
Hallo sahabat readers Kenan dan kania. Maaf beribu maaf untuk tidak dapat update beberapa kurun waktu yang lama ini, dikarenakan kesibukan dan pikiran Author. Tetapi untuk mengobati rasa rindu kalian semuanya. Author akan Update 2 kali untuk hari ini. Jadi, buat penggemar Kenan dan Kania siapkan Jempol Like, Rate, Fav, dan komen kalian ya 😂.
Dukung Author biar semakin semangat buat nyelesaikan Novel Kania dan Kania ini. Oh, iya cerita sedikit boleh kali ya. Author sebenarnya udah ngak mau ngelanjutin Novel ini lagi. Tapi Author keinget sama readers yang setia kepada Kenan dan Kania. So, mohon dukungan readers semuanya. Kalau novel Kenan dan Kania ini mau dilanjutkan sampe tamat tolong komennya. heheh. 😆😊
-
Semenjak terakhir kali Kenan mengantarkan Sandra pulang kerumahnya, Sandra hanya mengurung diri dikamar. Sama hal nya seperti Kania yang tidak masuk kampus beberapa hari ini. Sandra juga seperti itu, ia merasa tidak ingin melakukan aktifitas apapun selain mengurung diri di dalam kamarnya.
Ayah dan Ibu Sandra semakin khawatir dengan kondisi Sandra. Beberapa kali mereka meluangkan waktu bersama Sandra tetapi tetap saja Sandra seperti itu.
-
"Pah, mama semakin khawatir dengan keadaan putri kita. Apa yang harus kita lakukan saat ini?" menangkup wajahnya dengan kedua tangan yang sikunya di berada di pangkuan. karena merasa frustasi.
Ayah Sandra menghampiri istrinya tersebut lalu membawanya ke dalam pelukannya untuk menenangkan kefrustasian istrinya tersebut.
"Tenanglah mah, papa yakin sebentar lagi anak kita akan melakukan aktifitas seperti biasanya kok. Jadi mamah tidak perlu khawatir ya."
"Sampai kapan pah? sampai kapan? huhuhuhu" menangis dalam pelukan suaminya.
Ibu Sandra yang telah jelas mengeluarkan airmata dipipinya, seketika tegar dan mempunyai ide untuk membuat anaknya tersebut agar kembali seperti biasanya.
"Pah, mama baru ingat. Dulu waktu Sandra masih kecil dia juga seperti inikan? gara-gara temannya? dia kembali seperti biasa lagi ketika mama memasakkan makanan kesukaannya."
"Oh, iya. Mama yakin ingin memasak untuknya?"
"Emangnya kenapa pah?"
"Itu kejadian sudah lama loh mah. Mama bisa?"
"Ih, papa. Papa meragukan mamah?"
"Bukan meragukan mah, tapi sanksi." menegaskannya dengan mendekatkan wajah kepada istrinya.
"Ye, begini juga mamah tetap jago loh pah? sekalipun udah lama ngak masak, tetapi keahlian mama tetap memupuni!" menunjukkan ototnya kepada suaminya.
"Kalau diranjang masih?" memainkan alisnya.
__ADS_1
"Papa, udah tua masih aja mesum." Melemparkan bantal kearah suaminya dan tertawa bersama.
Seketika mereka terdiam dan hanyut dalam pikiran masing-masing.
"Sudah lama ya mah. Kita tidak saling bercengkrama seperti ini." Memegang tangan istrinya.
"Iya pah, lama sekali..... Mamah jadi merasa bersalah kepada Sandra pah."
"Bersalah? kenapa?"
"Mamah masih belum bisa jadi ibu yang baik untuknya. Selama ini kita sibuk dengan dunia kita masing-masing. Kita melewatkan tumbuh kembang putri kita."
"Benar mah, papa juga merasa bersalah. Kita tidak bisa merawat anak kita dengan baik. Papa akui sifat manja, dan kekanak-kanakan nya itu terkadang terlalu kelewatan. Papa tau itu karna kita yang terlalu menuruti setiap keinginan dirinya."
"Sudahlah pah... yang berlalu biarlah berlalu. Kita diberikan waktu untuk menyadari semua ini. Jadi sekaranglah saatnya kita mulai lagi membangun keluarga kecil kita."
"Benar mah, saat ni kita mulai kembali membangun keluarga kecil kita." ayah dan ibu Sandra berpelukan satu sama lain.
