Kenan Dan Kania

Kenan Dan Kania
Kak Reno


__ADS_3

Setelah beberapa jam perjalanan menuju kampung halaman menggunakan bis, akhirnya Kania telah sampai di depan gerbang rumahnya. Dihirupnya udara sebanyak-bayaknya menggunakan hidungnya, lalu mengeluarkannya perlahan-lahan menggunakan mulutnya. Kania menyorong koper memasuki gerbang depan rumahnya, sambil tersenyum.


Ketika mendekati pitu rumah, pak Alang terkejut gembira melihat kedatangan Kania. Ia berteriak memanggil semua orang dirumah.


"Kakek, Tuan, Nyonya, Non Kania sudha datang..." Beberapa kali. Kania tersenyum melihat aksi spontan pak Alang


"Wah, non. Pak Alang rindu, sini non pak Alang bantu bawa kopernya." Kania pun menyerahkan koper tersebut kepada pak Alang.


Bibi, paman, kakek, Linda, serta beberapa karyawan rumahnya juga ikut keluar. Mereka terkejut melihat Kania yang datang. Acara kangen-kangenan pun melanda, termasuk kakek ia memeluk dan mencium Kania begitu eratnya.


"Sudah, sudah acara kangen-kangenannya. Ayo, kita masuk Kania pasti lelah kan nak?" Paman mengakhiri drama itu. Mereka pun masuk ke dalam rumah dan melanjutkan drama itu.


*


Sepertinya kakek, bibi, paman mengerti arti kedatangannya Kania. Mereka mencari moment yang pas ketika berkumpul di ruang keluarga setelah makan malam untuk bertanya tentang kedatangannya sendiri tanpa pemberitahuan.


"Kania......"


"Ya, bibi."


"Apakah kami boleh bertanya?" Kania yang sedang memegang remot televisi mencari saluran yang diinginkan. Terhenti ia mengerti bahwa inilah saat yang tepat untuk berbicara sejujurnya kepada mereka. Ia pun mematikan televisi.


"Sepertinya tidak ada acara yang bagus ya. Tidak apa kan Kania matikan?". Semua orang mengangguk termasuk Linda yang juga mengerti bahwa sesuatu pasti terjadi kepada kakak sepupunya itu.


Kania menatap semua orang yang berwajah penuh tanya kepada Kania.


"Kakek, paman, bibi. Sebenarnya kedatangan Kania kemari karena Kania telah diusir dari rumah."


"Apa?" Serempak menjawab.


"Bagaimana bisa nak, ada masalah besar apa yang telah kau perbuat sehingga bisa diusir seperti ini?." Tanya bibi panik.


"Nak, jelaskan pada kami. Apa maksud dari perkataanmu itu?." Pungkas paman.


Kania mengumpulkan tenaga untuk menceritakan segalanya kepada mereka. Tetes demi tetes airmata berlinang di pipi Kania. Kakek datang duduk disamping Kania sambil mendekap Kania ke dadanya.

__ADS_1


"Sudahlah, sudah. Kakek Sofyan mungkin saat ini hanya sedang kecewa berat saja. Nanti jika matanya sudah terbuka. Ia pasti akan menyesal telah mengusirmu."


"Tapi, kek. Kania merasa sangat bersalah kepada mereka."


"Ini, sudah menjadi jalannya nak, mau diapakan lagi?. Sekarang Kania hanya tinggal berdoa serahkan semuanya kepada tuhan. Agar kakek Sofyan dan keluarganya memaafkanmu. Ok cucuku." Kania memeluk erat kakeknya sambil memperkuat tangisannya.


*


Seminggu berlalu begitu saja, tanpa kabar apapun dari Kenan dan keluarganya. Bak, ditelan bumi Kenan tidak memunculkan diri untuk sekedar bertegur sapa kepada Kania. Kania memain-mainkan telepon genggamnya dengan wajah kesal dan bibir yang memanyun. Ia pun menghempaskan telponnya di atas ranjang tidur.


"Apakah dia sudah tidak mengingatku lagi? hanya sekadar menyapa atau memberi kabarpun tidak dilakukannya. Apa dia benar-benar mencari wanita lain? Awas saja itu dilakukannya, aku tidak akan pernah memaafkanmu. Ihhhhhhhh." Kania mengacak-acak rambutnya sambil menginjak-injak kesal lantai kamarnya.


Ia pun duduk di samping ranjang sambil memandang ke arah jendela luar kamar.


