenan.


"Sudah sudah, ibu senang bisa berjumpa dan kenal kalian. Kalian anak yang baik. Ibu jadi merasa ngak ketabrak tadi karna nimbrung dengan kalian. hahahah" Kenan dan Kania ikut tertawa.


Mereka pun berpisah dan kembali kekediaman masing-masing.


-


Ibu Sarah berkutik didapur sejak kepulangannya dari pusat berbelanjaan tadi siang.


Makan malam pun tiba. Suami serta anaknya turun dari tangga menuju meja makan.


"Wah, mah. Kamu membuktikan sekali ya, kalau masih mempunyai skill memasak yang handal?"


"Iya, dong pah. Ayo, sayang sini mama masak makanan kesukaan kamu." Mengelus rambut Sandra dengan lembut.


Sandra tampak bahagia dengan makan malam itu. Ia senang dengan kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan lagi.


Sandra memeluk erat tubuh ayahnya tersebut sambil mencurahkan air matanya yang trlah lama terbendung dengan sangat kokoh agar tidak tertunoah tentang permasalahan yang ia hadapi selama ini.


Malam itu pun ditutup dengan penuh haru oleh keluarga Adipra.


-


Keesokan harinya, suasana sepertinya kembali dengan normal. Kania dan Sandra juga telah kembali masuk kuliah. Feren dan Jeje sangat senang melihat Kania yang masuk kembali.


Rencananya siang ini mereka akan pergi mengunjungi salah satu mall untuk melepas rindu. Ditengah tengah perjalanan keluar mereka dari ruangan kelas. Kania mendengar beberapa orang pria sedang berbicara tentang informan terbaik kampus mereka.


Kania mendekati beberapa pria tersebut dan bertanya tentang informan tersebut. Tanpa panjang lebar Kania menjumpai informan tersebut.


Feren dan Jeje yang sedari tadi mengikuti Kania bertanya-tanya apa yang Kania ingin ketahui.


Mereka telah sampai di suatu sudut kampus tepat di sebuah gedung tua tidak terpakai. Mereka masuk kedalam gedung tua itu dan melihat sekelompok pria berperawakan seperti preman menghalangi jalan masuk mereka.


Jeje dan Feren tampak ketakutan. Tetapi Kania tampak tenang menghadapi mereka. Kania yang sebelumnya mendapatkan informasi jika ingin mendatangi informan itu harus mengucapkan beberapa sandi. Langsung mengucapkan sandi tersebut.


Salah satu dari mereka tampaknya pemimpin mereka langsung menyuruh anak buahnya mengantarkan Kania, Feren, dan Jeje untuk bertemu informan tersebut. Disepanjang jalan menuju Informan tersebut. Banyak sekali mereka jumpai sekelompok orang. Sepertinya gudang tua tersebut dijadikan markas berbagai bidang dan keperluan di kampus secara ilegal.

__ADS_1


Tibalah Kania beserta kedua temannya di depan ruangan informan tersebut.


Kania, Feren, dan Jeje dipersilahkan masuk.


"Tidak terlihat siapapun disini. Mana orangnya?" Tanya Feren


Dari arah samping mereka dikejutkan oleh seorang pria berperawakan tinggi, besar dengan rambut panjang yang diikat satu menggulung kebelakang.


"Siapa yang kalian cari?" tanya pria itu.


Kania, Feren, dan Jeje menoleh ke arah samping dengan ekspresi terkejut.


"Mr. Itf" jawab Kania


"Kenapa kamu mencarinya?" tanya Kania.


"Untuk apalagi kalau tidak mencari informasi." Ketus Feren.


"Pria itu membuka tirai jendela dan menarik kerah seseorang dari bawah kursi yang tertutup meja.."


"Siapa dia?" tanya Jeje


"Orang yang kalian cari."


"Jadi, Mr. Itf itu bukan kamu tapi, pria tambun, jelek dan cupu begini." Jawab Feren.


"Hei, hati-hati ya jika berbicara." Kesal pria tambun tersebut.


"Maafkan atas perkataan temanku. Perkenalkan namaku Kania, aku ingin mencari data mahasiswa tahun zzzz angkatan xxx jurusan seni dengan daftar huruf S."


"Tahun zzzz? angkatan xxx? lama sekali. Orangtuamu?"


Kania terdiam tanpa menjawab perkataan dari pria tambun tersebut.


"Baiklah, aku akan mengirimkan datanya dengan susunan abjad S. Jika telah selesai aku akan mengabarinya. Tapi, kau harus membayarku dengan bayaran yang tinggi. Karna, kau tau sendirikan!" memainkan alisnya naik turun.


"Huft, dasar pria jelek. Kamu mau memeraz temanku ya?" Kesal Feren.


"Baiklah, kau akan mendapatkan bayaran yang setimpal."


"Kania?" Feren terheran.


"Eh, kurcaci imut temanmu saja mau membayarnya kenapa kamu sewet?" Ejek pria tambun.


"Ini no, hp ku. Agar kau dapat menghubungiku."


"Baiklah deal?" pria tambun memberikan tangannya untuk berjabat tangan

__ADS_1


"DEAL. " Berjabat tangan.


Mereka pun mencapai kesepakatan dalam perundingan misi Kania.


__ADS_2