
Kediaman Ganendra
Hari ini keluarga Ganendra kedatangan tamu, pukul 7 lewat malam hari,yang sangat mereka hormati yang telah menjadi bagian dari keluarga mereka. Siapa lagi kalau bukan keluarga dari Amonade. Kakek Koba, paman, bibi serta Linda datang untuk menjumpai Kania. Mereka ingin memberikan kejutan kepada cucu kesayangan kakek Koba itu.
“Koba, Saudaraku.” Kakek Ganendra memeluk sahabat yang telah ia anggap sebagai saudara itu
“Sopyan.” Kakek Amonade membalas pelukannya
“Bagaimana kabarmu? Kenapa kalian tidak memberitahukan kami jika kalian ingin kemari?”
“Emangnya kenapa? Kamu ingin mencari alasan untuk tidak memperbolehkan kami kemari?”
“Oh, Cemon Koba pintu rumah ini terbuka 24 jam untuk kalian. Aku hanya ingin membuat persiapan untuk penyambutan besanku ini. Apalagi ini adalah kedatanganmu yang pertama setelah sekian abad lamanya, dan aku juga ingin menjemput kalian langsung.”
“Kau tidak pernah berubah, kau selalu berlebihan jika menyangkut diriku Sopyan.”
“Kau benar Koba, aku sanksi jika selama ini dia diam-diam mencintaimu daripadaku.” Sambut nenek Nasya yang datang dari arah kamar-nya.
Mendengar hal itu semua keluarga ganendra yang sudah berkumpul tertawa bahagia. Kakek Ganendra pun mempersilahkan mereka untuk duduk. Kakek Amonade memperjelas kedatangan mereka yang rindu serta ingin bersilahturahmi dengan keluarga Ganendra. Ia ingin memberikan kejutan untuk Kania, Kenan, serta seluruh keluarga besannya.
Awal perbincangan sangatlah mulus dan menyenangkan, hingga akhirnya kakek Ganendra menceritakan semua kejadian yang telah terjadi di rumah mereka, dan keberangkaan Kania ke Kolkuta.
Kakek Koba dengan raut wajah yang kesal dan ingin memaki besannya itu hanya menahan hasrat marahnya. Dengan segera ia mengeluarkan ponselnya dan membuat panggilan kepada Kania.
-
Kania duduk dikursi rias miliknya, pikirannya melayang-layang tentang apa yang akan terjadi selanjutnya tentang pencarian kedua orangtuanya. Apa yang harus ia lakukan? Apakah ia akan sanggup melihat kedua orantuanya? Orang tua yang tidak mengharapkan kehadirannya. Oh, tuhan ia sungguh frustasi memikirkan itu semua. Sebuah panggilan menyadarkan pikirannya.
“Kakek (Kakek koba)?” dengan segera Kania mengangkat panggilan itu.
+++++
“Hallo kek, apa kabar? Kania rindu dengan kakek.”
“Dasar cucuku ini, berani-beraninya kamu tidak memberitahukan atau pun meminta izin kakek jika kamu sudah berada di Kolkuta sekarang? Apakah kau tidak menganggap kakekmu ini lagi?”kakek memarahi Kania atas sikap yang Kania ambil untuk tidak memberitahukan dirinya ataupun meminta izin pada kakek tersayangnya itu.
Dengan panjang lebar dan segala runtutan wacana yang diberikan kepada kania. Kania hanya menjadi pendengar yang baik atas kekescewaan yang kakek Koba rasakan.
__ADS_1
“Sudahlah, kenapa kamu memarahi Kania? Aku yang mengizinkannya untuk pergi kesana. Berani sekali kamu memarahi cucu menantuku itu.” Terdengar suara kakek Sopyan yang tidak terima jika Kania dimarahi
“Bagaimana aku tidak kesal, sebaiknya kamu diam Sopyan dan jangan ikut campur. Harusnya, kalian memberitahukanku masalah ini.”
“Kenapa malah aku yang kamu suruh diam? dan perkataan macam apa itu? tidak mencampuri urusanmu? Ingat Koba, Kania sekarang adalah keluargaku. Apapun yang menyangkut keluarga ini, itu adalah urusanku.” Kakek Sopyan tersulut emosi
Kakek Sopyan dan kakek Koba terdengar sedang berselisih paham satu sama lain. Itu membuat semua keluarga Ganendra dan Amonade yang telah datang dari Kampung untuk bersilahturahmi menjadi tegang.
