
#sebelumnya
Kania menceritakan kejadian yang terjadi antara dirinya dan kakek Koba. Kenan pun mencoba untuk menghiburnya. Walaupun berhasil tetapi tetap berakhiran kekesalan masing-masing.
#sesudah
Keesokan harinya, Kania pergi ke gudang membawa barang-barang yang tidak ia gunakan lagi setelah ia membersihkan kamarnya.
'Sret' bunyi pintu gudang terbuka, Kania mengoyang-goyangkan pintu memerisa apakah pintu tersebut rusak atau tidak.
Setelah dirasanya pintu tersebut tidak ada masalah. Ia pun meletakkan barangnya digudang yang benar-benar rapi walaupun sedikit berdebu.
Kania tersenyum melihat gudang tersebut, tempat dimana ia selalu bersembunyi dari kakek ketika bermain petak umpet. Kania mengambil sebuah kotak yang berada di sebuah lemari kaca. Kenangan bersama kakek, bibi, paman dan Linda berada di kotak itu. Semua kenangan berputar di benak Kania.
Setelah bernostalgia, Kania memasukkan kembali kotak tersebut. Kania berbalik ke arah Kanan ia mengubah posisi sebuah kardus ke arah belakang dan terlihat sebuah kain berwarna hijau lumut yang menutupi sesuatu yang menggunduk besar.
Kania membuka Kain tersebut dan terkejut sebuah peti besar berwarna coklat berukiran keindahan di lihatnya.
Kania membuka peti tersebut, tetapi tidak dapat terbuka. Ia pun semakin penasaran dan curiga. Tanpa berpikir panjang ia mengambil sebuah kapak dan membukanya.
Seperangkat lukisan dan beberapa hasil lukisan, didapatnya dalam peti tersebut.
"Siapa pemilik alat dan lukisan ini?" tanya Kania dalam hati.
Satu persatu Kania bongkar isi dalam peti dan menemukan poto kakek duduk di tengah, paman di sebelah kiri dan seorang wanita memakai toga disebelah kanan dengan poto yang tersobek bagian setengah dari wajah wanita itu hingga ke lengannya. Dalam poto tersebut mereka tampak sangat bahagia.
Dibawah poto terdapat syal berwarna pink Dan biru dengan motif bunga bertuliskan 'S. P. A.'
Suara bibi terdengar memanggil-mangil nama Kania. Dengan cepat Kania mengambil poto tersebut dan syal lalu menyembunyikannya di bawah lemari. Kania pun menghampiri suara bibi. Bibi menyuruhnya untuk menemani pergi kesuatu tempat. Kania pun mengikuti bibi.
Sesampainya dirumah, Kania berpura-pura menuju kamar untuk beristirahat, setelah bibi tidak memantaunya lagi. Ia langsung menuju gudang dan mengambil dengan cepat barang yang disembunyikannya kedalam kamar.
__ADS_1
Kania memeriksa kembali kedua barang bukti tersebut, lalu melihat tulisan di bagian belakang poto tersebut.'Kolkuta, 23 Maret 1996. Kesayanganku'. Kania semakin yakin pasti wanita yang berada didalam poto tersebut adalah Ibunya. Ibu yang telah tega meninggalkannya sejak masih bayi, air mata Kania tidak terbendung.
Sungguh hati Kania terlalu sakit untuk melihat poto wanita itu, walaupun tidak secara keseluruhan Kania dapat melihat poto tersebut karena tersobek. Tetap saja hatinya teriris, bagaimana tidak, seorang ibu sungguh tega dan sanggup melakukan ini padanya. 'Apakah pada saat mengandungku ia tidak merasakan kebahagiaan untuk memiliki ku? Apakah pada saat ia melahirkan ku tidak sekalipun hati dan batinnya bergelora gembira dan terharu melihatku terlahir ke dunia? ' pertanyaan -pertanyaan itulah yang terlintas di benaknya pada saat ini!.
Kania menekatkan bulatnya untuk pergi ke kolkuta untuk mencari ibunya dan ingin mengatakan 'kalau ia sangat beruntung telah dicampakkan oleh ibunya sendiri'.
Keesokan paginya, Kania menelpon Kenan. Ia lupa untuk memberitahukan Kenan tentang rencananya. Ia ketiduran karna kelelahan menangis.
-
Kenan bersiap-siap untuk pergi kekantor. Ia sedang berdiri sambil memakai dasi. Sepertinya Kenan sangat merindukan Kania. Hingga ingatannya kembali pada moment-moment kebersamaan mereka. Lamunannya pun buyar ketika suara handphone nya berdering ia mengambilnya dan tersenyum.