Dari ujung sudut sana Sandra mendengar setial perkataan yang dilontarkan oleh ibu dan ayahnya. Ia Menahan getir perasaannya melihat kedua orang tuanya yang sadar dan sangat sayang padanya. Ia pun kembali kekamar dan menangis disana.
-
"Bukan seperti itu Ken maksudnya!" Kania menegaskan katanya sekali lagi.
Kenan terdiam dan menatap sebentar kearah istrinya. Lalu menatap kedepan dengan wajah yang sedikit kezal.
"Maksudku adalah alangkah lebih baik kalau kita membantunya kan?" Menatap Kenan yang tidak lagi berbunyi. Kania memandang wajah Kenan yang ditekuk karna kesal.
"Kamu marah Ken?"
Kenan diam tak membalaz.
"Hem, uluh uluh. ngak usah ditekuk begitu gantengnya hilang loh. "Kenan masih dengan wajah kesalnya.
Kania masih memperhatikan Kenan yang kesal hingga mereka tiba di pusat perbelanjaan untuk membeli kebutuhan dapur mereka yang telah habis.
Kania meraih lengan Kenan dan menggelantunginya sambil berjalan. Kania membujuk Kenan gengs supaya jangan kesal heheh.
__ADS_1
Beberapa kali Kania berbicara kepada Kenan. Tetapi Kenan tampak tak menggubrisnya. Sampai pada akhirnya mereka telah selesai berbelanja dan telah sampai diparkiran mobil, Kania pun frustasi lalu menumpahkan kekesalannya.
"Kamu kenapa sih Ken? ada masalah? bicara dong, jangan begini. Aku ngak suka!" Kania menghadapkan Kenan tepat dihadapannya
Kenan tetap mengacuhkannya dan memasukkan belanjaan mereka ke dalam mobil.
"Ken, maaf kan aku ya. Aku yang salah. Please jangan keliatan kesal begini dong. Sungguh aku ngak suka." Kania kehilangan cara untuk membujuk Kenan. Ia pun memeluknya dari belakang.
Awalnya Kenan tetap mengacuhkannya. Hingga ia mendengar suara tangisan kecil Kania. Kenan telah selesai memasukkan belanjaan mereka. Ia pun membalikkan badannya lalu memeluk Kania. Setelah dirasanya Kania cukup tenang. Ia duduk dan menghadapkan dirinya kepada Kania sambil mengusap air mata Kania.
"Jangan menangis, maafkan aku. Aku tidak bermaksud melukai hatimu. Aku hanya kesal ketika kau memanggilku dengan menyebut namaku. Bukankah kita telah sepakat kemarin malam untuk tidak memanggil dengan sebutan nama?"
Kania mengganggukkan kepalanya.
"Maaf Ken, aku lupa. Soalnya aku sudah terbiasa dan nyaman sih memanggilmu dengan sebutan nama."
"Ya, sudah aku maafin. Tapi, cobalah untuk belajar, tidak memanggilku dengan sebutan nama. Ok sayangku."
Kania tersenyum tipis manis dan mengangguk.
"Satu lagi, jangan pernah menagis untuk mendapat maaf, perhatian ataupun apapun itu dari ku. Kau, tahu rasanya sakit sekali. Seolah-olah kau menjatuhkan diriku dari langit dan dibawahnya ada beribu pedang tajam yang siap menancap pada diriku. Kau mengerti."
"Baik, siap pak bos."
"Bagus, ini baru istriku."
Ketika Kania akan masuk kedalam mobil tiba" terdengar suara mobil yang menabrak seseorang tidak jauh dari tempat mereka.
Kania dan Kenan berlari melihat ibu" yang tertabrak itu. Sedangkan supir mobil itu melarikan diri.
"Ibu, tidak apa-apa? "
"Ya, nak. tidak apa-apa."
Kania dan ibu itu tampak terkejut ketika mata mereka saling bertemu satu sama lain.
"Loh, ibu. Yang waktu itu kan.?"
__ADS_1
"Eh kamu. Wah, semesta mempertemukan kita kembali ya." Memeluk erat Kania dan Kania pun membalasnya.
"Iya bu, saya senang bisa berjumpa dengan ibu kembali. Kemarin saya juga berharap bisa beremu dengan ibu. Eh, rupanya tuhan mengizinkan kita untuk berjumpa disini.,"