
#Sebelumnya
"Iya, hati-hati Ken." Jawab Kania lesu.
#Selanjutnya
Kania bingung mengapa Kenan menjawabnha dengan Ketus dan tidak bersemangat untuk makan siang bersamanya. Apa karna makanan yang disajikan Kania hanya terlur dadar dan nasi goreng yang dibuat Kenan untuk sarapan tadi pagi.
Kania yang bingung, apa yang telah terjadi pada Kenan langsung mengambil inisiatif untuk memasak makanan kesukaan Kenan. Ia juga tidak makan siang karna, Kenan juga tidak makan.
Kania melihat isi kulkas yang kosong, ia pun segera mengambil dompet untuk berbelanja di swalayan terdekat.
Kania sibuk mengambil bahan makanan untuk dimasak dan untuk persediaan. Kania melihat sebuah semangka, ia bingung bagaimana cara memilih semangka yang ranum.
Seorang wanita tua, berdiri disamping Kania dan mengajarkan Kania memilih semangka yang ranum. Kania senang melihat wanita itu, wanita yang cantik, baik, ramah, serta lemah lembut. Mereka pun berbincang-bincang hingga nongkrong bersama di cafe didekat swalayan.
Banyak hal yang mereka bicarakan, tetapi masih dalam kategori pembicaraan yang ringan dan santai. Mereka tertawa terbahak-bahak sungguh membuat Kania sangat nyaman dan menikmati ?suasana tersebut.
"Oh, iya kita dari tadi ngobrol-ngobrol tetapi belum sempat kenalan." Ibu
"Benar ya bu, mungkin karna asik berbincang ya." Tertawa bersama. "Kania bu."
"Kania!"
"Iya bu."
"Sarah, nama ibu Sarah."
"Wah, nama yang indah."
"Namamu lebih dari indah. Ibu sangat menyukai nama itu."
"Benarkah? hem, Kania juga menyukai nama ibu."
"Haha, jadi kita saling menyukai ni ya."
"Iya bu, Kania juga suka sama ibu. Cantik, ramah, baik, lemah lembut."
"Ibu juga, Kania Cantik, baik, imut."
"Ibu bisa aja." mereka tertawa bersama.
"Orang tuamu pasti beruntung punya anak sepertimu. Mau berbelanja dan masakin mereka."
"Oh, tidak bu. Kania berbelanja Untuk perbulannya Kania Dan suami."
__ADS_1
"Suami? hem, jadi kamu sudah punya suami toh."
"Iya, bu."
"Suamimu kerja dimana?"
"Di perusahaan bu."
"Wah, bagus dong."
"Sebagai apa?"
"Merangkap semuanya bu. Maklumlah, yang penting cukup untuk biaya hidup."
"Hem, iya iya benar itu yang penting bertanggung jawab atas hidupmu."
"Ya, dia orang yang sangat bertanggung jawab atas hidupku." Termenung.
"Sepertinya kalian saling mencintai satu sama lain"
"Kami dijodohkan bu."
"Benarkah? hem, yang penting suka sama suka."
"Tidak juga, penuh tantangan untuk sampai di posisi sekarang ini."
"Syukurnya tantangan itu telah terlewati dan saat ini aku tahu bahwa dia adalah pria yang tepat untuk hidupku."
"Wah, kalian sangat hebat bisa sampai ditahap menyatukan hati pada perjodohan ini."
"Terimakasih bu, doakan saja kami bisa mempertahankan pernikahan kami hingga akhir hayat."
"Amin, amin. Ibu akan mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua."
Kania tersenyum dan mengambil handphonenya untuk melihat waktu saat ini.
"Wah, kita mengobrol hampir 3 jam ya bu."
"Benarkah? wah sepertinya ibu harus pergi Kan. Lain kali bisa kita berjumpa?"
"Bisa bu, pasti."
"Kalau begitu tolong save no. mu di hp ibu."
"Baik bu. " Kania menyimpan nomornya pada handphone milik ibu Sarah. "Ini ya bu sudah Sarah simpan."
__ADS_1
"Terimakasih, atas waktu dan perbincangannya ya Kania. Ibu pamit dulu, sampai jumpa."
"Hati-hati ya bu dijalan, dah!" Kania melambai dan dibalas Ibu Sarah.
-
Kania sampai di apartemen, Ia langsung membongkar isi belanjaannya dan berkutik di daslam dapur.
