Kenan Dan Kania

Kenan Dan Kania
Menjadi orang asing di negara sendiri


__ADS_3

Kania duduk di sebuah kursi dengan pelipis terluka yang telah diobati dan hidung yang menempel dengan kapas. ia


menatap tajam ke arah dua pria yang sedang berdiri dengan badan yang mematung dan mata yang tidak berani menatap ke arahnya.


Kania berdecak sambil melipat tangannya didada.


"Ceritakan kepadaku, mengapa kalian bisa berkelahi seperti ini?"


Kenan dan Leon memandang satu sama lain dan bergegas mengalihkan pandangan mereka tanpa menjawab pertanyaan Kania.


"ohw ok. kalau diantara kalian tidak ada yang akan memberitahukan apapun padaku. Aku tidak akan berbicara lagi


dengan kalian." Kania bangkit berdiri "Leon, mulai hari ini kita tidak mempunyai hubungan apapun." memandang ke arah Leon yang dibalas dengan tatapan Leon yang tidak setuju. Kenan menarik sudut bibirnya menandakan


penuh kemenangan. "Dan Kau, kita akhiri saja ini semuanya. Besok aku akan pulang ke kampung halaman ku." Kania pergi.


Kenan mengejar Kania dan menarik tangannya karna merasa tidak adil.


"Apa maksud dari perkataanmu? kau ingin kita berpisah?" Tanya Kenan dengan nada yang tinggi.


 "Kalau ia kenapa? untuk apa aku jadi istrimu lagi, jika semuanya didalam hidupmu tidak kau bagi denganku?" bentak Kania. "Dengar Ken, aku tahu kita menikah karna keterpaksaan dari keluarga kita. Tapi, kau harus tahu ketika kau telah mengikatku dihadapan tuhan. Aku telah menganggapmu sebagai suamiku untuk selamanya. Pria pertama dan terakhir dihidupku."


'Deg' Kenan seperti kehilangan arah. Ia baru sadar jika selama ini Kania telah mengiklaskan dan menerima dirinya sebagai pendamping hidupnya.


"Bukankah di dalam sebuah pernikahan tidak ada yang perlu disembunyikan?" menatap kedalam mata Kenan untuk memberikan pengertian. "Aku sudah lelah Ken, dengan semuanya. Selama ini aku berusaha sendiri untuk mencari jawaban dari teka-teki dalam hidupmu. hehe (tertawa dipaksa) Aku tahu, kau masih belum menerima ku kan? kau masih mencintai Ai........" Air mata kania mengalir.


Belum sempat Kania selesai berbicara, Kenan telah menariknya kedalam pelukan. Kania menangis dengan pecah. Menumpahkan semua rasa yang ia rasakan selama ini. Kenan semakin mempererat pelukannya, mencoba untuk memberikan perlindungan dan rasa nyaman terhadap Kania. Di belainya lembut rambut panjang Kania yang tergerai.


Setelah ia rasa Kania telah menumpahkan semuanya, ia lepaskan perlahan pelukan itu lalu menatap Kania dan menghapus air mata Kania.


"Maafkan aku Kan, aku terlalu egois. Aku hanya takut untuk mengingat rasa sakit itu." Kenan mengajak Kania dan Leon duduk di kursi taman.


"Pria didepanmu itu adalah Iblis yang telah mengkhianatiku." Tatap Kenan dengan penuh amarah ke arah Leon.


Kania masih belum mengerti dengan ucapan Kenan. Ia menatap secara bergantian ke arah Leon yang merasa menyesal dan Kenan yang begitu marah.

__ADS_1


"Tunggu maksudmu?" tanya Kania


"Aku yang telah membuat pernikahannya batal" Sargah Leon.


"Leon? kamu?" Kania tidak percaya


 "Iya, apalagi yang kamu inginkan sekarang? oh, aku tahu. Jadi selama ini kamu sudah tahu kan Kania itu adalah istriku dan Kau ingin merusak hubunganku dan Kania?" Tanya Kenan dengan tatapan membunuh.


Kania menatap Leon dengan tatapan meminta kejelasan. Leon tergopoh karna tidak ingin Kania salah paham.


"Tidak, Tidak Kania. Tidak pernah sekalipun aku berpikiran seperti itu."


"Alah, sudahlah. jagan membela diri lagi a...." Kenan menyergah


"Kenan, cobalah untuk mengontrol dirimu. Biarkan dia menjelaskannya terlebih dahulu." Pinta Kania. "Leon aku ingin mendengar penjelasannmu." Pinta Kania kembali


"Aku sama sekali tidak mengenalmu Kania. Jujur sebenarnya aku memang tertarik denganmu.."


