Kenan Dan Kania

Kenan Dan Kania
Bertemu Pria Asing


__ADS_3

Kania dan Kenan bergegas turun kebawah untuk sarapan pagi. ketika kenan akan berangkat kania mengingat jika hari ini ia ingin pergi ke toko buku. ia pun berpamitan kepada kenan.


"apakah aku bisa pergi ke toko buku hari ini?"


"untuk apa? kan diperpustakaan banyak buku."


mendengar jawaban kenan yang sepertinya tidak akan mengizinkannya pergi, membuat ekspresi senyuman memelasnya menjadi kecut. melihat hal itu kenan sedikit menarik bibirnya karna geli melihat ekspresi yang dibuat oleh kania.


kenan berjalan masuk ke arah mobil, sedangkan kania berdiri menghadap arah samping mobil kenan (menunggu keberangkatan kenan). kenan menurunkan kaca mobilnya dan menyuruh Kania ke arahnya.


"kemarilah" panggil kenan. kania pun menghampirinya


"sudah jangan ditekuk begitu wajahmu. ini (memberi sebuah kartu kredit)"


"kartu kredit?"


"harusnya sudah lama kuberikan padamu, karna sibuk bekerja aku sampai lupa untuk memberikannya. kartu kredit itu punyamu, pergilah ke toko buku dan belanjalah sesukamu. jangan lupa izin sama orang rumah"


"benarkah? kau mengizinkan ku?" (ekspresi bahagia)


"hem, tadi aja wajahmu asem sekarang di manis-manis kan."


"hehhe, terimakasih Kenan."


"bersiaplah sana, aku berangkat dulu ya. dah."


"da dah" ekspresi semangat.


kenan pergi sambil tersenyum melihat ke kaca spionnya.


~


selang beberapa jam Kania sudah siap untuk pergi dan telah meminta ijin kepada orang rumah untuk pergi ke toko buku. diantar dengan sopirnya, ia pun sampai di sebuah toko buku terbesar di kotanya. Kania tampak antusias dengan tempat tujuannya itu, inci demi inci kania menelusuri tempat itu dilihatnya apa saja yang terpampang dengan jelas sebuah tempat yang indah. ia terlalu asyik dengan tempat itu hingga lupa bahwa ia sudah 3 jam berada di sana. ia pun bergegas mengambil buku yang ia baca untuk dibayar. tiba-tiba kedubrak. Kania menabrak pria yang tinggi berbadan atletis  didepannya.


"maaf, maaf saya tidak sengaja"


"tidak usah minta maaf mba saya yang salah karna badan saya yang besar dan menghalangi jalan anda."


Kania tertawa mendengar perkataan pria tersebut.


"kenapa mba? apakah ada yang salah?"


"tidak, tidak hanya saja kamu seperti memiliki badan gendut saja. hahaha"


kania tanpa henti terbahak-bahak dan menoleh ke arah mba- mba yang bertubuh gendut yang sedang memelototinya seperti ingin menerkam. seketika tertawa Kania lenyap dan menegun salivanya. pria itu pun malah tertawa melihat Kania.


"kamu senang melihat aku dipelototi seperti itu?"


"hahah, maaf- maaf."


Kania bergegas pergi ke arah kasir meninggalkan pria itu.


"berapa semuanya mba?"


"150.000 aja kak."


pria tersebut datang dan menyodorkan sejumlah uang untuk kasir tersebut.


"sekalian buku ini juga."


"kamu, (menatap pria tersebut) ngak usah mba, biar saya yang membayarnya." sambil mencari dompet didalam tasnya.


srek srek srek tangan Kania merogoh tasnya hingga membongkar isi tas di meja.

__ADS_1


"dimana dompet ku ya, apakah tinggal? tapi seiingatku aku membawanya tadi." tanya Kania dalam hati


"apakah sudah ketemu?"


dengan putus asa Kania menggelengkan kepalanya. pria tersebut tersenyum dan membayar belanjaan mereka. mereka belajar ke arah luar toko


"ini (memberikan kepada Kania)"


"untuk kamu saja, itu kan punyamu" (ditolak oleh Kania)


"kan, kamu yang menginginkannya bukan aku."


