Kenan Dan Kania

Kenan Dan Kania
Bertemu ayah Sandra.


__ADS_3

Tanpa terasa sudah 2 hari semenjak kepergian Kenan meninggalkan kalkuta, di awal mungkin Kania merasa berat untuk meninggalkan Kenan, Tetapi semenjak dua hari belakangan ini malah Keenan yang merasa berat karena rindu.


wkwkwk dasar Keenan katanya rindu diberikan kepada Dilan rupa-rupanya rindu yang berat menghampirinya.


Seperti saat ini Kania sedang kewalahan menghadapi kebucinan sang suami ditelepon. Untung saja saat ini Kania sedang bersama teman-temannya di sebuah kantin kampus.


"Udah ya mas, aku sedang bersama teman-temanku saat ini."


"Terus gara-gara bersama temanmu aku tidak boleh menelpon."


" Iya Mas nggak boleh," dengan nada yang sedikit marah. Kania menghela nafasnya karena merasa tidak enak kepada suaminya. " huft, bukan begitu lho mas. Kita kan bisa melanjutkan perbincangan kita nanti. lagi pula sekarang kamu kan lagi kerja, jadi nanti aja ya kita sambung. Oke, dah suami ku tercinta."


cepat-cepat Kania mematikan telepon genggamnya.


" ribet banget ya, yang punya suami." kata veren


"Ngak juga sih, cuman kalau setiap beberapa jam dia menelpon, akunya kan risih." Jawab Kania


" kalian tuh lucu ya kan, Sayang aku kemarin kamu yang berat meninggalkan Kenan, eh sekarang malah Kenan yang berat Karena Rindu." Sanggah Jeje.


Mereka pun tertawa dan menghabiskan waktu mereka bersama tanpa gangguan dari Kenan.


Hem, mungkin Kenan udah sadar kali ya kalau Kania risih 😂.


-


Feren, Jeje dan Kania berpisah dari kantin. veren dan Jeje pulang ke rumah sedangkan Kania pergi ke perpustakaan.


Setelah cukup waktu sangking asyik dengan buku yang telah dipilih dan di serakan di atas mejanya. Kania pun memilih untuk menyusunnya kembali ke rak buku agar dapat pulang ke rumah. Setelah selesai menyimpan buku. Ia teringat ingin membaca buku buografi tentang seorang seniman terhebat didunia. Entah kenapa buku itu tersimpan di rak paling atas.


Kania berusaha untuk menggapainya. Ia juga sudah berusaha mencari tangga tetapi tidak menemukannya. Ia pun mengambil kursi dan seseorang yang sedari tadi memperhatikannya,lalu menawarkan bantuan.


"Sini biar bapak bantu."


"Terimakasih pak. Maaf merepotkan."


"Ya, tidak masalah. Buku yang mana?"


"Buku yang biru pak, biografi seniman cccc."


Tanpa berbasa-basi, bapak itu pun langsung mengambilkannya untuk kania.


"Ini bukunya."


"Sekali lagi saya ucapkan trimakasih kepada bapak karna telah membantu saya."


"Ia sama-sama, saya perhatikan kamu hobi sekali dengan membaca ya."

__ADS_1


"Begitulah pak."


"Saya salut banget sama anak muda seperti kamu yang senang dengan membaca. Apalagi di zaman ini. Susah banget untuk menemukannya."


"Hehehe, iya pak terimakasih atas pujian bapak." Kania menunduk sedikit memberi hormat.


"Siapa nama kamu nak?"


"Nama saya Kania pak."


"Ka- Ka- Nia?" Jawab bapak itu gugup


"Iya pak, Kania. Kenapa bapak gugup setelah mendengar nama saya?"


"Ha? tidak, tidak kenapa-kenapa. Nama itu seperti mengingatkan saya kepada seseorang."


"Hem, sepertinya nama itu sedikit berkesan hingga membuat bapak gugup seperti ini."


"Ya.... sangat berkesan hingga membuat saya tidak ingin mengingat nama itu." sedikit melamun namun, akhirnya tersadar ia telah menyinggung si pemilik nama.


"Owh, maaf saya tidak bermaksud." memandang Kania dengan perasaan menyesal


"Haha, tidak masalah pak. Saya mengerti bapak tidak bermaksud untuk menyingung saya. Mari pak, saya duluan." Tanpa berbasa-basi lagi Kania mengakhiri pembicaraan mereka.


