
#Sebelumnya
"Kemari biar kupeluk." Kenan memeluk Kania dengan erat sambil mengusap dan mencium pucuk rambut Kania. Kania terkejut melihat perlakuan manis dari Kenan. Dengan malu-malu Kania mencoba untuk membalas pelukan itu.
#Selanjutnya
"Aku sangat merindukanmu Kania, apalagi rindu berdebat denganmu. Apakah kau tidak merindukanku?"
Kania melepaskan pelukannya dari Kenan, Ia menggelengkan kepalanya dengan manyun.
"Kenapa?" Tanya Kenan yang sedikit kesal.
"Kenapa kau tidak pernah mengabariku?"
"Kebiasan dirimu memang seperti ini, baru saja kita baikan sudah memancing perdebatan denganku." Kenan berdiri dan sedikit menjauh dari Kania dengan wajah kesal.
"Emang apa yang telah kulakukan sehingga memancingmu untuk berdebat?" Kania ikut berdiri
"Kau selalu menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan darimu?"
"Apakah aku salah bertanya seperti itu kepadamu? Memang benarkan, kau tidak pernah sekalipun untuk menghubungiku hanya sekedar untuk bertanya keadaanku?" Kania menyilang kedua tangannya didada. "Lagi....., pula... bukankah kau ..... rindu untuk berdebat denganku? Terus dimana salahnya?" melirik ke arah Kenan.
Kenan juga melirik ke arah Kania setelah perkataannya itu. Mata mereka pun beradu hingga pada akhirnya mereka tertawa bersama-sama.
"Apaan sih, kok ngak jelas gini." Kenan tersenyum. "Maafkan aku Kania..... kakek menyuruh kami untuk tidak menghubungimu. Awalnya aku menolak, tapi darah tinggi kakek kumat. Jadi, aku pun tidak dapat untuk membantahnya." Kania yang mendengar pengakuan Kenan menjadi sedih. "Jangan sedih seperti itu, kakek menyanyangimu Kania. Kan sudah ku bilang jika ia sendiri yang akan menjemputmu. tapi, keadaan nenek tidak mengizinkannya." Kania mengangguk mengerti.
"Ya, sudah nyonya Kenandri Ganendra ayo kita makan, aku sudah sangat lapar." Menagmbil piring diatas nakas dan duduk di sofa.
"Makanlah aku akan makan di bawah nanti."
"Ngapain makan dibawah? ini makananmu yang kubawa."
"Terus makananmu mana?"
"Kau ini tidak romantis ya. Sepiring berdua, satu sendok untuk berdua, dan satu gelas untuk berdua. Malam ini aku ingin serba berdua denganmu. Ini obat rindu untuk beberapa minggu tidak menghubungimu." Kenan tersenyum manis lalu menaik turun kan alisnya kepada Kania.
"Apaan sih, dasar tukang gombal." Kania malu-malu.
Mereka pun menghabiskan malam dengan serba berdua seperti yang dikatakan Kenan padanya.
*
Matahari pagi membangunkan sepasang suami istri yang belum mengerti perasaan mereka masing-masing terhadap satu sama lain. Kania membuka matanya dan melihat matahari telah bersinar terang, tidak biasanya dia bangun telat seperti itu. Entah apa yang membuat dirinya senyenyak itu tidur, Apa karna mengobrol bebas bersama Kenan melepas rindu mereka? atau karna Kenan yang memeluknya erat dari belakang membuat kenyamanan tersendiri? entahlah yang pasti saat ini Kania berusaha meronta melepas pelukan Kenan darinya.
"Ken, lepaskan. Ini sudah terlalu pagi, kita kesiangan loh."
"Sebentar lagi Kan, emangnya ini jam berapa?"
"Coba kamu lihat jam makanya."
Kenan melirik jam meja di samping nakas tempat tidurnya.
"Astaga Kan, jam 8. Aku harus menemui kakek, pasti ia telah menungguku. Kemarin kami akan menemui pak sugeng yang menjual perkebunannya." Tergesa-gesa untuk mengambil handuk.
__ADS_1
"Kenapa harus terburu-buru? sebentar lagi saja Ken.... Ken...." Ledek Kania melihat Kenan yang tergopoh-gopoh untuk mandi.
Kania bangkit untuk merapikan tempat tidur, menyiapkan keperluan Kenan, lalu turun ke bawah.
*
"Pagi bibi, kakek, dan adik bawelku" mengacak-acak rambut Linda.