Setelah semuanya siap, Kania membersihkan diri. Dengan perasaan yang segar Kania membuat dirinya tampil cantik untuk menyambut kedatangan Kenan.
Jam telah menunjukkan pukul 7 malam, tetapi tanda tanda kedatangan Kenan belum juga terdengar. Kania tetap berpikir positif.
"Mungkin Kenan masih sibuk dengan masalah cabang. Apalagi, sekarang ia memegang perusahaan cabang keluarga dan perusahaannya."
Detik, menit, dan jam telah terlewati hingga waktu menunjukkan pukul 11 malam.
Kania tidak bisa diam, ia sungguh gelisah. akhirnya memberanikan diri untuk menelpon Kenan.
"tit tit tit, Halo." Telpon Kenan yang semula diangkat langsung ditutup kembali. "Kenapa ia mematikan panggilanya? apakah aku mengganggu? tapi, ini sudah lewat jam kerja. Jika tidak ingin diganggu, kenapa tidak memberi kabar?" Kania kesal dan timbul pertanyaan-pertanyaan negatif dibenaknya.
-
Kania mengambil air didalam kulkas. Entah sudah berapa botol ia menghabiskan air itu. Hingga suara langkah orang masuk kedalam apartemennya terdengar. Kania dengan cepat mengarahkan pandangannya ke pintu masuk.
Kania melihat Kenan yang sungguh sangat berantakkan. Kania pun meninggalkan gelas dan botolnya di meja makan dan langsung menyambut Kenan.
"Apakah kau lelah?" Kenan mengabaikan Kania, tasnya langsung diletakkan diatas sofa, wajahnya sangat terlihat kesal dan ditekuk, ia merenggangkan dasinya lalu mengambil air dingin di kulkas.
"Jangan!." Mengambil gelas dari tangan Kenan dan menggantikannya dengan air hangat di dispenser. "Kamu pasti belum makan dari siang kan. Jangan minum air dingin dahulu, entar kamu sakit Ken."
Kenan meminum air hangat itu, tetapi tidak menjawab Kania. Ia melewati Kania begitu saja dan pergi ke kamar untuk membersihkan diri.
Kania kebingungan, apa yang telah terjadi hingga Kania juga merasakan dampaknya.
Kenan telah selesai membersihkan dirinya. Ia keluar dar kamar mandi memakai handuk dipinggang untuk mengambil baju. Kania dengan sigap memberikan baju tersebut untuk Kenan, tetapi Kenan menghindarinya dan pergi mengambil kaos malamnya di lemari.
Kania memandang Kenan penuh dengan perasaan yang bercampur aduk sedih, dan bingung.
Kenan selesai memakai pakaiannya dan pergi membaringkan tubuhnya diatas ranjang dengan posisi ke arah membelakangi posisi tidur Kania.
Kania yang tidak bisaa melihat Kenan uang tidur dengan perut yang kosong. Apalagi Kania sudah memasak makanan kesukaan Kenan.
Kania menghampiri Kenan yang berpura-pura memejamkan mata.
"Aku tau, kamu mungkin sedang banyak masalah dan pikiran. Tanggung jawabmu juga semakin berat. Tapi, itu tidak menjadi alasan untukmu menghukum diri dengan tidak makan Kenan." Kenan masih menutup matanya. "Kenan, mari kita makan. Aku sudah memasak makanan kesukaanmu. Pasti kamu suka, sedikit saja kamu makan. Ok!" Kenan tidak menggubris. "Ken, aku tidak masalah jika kamu tidak mengabaikanku. Tapi, kamu harus makan Ken. Kenan ayo! jangan seperi ini." menggiyasngkasn tubuh Kenan.
__ADS_1
Kenan sedikit kesal, Ia membuka matanya dengan ekspresi datar tetapi menahan emosi. Ia membalikkan badan membelakangi posisi Kania saat ini.
Kania yang mengerti jika saat ini Kenan tidak dapat diganggu, langsung meninggalkan Kenan. Kania membersihkan semua makanan diatas meja dan sebagian dibuang karna tidak dapat disimpasn kedalam kulkas. Sungguh pada saat makanan itu terbuang hati Kania sungguh teriris. Ia merasa di luar sana masih banyak orang yang membutuhkan makanan. Tetapi, ia malah dengan gampang membuangnya.