"Leon, Cantika, mama, dan nenek juga tidak memberikanku kabar. Huft (menghela napasnya dengan berat) apa aku benar-benar sudah di depak dari keluarga itu. Ya tuhan, hidupku begini amat ya. Di usia begini sudah jadi janda. Hicks hicks hicks" Kania menangis tersedu- sedu.


Linda tidak sengaja masuk dan mendengar semua keluh kesah kakak sepupunya itu. Hatinya juga ikut bersedih mendengar hal itu. Ia mempunyai ide untuk menghibur kegundahan hati kakaknya itu.


"Kak KANIA...." Linda masuk dengan berteriak.


"Ihhh,,, kakak apaan sih? gitu aja kesalnya minta ampun. Kakak udah berubah."


"Maksudmu?" Tanya Kania serius.


"Iya, udah berubah. Kakak ngak ingat dulu kakak kalau masuk kerumah, ke kamarku, kemana-manaaaa pun pasti berteriak-teriak. Ingat ngak pas kakak mau dilempar sendal sama kakek karna masuk ke rumah kerumah teriak-teriak padahal lagi ada tamu penting. hahaha."


"hehehhe, iya ya. Waktu itu kakek benar-benar naik darah Lin. Karna tidak mengenaiku, dan aku juga memancing kakek. Kakek jadi mengejarku untuk melempar kembali sendalnya itu."


"Wuahahaha. Iya, iya apalagi pas....." Mereka pun bernostalgia ria membuat Kania tertawa.


*


Malam hari telah tiba setelah selesai makan malam, Linda menjalankan rencananya untuk mengajak Kania ke acara di balai desa. Walaupun dengan segala drama, keterpaksaan, dan permohonan untuk bisa membujuk Kania pergi. Kania dan Linda turun dengan setelan yang sangat necis membuatnya terlihat sangat imut dan cantik. Mereka pun berpamitan kepada kakek, ayah, dan juga bibi yang berada di ruang keluarga menonton siaran kesukaan mereka.


"Ma, kami pergi dulu ya."

__ADS_1


"Iya, kalian hati-hati ya." Jawab bibi.


"Kek, Kami pergi dulu ya." Mencium pipi kakeknya.


"Hati-hati ya cucu-cucuku."


"Linda jaga Kakakmu." Pinta ayah.


"Apaan sih ayah? kok jadi Linda yang jagain kak Kania? Wong udah besar kok. Lagipula, yang harusnya dijagain itu Linda bukan kak Kania. Kan Linda adiknya, kak Kania kakaknya."


"Saling menjaga sayangku." Jelas bibi.


"Terkadang Linda merasa ini anak Mama sama papa siapa sih? Linda atau kak Kania?" Tanya Linda


"Dua-duanya, ayo cepetan banyak omong kamu. Dah semua kami pergi dulu ya." Kania menarik lengan Linda untuk menyudahi pembicaraan yang tidak relevan itu.


*


Sesampainya disana semua orang telah berkumpul pesta juga baru akan dimulai. Semua muda-mudi desa tampak hadir di acara tersebut. Tampaknya, liburan telah tiba sehingga semua muda-mudi seumuran Kania yang sedang mengenyam pendidikan mereka dikota datang semua. Kania berbincang-bincang dambil bernostalgia dengan teman-teman sekolahnya dahulu.


Di ujung sebrang tampak seorang pria berbadan tinggi tegap memperhatikan setiap gerak-gerik Kania. Melihat Kania yang ditinggal sendiri oleh teman-temannya membuat pria itu mendekati Kania.


"Sudah lama ya." Kania menoleh mencari sumber suara tersebut. Betapa terkejutnya ia melihat pria itu, pria yang telah membuatnya ingin bersekolah di kolkuta.


"Kak..... Reno..."


"Syukurlah, kamu ingat. Kupikir kamu telah melupakanku." Kania tersenyum manis.


"Kamu tetap sama ya Kania."


"Hem...." Kania bingung


"Cantik, cantiknya ngak hilang." Wajah Kania memerah mendengar gombalan Reno.


Malam itu pun dikahiri dengan candaan dan gombalan dari Reno. Kania tidak menyangka pria itu masih tetap memiliki kehangatan yang sama kepadanya. Tidak ada rasa canggung disana, hanya kenyamanan dan ketenangan dalam perbincangan.

__ADS_1


__ADS_2