"tapi, kamu yang telah membayarnya."


"sudahlah, kata orang pemberian itu tidak boleh ditolak (memberikan langsung kepada Kania)."


dengan berat hati kania menerimanya dan merogoh tasnya untuk mengambil handphone


"ini berikan nomormu."


pria tersebut tertawa


"kenapa kamu tertawa?"


"apakah kamu beralasan dompetmu hilang agar kamu mendapatkan nomorku."


"hahhaha (tertawa terbahak-bahak sambil menepuk punggung pria tersebut)"


pria tersebut heran melihat tingkah Kania.


"hahha, sori sori sori kamu lucu sekali tau ngak, ya ampun, ha (menghela napasnya) dengar tuan dengan niat yang tulus aku hanya ingin mengembalikan uang mu saja, tidak lebih dari itu. lagi pula aku sudah bersuami."


"apa? kamu sudah bersuami? bercanda kamu"


"sepertinya kamu masih muda sekali"


"iya, aku menikah muda."


"kenapa? hamil?"


"ei, enggak lah. emang nya kalau orang menikah muda itu karna hamil ya?"


"mungkin. lalu karna apa?"


"dijodohkan."


"hari begini masih ada juga dijodoh jodohkan ya."


"ya, begitulah buktinya aku."


"bagaimana bisa kamu dijodohkan?"


kania menceritakan semua cerita perjodohannya kepada pria tersebut.


"hem, begitu. apakah suami mu baik padamu?"


"baik, dia sangat baik kok. hanya......"


"hanya, apa?"


"ya, ampun ini sudah jam berapa?"


"jam 3:30"

__ADS_1


"astaga aku harus pulang pasti mereka mencari ku."


"kemarikan handphone mu."


"untuk apa?"


"kamu bilang akan mengembalikan uangku."


"oh, iya maaf ini (menyodorkan hp nya)"


"namaku Leon, kamu?"


"kania, namaku Kania. dah."


"dah, hati-hati."


"iya, kamu juga."


~


setelah makan malam selesai dan perbincangan keluarga semua orang bergegas untuk beristirahat. di kamar Kania asik membaca buku yang dibeli olehnya di atas ranjang sambil menselonjorkan dirinya. kenan datang menghampiri sisi kania.


"kamu membeli buku apa saja?"


"buku ini (menunjukkan bukunya)"


"yang lain?"


"tidak ada hanya buku ini"


"hanya buku ini?"


"iya, kenapa?"


"dimeja makan kata mama kamu pulang sampai jam 4 sore tadi"


"iya, aku pulang jam 4 sore, lalu?"


"tunggu dari kamu chat aku, berangkat kesana itu jam berapa?"


"jam 11 lewat."


"jam 11 lewat sampai jam 4 sore kamu hanya membeli 1 buku ini?" melipat kedua tangannya


"iya, Kenan. memangnya kenapa?"


"jangan jangan kamu ngak pergi ke toko buku ya? jujur aja sama aku. ngak pergi juga ngak papa"


"kamu pikir aku bohong, iya?"


"aku kan ngak bilang kalau kamu bohong."


"tapi, maksud dari perkataan kamu seperti itu kan? Kenan dengar (memegang keningnya) kamu bisa bertanya sama supir yang membawa aku kesana, kalau kamu tidak percaya juga besok kita pergi ke sana buat cek CCTV biar kamu puas dan percaya sama aku."


"loh, kok kamu jadi marah?"


"wajar dong kalau aku marah sama kamu kenan, kamu menuduh aku berbohong loh, berbohong kepada ibu, nenek, kak kamila, dan kamu."


"tapi, kan aku ngak menuduh kamu kania."


"sudahlah, ini sudah malam. kamu tidur saja sana. aku juga sudah mengantuk. sepertinya kalau ngak berdebat sama kamu sehari kayak nya ngak bisa deh. ada aja yang mau diperdebatkan." kenan menutup bukunya dan meletakkan diatas nakas lalu menutup dirinya dengan selimut.


Kenan memandang Kania yang sudah menutup dirinya dengan selimut. tampak ia menyesali perkataannya yang secara tidak langsung memang telah menuduh kania berbohong.

__ADS_1


__ADS_2