Kenan bangkit berdiri untuk meghajar Leon, untung saja Kania dengan cepat menarik tangan Kenan dan menatap Kenan untuk menahan emosinya. Entah kenapa Kenan mengikuti Kania begitu saja.


"Aku, tahu. aku pikir kau tidak bahagia dengan pernikahanmu."


'Deg' Kenan menatap kearah Kania. Mata Kania tetap tertuju kepada Leon menyimak segala penjelasannya.


"Tapi, semuanya sirna ketika kau menunjukkan poto Cantika agar mencari tahu informasi...." Leon menghentikan pembicaraanya.


"Informasi apa?" tanya Kenan.


Kania dan Leon saling menatap dengan penuh ketegangan.


 "Lalu, Setelah itu kenapa kau masih saja menghubungiku ha?" bentak Kania sambil bercekak pinggang berpura-pura marah untuk mengalihkan Kenan. Kania memelototkan mata ke arah Leon memberi kode untuk bersandiwara. untungnya Leon mengerti dan ikut dalam sandiwara yang dibuat oleh Kania.


"Aku harus apa? namanya hatikan tidak bisa di pungkiri." jawab Leon dengan suara yang semula tinggi menjadi redup di akhir perkataannya.


"Terus, Kenapa kau memintaku untuk menjumpaimu hari ini?" Kania duduk kembali

__ADS_1


Leon terdiam, wajahnya menjadi sedih. Kania menatap Kenan bertanya ada apa? Kenan mengangkat kedua bahunya tidak tahu dengan wajah marah.


"Aku ingin pamit Kania." Ucap Leon.


"Pamit? kamu akan pulang ke negara kkk?"


"Benar, mungkin aku tidak akan kembali lagi ke negara ini?


"Kenapa?"


"Karna semuanya sudah tidak ada lagi Kania." menatap ke arah Kenan, Kenan membuang pandangannya ke arah yang lain. "Rumah, Keluarga, Saudara yang kucintai. Semuanya sudah tidak ada lagi. Aku sudah tidak punya apapun disini. Aku hanya sebatang kara tidak punya bagian dinegara ini. Menjadi orang asing di negara sendiri." ucap Leon dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "jadi, untuk apa aku pulang tidak ada gunannya kan. heheh" berpura-pura bahagia.


Leon menyodorkan sebuah kotak kecil kepada Kenan. Kenan heran dan bertanya dengan sinis.


"Apa maksudnya ini? kenapa kau memberikanku kotak kecil ini."


"Kotak itu memang untukmu, aku menyuruh Kania datang selain untuk berpamitan pulang. Aku ingin menitipkan itu kepadanya. Tetapi Tuhan sangat baik padaku, aku bisa langsung memberikan ini kepadamu untuk terakhir kalinya. Bukalah setelah kau pulang nanti. Apapun yang kau lihat tanya semuanya ke dalam hatimu. Terlepas dari apapun itu, Maaf kan aku Kenan. Aku tidak akan pernah menyesali semua yang terjadi. Bahkan aku sangat senang" menatap ke arah Kania dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kapan kau akan berangkat?" Tanya Kania


"Hem, mungkin nanti malam jam 7. Baiklah selamat tinggal Kania, senang bisa menjadi temanmu." menjabat tangang Kania.


"Bukan teman, tapi saudari iparmu." Kania tersenyum dan dibalas senyuman oleh Leon.


"Selamat tinggal Kenan" mengulurkan tangannya tetapi Kenan membalasnya dengan tatapan tajam yang masih dengan amarahnya. Leon pun pamit untuk undur diri. tetapi setelah langkah ketujuhnya Kania menghentikan Leon.


"Leon, aku janji padamu kau akan mendapatkan semua milikmu. Itu janjiku." Bisik Kania lalu memeluk Leon tanda persahabatan mereka.


Kenan terjengkit karna, melihat aksi mesra yang dibuat oleh Kania. Kenan berlalu meninggalkan Kania langsung masuk ke mobil dan disusul oleh Kania yang berteriak memanggil Kenan.


"Kamu, apa apaan sih kok ngak dengar panggilanku."


"Kamu yang apa- apaan. Berani sekali kamu berbisik dan memeluk Leon seperti itu. Kamu senang ada yang naksir kamu ia? Ya, udah sana sama dia saja. Kamu kan ngak bahagia dengan pernikahan ini." Bentak Kenan.


Kania yang semula terkejut dan ingin marah jadi mengerti kalau Kenan saat ini sedang cemburu terhadap Leon. Kania tidak ingin memperpanjang masalah yang ngak ada gunannya buat di ributin. Ia pun tersenyum menatap Kenan lalu fokus memandang ke depan.

__ADS_1


__ADS_2