
#Sebelumnya
"Pesan saja, rumah akan ku kunci agar kau tidak bisa keluar." menghentak-hentakan kakinya karna kesal.
#Selanjutnya
Kenan menggeleng gelengkan kepala sambil tersenyum melihat tingkah menggemaskan Kania.
Ia menyusul Kania kedalam kamar sambil membawa koper dan barang kiriman keluarga Ganendra padanya. Kenan masuk dan meletakkan semuanya di atas tempat tidur.
"Kenapa kamu meletakkannya di tempat tidur? aku sudah ingin tidur Ken. Please jangan berdebat lagi."
Kenan yang sudah siap untuk membuka isi kopernya, berhenti.
"Kamu tidak ingin melihat apa isi kiriman dari Ganendra?"
Kania menoleh ke arah Kenan. Kenan tersenyum sambil membuka koper untuk menyusunnya ke dalam lemari.
Kania mengambil posisi di samping Kenan dan membuka isi barang kiriman keluarga Ganendra. Sembari memulai membuka, ia melirik-lirik Kenan yang menyusun pakaiannya di dalam lemari.
"Mandiri ya, udah ngak butuh aku lagi dong."
Kenan yang sudah selesai menyusun beberapa pakaiannya langsung memeluk Kania dari belakang sambil membenamkan kepalanya dibahu kanan Kania. Kania terkejut wajahnya langsung merah merona.
"Butuh, sangat membutuhkanmu hingga akhir napasku." Mengangkat kepalanya dan meletakkan dagu di bahu Kania sambil mencium pipi Kania. Kania hanya bisa diam dan tertegun melihat aksi romantis Kenan.
Kenan kembali menyusun pakaiannya kedalam lemari. Kania berusaha mengatasi debaran jantung yang kuat sambil kembali pada kegiatannya.
"Boneka? alat pemijit tubuh? perileks kepala? buku keagamaan?" Kania menggeleng-geleng sambil memegang kepala dan tersenyum. "Biar kutebak Boneka ini pasti dari ayah, alat pemijit tubuh kakek, perileks kepala tidak lain tidak bukan pasti nenek dan yang terakhir pasti dari ibu."
"Hampir satu tahun kita menikah, kamu sudah bisa memahami sepenuhnya keluargaku."
"Hampir satu tahun? tidak terasa ya." Menatap Kenan
"Ya, begitulah. Aniv mau bulan madu dimana?" Tanya Kenan santai
"Bulan madu?" Kania terkejut
"Ya, kitakan belum pernah berbulan madu."
Jantung Kania kembali berdegup kencang. Dengan tingkah yang salah ia kembali mengobrak-abrik barang dari keluarga Ganendra dan menemukan beberapa helai pakaian dengan bahan yang lembut ada merah, putih, dan hitam. Ia tersenyum dan membuka lipatan pakaian berwarna merah. Dan teng teng teng.
"Pakaian apa ini? seksi sekali."
"Kenan mengeluarkan sedikit tawanya lalu mengulumnya."
"Kenapa kamu tertawa? siapa yang sudah mengirimkanku pakaian seksi seperti ini? siapa yang akan memakainya?"
"Ya, kamulah siapa lagi? aku? kan ngak mungkin." Kenan menurunkan koper kosongnya dan duduk diatas ranjang.
__ADS_1
"Aku? iuuuhhhh, tidak tidak. Yang ada aku bisa sakit karna masuk angin." Jawab Kania polos
"Sakit itu pasti, tapi enak."
"Maksudnya?" Tanya Kania bingung.
"Anak kecil ngak boleh tau, entar kalau udah waktunya kamu juga tahu. Tenang aku ajarin kok."
"Ajarin? emang perlu?"
"Ya, perlu. Udah, sekarang kita turunin barang-barangnya terus tidur. Kamu bilang capek, iyakan?" Kania mengangguk.
-
Pagi harinya Kania mengerjapkan mata dan melihat ke sisi kanan tempat tidur. Matanya mencari ke semua sudut ruangan dan tidak melihat keberadaan suaminya.
Kania pun turun dari tempat tidur lalu mencari Kenan di luar kamar. Ia melihat meja makan sudah disajikan dengan beberapa makanan. Kania mendekati meja sambil melihat menu yang disajikan.
"Pagi sayang, apakah tidurmu nyenyak?" Kenan memberikan morning kiss di pipi kiri Kania secara tiba-tiba.
"Kamu yang memasak semua ini Ken?"
"Ya benar, sekarang istriku sedikit malas untuk bangun dan tidak serajin dulu."
"Tahu darimana kamu?"