-


Bapak yang ia temui di perpustakaan tadi datang menghampiri Kania. Ia menunggu supirnya datang.


"Naik apa kamu nak?" datang entah dari mana langsung berdiri disamping Kania.


"Naik bus, pak."


"Sepertinya hujan ini akan awet. Kenapa kamu tidak menaiki ojol saja?"


"Saya ingin saja pak menaiki bus. Tetapi, apa yang bapak katakan sepertinya benar juga. Kalau begitu saya pesan ojol saja pak sekarang."


"Hem, dimana rumahmu?"


"Di apartemen CVCV."


"Kebetulan kuta searah, kalau begitu kamu ikut saya saja."


"Apakah tidak merepotkan pak?"


"Tidak. Kenapa harus merepotkan? toh kita juga searah." Bapak itu tersenyum tulus kepada Kania.


"Baiklah pak, kalau begitu. Saya mau."

__ADS_1


Tak lama kemudian supir pun tiba. Kania dan bapak itu naik masuk kedalam mobil.


Dalam perjalanan hanya terdengar bunyi suara deras hujan. Entah apa yang sedang dipikirkan Kania saat ini. Yang pasti pikiran itu sungguh membuatnya terganggu. Hingga ia berani untuk bertanya kepada bapak itu.


"Maaf pak, jika saya lancang. Apakah boleh saya bertanya?"


"Ya, nak boleh. Kenapa tidak?"


"Sepertinya, bapak tidak menyukai "Kania" yang bapak maksud di kehidupan bapak?


Bapak itu memandang kearah Kania sekilas dengan perasaan tersentak. Lama Kania menunggu jawaban si bapak. Dan pada akhirnya ia pun menjawab.


"Jika, saya boleh memilih saya tidak ingin dia berada dikehidupanku."


Entah apa yang membuat perasaannya teramat terluka dengan kata-kata yang dilontarkan bapak itu. Tetapi ini seperti ia sedang ditusuk seribu belati yang datang menghujam.


"Kenapa?" Tanya Kania penasaran xengan jawaban si bapak tua itu.


"Maaf nak, saya tidak ingin membahas hal ini."


"Iya pak tidak masalah. Saya mengerti."


Mereka pun tiba di depan apartemen Kania. Supir memberikan payung untuk Kania. Kania sangat berterimakasih kepada bapak itu karna sudah baik dan perhatian padanya.


"Terimakasih ya pak, oh iya saya sampai lupa kalau boleh tahu siapa nama bapak?"


"Adi cahyono." mengarahkan tanganya untuk berjabat tangan.


"Adi cahyono? sepertinya saya pernah dengar." menjabat tangan bapak itu tetapi langsung menempelkannya di kening memberi salam hormat kepada orangtua. Membuat bapak itu tidak percaya begitu hormatnya Kania kepada orang yang lebih tua.


"Dikampus?" Kania memikirkan. "Kalau dikampus saya lebih akrab disapa dengan prof, cahyono."


"Prof, Cahyono?" Kania masih berpikir setelah itu terkejut. "Tunggu bapak ayahnya Sandra?"


"Kamu kenal putri saya?"


Kania hanya tersenyum sedikit ragu.


"Pak, sekali lagi saya berterimakasih ya atas semuanya. Selamat malam pak, hati-hati dijalan."


Ayah Sandra tersenyum manis dan tertawa sedikit. Entah mengapa semenjak ia melihat Kania di perpustakaan yang begitu serius dan asyik membaca serta sampai detik mereka berpisah di apartemen Kania. Hati ayah Sandra menjadi hangat, kehangatan yang tidak dapat ia jelaskan. Seperti sesuatu yang ada di dalam dirinya kembali mendekap jiwanya.


"Kania!" Ayah Sandra menyebut nama itu, dan seketika ia tersadar akan nama itu. Nama yang selama ini yang tidak ingin dia ucapkan, dengar ataupun muncul kembali.


-


Kania keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan diri dan memakai piyamanya sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Ia menatap layar ponselnya dan tidak mendapati tanda tanda Kenan menelponnya. Ia pun membiarkan sebentar mungkin ia sedang sibuk ujar Kania. Sambil mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.

__ADS_1


__ADS_2