“Apa-apaan ini, kenapa kalian seperti anak kecil sih? berikan poselmu Koba.” Nenek Nasya menengahi perdebatan orangutan itu.
“Hallo,Kania sayang. Bagaimana kabarmu nak?”
“Ba-ba-ik nenek.” Kania sedikit gemetar karna terkejut dan merasa tidak paham atas situasi yang dialaminya sekarang.
“Kania, jangan pedulikan omongan kedua kakek mu ini ya. Biasa mereka lagi PMS makanya seperti ini.”
“PMS?” Jawab serentak kedua pria tua itu.
“Emangnya aku wanita?” Jawab kakek Koba tidak terima dengan wajah yang kesal
“Entahlah sejak kapan aku menjadi wanita?” Jawab kakek Sopyan ikut tidak terima dan berwajah kesal.
“Emangnya kalau orang bertengkar itu pasti wanita?” Jawab kakek Koba
“Entahlah, sepertinya kamu udah gesrek sayang!” Sambung kakek Sopyan
“Syukurlah kamu sadar Sopyan, seharusnya dari dulu kamu sadar jika Nasya itu sebenarnya gesrek.” Wah, kakek Koba kamu terlalu jujur heheheh.
“Oho, gesrek? Sekarang kalian bilang akunya yang gesrek? Iya?” Nenek Nasya mencubit telinga kakek Sopyan dan kakek Koba.
Kakek sopyan dan kakek Koba merintih kesakitan. Hal itu sedikit mencairkan suasana yang tegang menjadi jenaka.
“Kalau kalian bukan wanita, jangan adu mulut doang dong. Seharusnya kalian seperti ini. (mempraktikkan dengan tangan dikepal untuk meninju dan memukul kedua pria tua itu). hu… hu.. hu… (membuat suara memukul)”
“hahaahah” semua orang tertawa termasuk Koba dan Sopyan.
“Sudah sayangku, sudah maafkan kami ya” memeluk nenek Nasya.
__ADS_1
“Langsung tonjok-tonjokan dong itu namanya laki. Betul ges.”
“BETUL” serentak semua orang.
Kania yang mendengar suasana sudah mencair dan kembali normal merasa tenang. Nenek Nasya mengakhiri panggilannya untuk tidak membuat Kania merasa cemas sewaktu-waktu ada yang terjadi pada mereka. Secara jauh banget ges jarak mereka.
-
Kenan datang dan memberi salam kepada semua orang, Ya, Kenan memang dengan kesibukkan-nya saat ini dalam mengelola perusahaannya sendiri. Tidak dipungkiri Kenan adalah cucu menantu yang sangat ia sayangi,
ketika ia datang saja, Koba langsung memeluk Kenan dan mempersilahkannya untuk duduk dan memintanya untuk memberikan penjelasan.
-
Akhirnya semua berakhir, saat ini Kenan sudah bersih dan siap untuk merebahkan dirinya diatas ranjang kingsize miliknya. Ia mengambil ponsel yang ia taruh diatas nakas dan melihat panggilan tidak terjawab 14 kali dari Kania. Dengan segera ia memanggil Kania kembali dan menceritakan semuanya kepada Kania karena tampak Kania sangat khawatir kejadian yang ia dengar terjadi kembali.
+++++
“Apakah, mas beritahu alasanku datang kemari?”
“Tidaklah sayangku, kalau kuberitahu pada mereka apa alasan utamamu kesana. Bisa- bisa kamu akan langsung mas jemput hari ini juga. Hahaha.” Dengan sedikit candaan agar Kania tidak tegang.
“Huft, apakah aku be….” Sepertinya Kenan sudah tahu akan apa yang ingin dikatakan istrinya itu. Ia pun langsung memotongnya.
“Sudahya istriku, jangan khawatir. Aku akan mengurus semuanya apapun yang terjadi,tenanglah. Sekarang fokusmu adalah mencari, lalu banggakan suamimu ini dengan menyelesaikan kuliahmu.”
Kania yang mendengar itupun sedikit terharu dan menjadi sedikit tenang. Mereka pun mengakhiri panggilan mereka dan beristirahat.
+++++
-
Kediaman Cahyono
Ibu Sandra serta beberapa pekerja dirumahnya sedang sibuk merapikan sebuah gudang di halaman belakang rumahnya.
“Bibi, ini tolong dibuang saja semua kardusnya. Ngak usah ditumpuk begini, hanya memenuhin tempat saja.”
__ADS_1
“Baik nyonya.” Pekerja tersebut langsung melaksanakan perintah dari majikannya.