"Ya, tahulah baju ditumpuk di mesin cuci, terus semua peralatan makanmu jorok berdebu. Kamu pasti sering makan makanan cepat saji ya? makanya berdebu?"
"Kamu mau aku panggilin pembantu biar kamu tidak merasa kesepian dan ada yang membantumu."
"Terserah padamu Ken." Wajah Kania tertekuk
"Kok, wajahmu ditekuk seperti itu?"
"Aku tidak ingin melanjutkan ini Ken. Kita pulang saja ya." Sedih Kania
........... ***Bersambung
Lanjutan, 5 maret 2021
"Kenapa Kania? apakah karna wanita yang melabrakmu kemarin?"
"Tidak, bukan karna itu Ken. Aku tidak peduli dengan wanita itu."
"Lalu, apa yang membuatmu tidak ingin melanjutkan kuliahmu?" Kania meletakkan kepalanya diatas meja. "Ini bukan Kania yang kukenal. Mudah sekali menyerah." Kania menutup wajahnya frustasi.
"Kamu tahu Kan, kenapa aku tidak langsung menyuruh orang untuk mencari keluargamu?" Kania menatap Kenan. "Karna aku ingin kamu kembali mewujudkan apa yang ingin kamu capai sebelumnya. Aku tidak ingin kamu hanya berakhir di rumah dan mengurus keluarga. Aku ingin kamu bahagia dan berkarya atas dirimu sendiri. Kebahagian sejati hanya didapat dari dalam diri kita, bukan orang lain. Prinsip hidup ini hanya satu, mencapai kebahagiaan."
"Tapi, aku bahagia diam dirumah, mengurusmu, mengurus keluarga kita dan.... "
__ADS_1
"Aku tahu kamu bahagia! Kamu pintar, bijak, dan berkompeten. Jika, itu tidak diasah dan digali lebih dalam, itu akan menjadi sia-sia Kania. Belajarlah untuk mengembangkannya agar menjadi berkat untukmu dan orang lain." Hening, "Bersiaplah karna aku akan mengantarmu ke kampus."
- Perjalanan menuju kampus.
Kania seperti terpukul atas omongan yang dikatakan Kenan. Pikirannya pun mulai terbuka atas kehidupannya yang flat tidak terlalu banyak sensasi, mungkin karna selama ini keluarga kakek Amonade selalu melindunginya. Bahkan, terkadang Kania yang selalu ingin keluar dari zona nyaman itu. Tetapi sekarang, ketika ada pria yang membantunya keluar bahkan mendukungnya, ia tidak mau.
"Ken."
"Hem?" Suara lembut
"Maafkan aku!"
"Untuk apa?"
"Seharunya aku beruntung dan berterima kasih padamu, karna kamu mau memikirkan kehidupanku sedalam ini."
Kenan mengelus lembut rambut Kania sambil tersenyum tulus.
"Aku suamimu Kania, sudah sepatutnya kita melakukan hal ini. Apalagi, karna aku mencintaimu." Kembali menyetir sambil berbunga karna bahagia.
Kania dengan cepat mengalihkan wajah dan mencoba untuk mengontrol detakan jantungnya.
"Kamu tidak ke kantor hari ini?" mengalihkan pembicaraan.
"Setelah aku mengurus sesuatu di kampusmu. Aku akan pergi ke cabang perusahaan Ganendra."
"Mengurus apa di kampusku? apakah ada maslah juga di cabang?." Selidik Kania.
"Urusan penting anak kecil ngak boleh tahu. untuk cabang, iya aku akan membantu Ganendra saat ini. Kakek yang mengutusku."
"Bagaimana dengan kantormu?"
"Sambil-sambilan sayang."
"Wah, suaminya Kania Amonade Ganendra, hebat banget ya. Totalitas tanpa batas dalam bekerja."
"Jelas dong, makanya beruntung kamu menikahi pria sepertiku. Udah pekerja keras, sayang istri lagi."
"Hem, naik deh kupingnya. Langsung beribu pujian untuk muji dirinya sendiri."
"Kalau, enggak diri kita siapa lagi coba?" Tersenyum melihat ke arah Kania yang membuang wajahnya ke arah jendela mobil.
####
Hai sobat lnya author, terimakasih buat yang udah komen, like, fav, dan kasi vote, rate, serta hadiah. Dukung author terus ya.
Semangat buat kalian yang sedang berjuang saat ini. Heheh, karna author juga sedang berusaha untuk berjuang.
salam author dari 'K&K' untuk semuanya. Semangat pantang menyerah ya. 💖💪
__ADS_1
peyuk cium peyuk cium***.