"Baru saja di pikirkan, langsung muncul" tersenyum sambil menekan tombol hijau untuk menjawab dan meletakkannya di kuping lalu meneruskan aktivitas yang sedang ia lakukan.
"Rindu ya, pagi-pagi begini sudah menelpon?"
"Hanya dirimu yang selalu merindukanku."
" Yang apa?"
"Yang... di.... lupakan... (hening) Kenapa kau tidak menelepon ku kemarin malam?"
"Maaf, aku ketiduran tadi malam. "
"Hem, biasakan saja seperti itu. Mentang-mentang suaminya ngak ada jadi seenaknya main tidur duluan."
"Ke..... nan, ini masih pagi tolong jangan buat berulah. Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu." Jelas Kania
"Ada apa?" Kenan duduk di sofa kamarnya setelah selesai bersiap
"Aku menemukan sebuah poto kakek dan syal di gudang."
__ADS_1
"Apakah barang itu bisa kau jadikan petunjuk? "
"iya Ken ............." Kania menjelaskan panjang kali lebar.
Kenan terkejut mendengar rencana bulat Kania yang akan ingin pergi ke Kolkuta. Semula ia menolaknya, secara Keluarganya selalu meminta Kania untuk pulang ke rumah. Kania memohon dengan sangat kepada Kenan agar diizinkan untuk pergi kesana.
"Ken, bukankah kau sendiri yang ingin mendukungku untuk mencari tahu semuanya? tetapi kenapa saat aku sangat membutuhkan dukunganmu kau malah tidak mau mendukungku? "
"Kania, aku sangat sangat mendukung segala keputusanmu jika menyangkut kebaikan dirimu. Tapi, untuk yang satu ini aku tidak mungkin berani Kania. Keluargaku selalu dalam penyesalan yang mendalam karna kau tidak ingin pulang kemari. Aku sudah memutuskan minggu ini aku akan membawamu pulang ke rumahku apapun itu titik. " Tegas Kenan.
"Tidak ken, tidak perlu menunggu minggu ini. besok aku akan pastikan kau membawaku ke rumahmu. Membawa jasad ku. " Kesal Kania.
"Apa yang kau katakan, berani sekali kau mengatakan hal itu kepadaku. " Amarah Kenan memuncak.
"Tidak perlu semarah itu tuan Kenandri Ganendra. Bukankah itu lebih baik, dengan begitu kau dapat menikah dengan wanita yang kau cintai. Aku sadar bagaimana bisa kau mendukungku? aku siapamu? hanya istri di secarik kertas putih. Maafkan aku Ken, seharusnya aku tidak pernah menghancurkan hidupmu dengan menikahiku karna perjodohan ini. Seandainya aku bisa memutar waktu kembali. Aku akan mencegah apapun yang terjadi. " Air mata Kania dan sesegukannya menahan tangisan yang ingin pecah terdengar di telinga Kenan.
Hati Kenan teriris mendengar tangisan dan sesegukkan itu rasanya dunia pada saat itu runtuh menimpa dirinya.
"Selama ini, aku berusaha untuk menjalankan pernikahan ini. Kupikir dengan kita menjadi teman itu saja sudah cukup baik untukku. Tapi...... "
"Kapan kau rencanamu akan berangkat ke Kolkuta?" Kenan tidak sanggup mendengarnya ia tidak ingin Kania mengungkapkan kata-kata yang tidak-tidak untuk mengakhiri pernikahan mereka.
"Maksudnya?" Kania bingung
"Bersiaplah 2 hari lagi kau akan berangkat ke Kolkuta. Aku yang akan mempersiapkan segalanya dari sini."
"K.. ka... u mengizinkanku?" dengan suara yabg sesegukkan sedikit karna menangis
"Basuh wajahmu, setelah itu tenangkan dirimu. aku sudah terlambat ke kantor. Jaga dirimu baik-baik ya. Aku akan menghubungimu lagi nanti. " Kenan mengakhiri percakapan mereka.
"Kenapa tiba-tiba berubah? bukankah dia dengan tegas mengatakan tidak? sekarang malah mendukungku?. Sudahlah yang penting ia sudah mendukungku semoga ia tidak berubah pikiran 😅". Senyum kebingungan terukir diwajah Kania dengan kebengkakan dimatanya akibat menangis.
__ADS_1