
Flash Back Off
Dengan panik ibu, serta nenek mendekap Kania dan memarahi kakek.
"Apa yang kau lakukan? lihat Kania yang tidak bersalah jadi terkena imbasnya." Sanggah nenek
"Tenanglah dulu Pa! Sri tahu ini berat untuk kita semua. Tetapi, kita bisa membicarakanya dengan baik kan? tidak dengan emosi seperti ini." Balas ibu Kenan
"Tidak, ibu, nenek. Kania pantas mendapatkan tamparan ini."
"Apa, maksudnya nak?" Nenek menatap kania penuh tanya.
"Sebenarnya Kania sudah mengetahui tentang kehamilan Cantika ..............."
Kania menceritakan semua dari kecurigaannya, mematai, hingga orang yang telah menejebak Cantika bersama Darta. Leon pun tidak tinggal diam, ia juga mengakui keterlibatannya untuk menyelidiki kasus Cantika. Berawal dari maksud Leon untuk membantu Kania, Berakhir dengan Emosi kakek, dan ayah yang sangat meledak.
Kakek dan Ayah tidak menerima jika Leon dan Kania merahasiakan kabar yang entah itu dikatakan baik atau buruk. Kekecewaan kakek kepada Kania pun diekspresikan dengan duduknya kakek diatas sofa sambil menundukkan kepala. Nenek berusaha untuk menenangkan kakek, tapi kekecewaan itu sangatlah mendalam. Kania bersimpuh di kaki kakek sambil meminta maaf dan menangis. Begitu juga dengan cantika dan Leon mereka mengatakan apapun akan mereka lakukan agar kakek bersedia untuk memaafkannya. Kakek terdiam tidak bergeming, ia pun mengakhirinya dengan sebuah keputusan.
"Cantika, Kania, dan juga Leon kalian adalah cucu-cucuku yang sangat kakek sayangi tetapi, kalian sangat-sangat menyakiti hati kakek. Leon baru saja keluarga ini kembali bahagia seperti dahulu, dalam sekejap semuanya sirna begitu saja. Kakek ingin kamu belajar bisnis bersama bang Jack sebagai staff biasa.
"Apa kek? tidak, Leon tidak mau belajar bisnis." Kakek menatap Leon dengan tatapan tajam, membuat Leon menundukkan kepala.
"Cantika kamu harta yang paling berharga dirumah ini, sebisa mungkin kami menjagamu dengan sangat baik. Tetapi, apa balasanmu kepada kami? Kamu tidak bisa menjaga kehormatan Ganendra. Kekecewaan kakek akan hilang ketika kamu menikah dengan pria yang akan kakek jodohkan kepadamu."
"Apa? tidak kek, Cantika tidak mau. Cantika hanya ingin menikah dengan Darta kek."
"Sekali lagi kamu menyebut pria itu kakek tidak akan segan-segan membawanya ke rumah ini dengan kain kafan." Bentak kakek.
__ADS_1
"Kek, cobalah mengerti Cantika. Darta tidak seperti yang kakek bayangkan." Cantika membela
"Tidak seperti yang kakek bayangkan bagaimana Kania? jika dia memang pria yang baik, dia akan mempertangung jawabkan ini semuanya dihadapan kami. tapi, apa buktinya? sampai sekarang pun dia tidak menampakkan batang hidungnya."
"Darta bertanggung jawab kakek, dia......"
"CUKUP, sudah cukup. Kamu ingin kakek maafkan bukan?" Cantika mengangguk. "Turuti perkataan kakek."
Cantika pun tidak dapat menerima itu semua, ia pun berlari menuju kamarnya.
Suasana menjadi hening sejenak, tiba saatnya giliran Kania.
"Kania, dengan berat hati kakek ingin kamu kembali pulang kerumahmu." Kakek berdiri dan pergi menuju kamarnya.
Jeduarrrrrrr,,, Bagai petir disiang bolong membakar habis jiwa dan raga Kania, tubuhnya bergetar, airmatanya mengalir deras keluar tanpa suara. Sebegitu besarkah kesalahan yang telah diperbuatnya bagi keluarga itu? hingga kakek mengusirnya langsung dari rumah yang telah menjadi bagian dari hidupnya sekarang dan masa depan.
*
Kenan pulang dengan suasana rumah yang begitu sepi seperti kuburan. Hiiiii atut...... heheh.
"Kemana semua orang? mengapa rumah sesepi ini?" Kenan menaiki tangga menuju kamarnya, alhasil tidak menemukan Kania?
"Kemana si kucing garong? tidak biasanya dia seperti ini? biasa dia menungguku! pasti ada yang tidak beres ini."
Kenan pun menjadi curiga, bergegas ia membersihkan diri dan mencari keberadaan mereka. Ketika ia di depan pintu kamarnya, ia menanyai seorang pekerja rumahnya yang lewat dihadapannya.
"Kemana semua orang?"
__ADS_1
"Di ruang makan pak."
"Ohw, kirain kemana."
"Saya permisi pak."
"Iya." Kenan pun menuju ruang makan.
-
Ketika Kenan tiba diruang makan, ia terheran karna dimeja makan tidak terlihat kakek, ayah begitu juga dengan Kania.
"Hai, sayang bagaimana harimu?" tanya ibu
"Hai ma, seperti biasanya baik ma. Kemana, kakek, ayah dan.... (mencari kesudut ruangan) Kania, kemana dia? dari tadi kucari tidak ada, biasanya dia sudah menyambutku?" Selidik Kenan.
Tiba-tiba dari arah kirinya seseorang menjawab sambil membawa nampan yang diatasnya tersusun gelas yang berisi air jahe.
"Aku sedang membuat jahe didapur, maafkan aku tidak menyambutmu." Kania menjawab
"Ya, biasakanlah seperti itu. Jangan salahkan aku jika suatu saat nanti aku akan mencari istri yang baru."
Prank, beberapa gelas yang tersisa di nampan terjatuh berdentang. Bagaimana tidak, baru saja kakek mengusirnya keluar dari rumah, kini Kenandri Ganendra suaminya mengatakan akan mencari istri yang baru. Semua orang menatap Kania begitu juga Kenan. Alangkah terkejutnya ia melihat raut wajah kania yang begitu sangat terpukul.
"Ma.... ma... afkan aku." Airmatanya serasa akan jatuh ia pun pergi meninggalkan mereka.
"Kan... kania" Kenan memanggil Kania dan mengejarnya hingga ke kamar.
__ADS_1
Semua orang di ruang makan mengerti perasaan Kania saat ini, merekapun melanjutkan makan mereka dengan wajah yang sangat sedih dan tak dapat berbuat apa-apa.