"Wah, wah wah. Tumben sekali ibu kita ini telat bangun? biasanya paling awal untuk menyambut pagi. Perasaan udah kadaluarsa deh kalau disebut penganten baru. Wuahahahah." Diikuti tawa semua orang.
"Penganten lama Lin, tapi rasa baru." Sambung bibi, dan tawa mereka pun berhasil membuat Kania tersipu malu.
Kenan datang dan sudah dengan pakaian rapinya, ia pun menyapa semua orang.
"Pagi kakek, bibi, Linda."
"Wah cerah banget ya kak wajahnya, gimana rasanya?"
"Rasa? rasa apa?" Tanya Kenan polos, Kania menatap tajam mata Linda
"Rasa malam pengantinnya?" Kenan terbelalak lalu memandang ke arah Kania. Kania tertunduk menahan rasa malu.
"Astaga, Linda. Sudah, sudah jangan mengganggu kakak iparmu. Biar dia sarapan dahulu, kakek dan kakak iparmu akan pergi." Linda tersenyum penuh kemenangan karna sudah berhasil membuat kakaknya tersipu malu.
*
Kania kembali mengantarkan makan siang kepada Paman di perkebunan. Dalam perjalanan Kania kembali bertemu Reno, Reno memberikannya tumpangan ke perkebunan.
"Bagaimana urusannya kak Ren? Apakah berjalan dengan lancar?"
"Bagus lah kak, Kania senang mendegarnya."
"Iya Kan. Kania apakah malam minggu ini kamu ada acara?"
"Acara? Kania rasa tidak ada kak. Emang kenapa kak?"
"Hem, tidak. Kakak ingin mengajakmu malam mingguan."
"Hahahaha, malam mingguan. Maksud kakak berkencan atau gimana nih?" Tanya Kania dengan polos.
"Hahaha, jangan terus terang begitu dong Kan. Kakak kan jadi malu."
"Hahaha, tapi maaf kak Kania tidak bisa."
"Kenapa?"
Tanpa terasa mereka telah sampai di perkebunan dengan selamat sentosa.
"Hem, kakak harus meminta izin dulu sama...."
"Kania..." Seseorang memanggil Kania. Reno dan Kania menoleh ke arah sumber suara.
"Kakek."
__ADS_1
"Kania, siapa ini?"
"Kak Reno kek, abang kelas Kania waktu SMA dahulu."
"Hallo kakek, saya Reno."
"Hai Reno, perkenalkan ini Kenan menantu cucu saya Kania."
"Apa suami? " Reno tampak begitu terkejut ditatapnya Kania, begitu juga dengan Kenan yang melihat hal itu melirik ke arah Kania penuh dengan tanya.
"Kenandri." Senyum terpaksa sambil menawarkan berjabat tangan
"Reno." Senyum terpaksa, membalas penawaran jabat tangan itu. "Kalau begitu saya permisi dulu ya Kek, Kenan, Kania."
"Iya, hati-hati ya."
"Hati-hati kak Reno." Kania melambaikan tangannya dengan senyuman imutnya.
"Iya." Membalas Kania dengan senyuman manisnya. Kenan terlihat kesal dengan interaksi istrinya dan orang asing teman istrinya itu.
Kenan mendekat ke arah Kania lalu membisikkan Kania dari belakang
"Romantis banget ya. Kak reno."
Kania bergedik geli di telingganya lalu memandang ke arah Kenan mencerna setiap kalimat yang diucapkan.
"Maksudnya?"
Kenan menatap Kania sambil memanyunkan bibirnya, tersenyum ke arah kakek dan mengajaknya pergi kembali menemui paman.
"Ayo kakek." Memegang bahu kakek.
Kania mengernyitkan dahi melihat tingkah Kenandri barusan, lalu mengikuti mereka menemui paman.
**************
Bersambung.....
Besok lagi ya sobat K&K
Hai semua, mohon dukungannya ya untuk novelku ini.
Agar author bisa semakin semangat lagi dalam menulis K & K
Rate, Like, Fav, dan komennya ya, untuk membantuku membenahi tulisan....
Semoga kalian suka dengan ceritaku ini.....
Maaf, sebesar-besarnya jika ada yang kurang berkenan.
Author hanyalah menulis dengan isi pikiran yang terkadang susah untuk di tuangkan dengan kata-kata.
Jadi, mohon pengertiannya ya sobat-sobat ku.
__ADS_1
Salam sayang author untuk kalian semua sobat- sobat ku...