
Bang jack mengantar dokter ke depan rumah. Keluarga kenan tertawa terbahak-bahak selepas dokter pergi. Mereka tidak habis pikir jika kenan mengalami hal tersebut. kenan hanya bisa berdecit kesal karna diejek
oleh semua keluarganya.
“ini, semua gara-gara kania awas saja kamu. Akan aku balas.” Umpat Kenan dalam hati
Kania menatap mata kenan yang sepertinya akan siap menerkamnya. Ia pun bersembunyi di belakang ibu mertuanya menyembunyikan wajahnya dari tatapan tajam kenandri
“pake sembunyi segala lagi di belakang mama. Ayo kemari kamu sini biar ku pites kepalamu itu. ckk(berdecit)” umpat kenan kembali
Nenek dan kakek saling menatap satu sama lain mereka tersenyum melihat pasangan suami istri itu. sementara yang lain masih sibuk dengan perbincangan mereka terhadap Kenan.
“sudah sudah. Hari ini cukup sampai disini ejekan, untuk cucuku ini (mengelus lembut kepala kenan)” kakek menyanggah
“Kania.” tanya kakek
“ya kakek…” kania menjawab
“kamu juga bersalah atas hal ini. jadi kamu harus bertanggung jawab sekarang.” Tegas kakek
“iya, kakek Kania memang salah kepada Kenan.” Kania sambil tertunduk malu dan menyesal
Kakek berjalan mendekati Kania.
“bagus, begitu dong baru menantu cucu kakek (tersenyum dan mengelus kepala Kania). Sekarang kamu tahu kan hukumannya Kania? kamu harus merawat suami mu ini hingga ia sembuh mengerti?” kakek menjelaskan. Disusul dengan anggukan Kania.
Kakek menyuruh memindahkan Kenan ke tempat tidur agar bisa beristirahat di atas ranjangnya. Mata Kenan dan Kania saling melotot karna terkejut. Melihat ekspresi mereka berdua kakek pun merasa ada yang aneh.
“mengapa kalian saling melotot seperti itu? seperti terkejut saja? (Kakek memicingkan matanya ke arah mereka berdua) jangan bilang jika selama ini kalian tidur secara terpisah?”
Kenan dan kania mengalihkan pandangannya. Kakek pun marah dan sangat kecewa karna, merasa selama ini ia pikir bahwa mereka sudah dapat menerima dan menghormati pernikahan mereka. Tetapi, malah sebaliknya mereka tidak menghormati dan belum menerima pernikahan tersebut. Kenan pun meminta
maaf kepada kakek atas hal tersebut. kakek juga mencoba memberikan pengertian kepada Kania dengan sedikit kecewa terhadapnya. Melihat kakek yang melampiaskan kekecewaannya, kepada Kania yang sudah tertunduk. Kenan pun menyela pembicaraan kakek dan membela Kania.
“cukup kakek, Kania tidak bersalah atas ini semuanya. Ini semua salah kenan. kenan yang berinisiatif sendiri untuk tidur di sofa ini. jadi, tolong jangan melampiaskan kekecewaan kakek kepadanya.”
Semua orang terkejut atas pembelaan kenan terhadap kakeknya tersebut. kakek memandang ke arah nenek, ayah, ibu, kak kamila, serta bang jack yang sudah kembali dari depan mengantar dokter. mereka tersenyum. Karna, mereka tahu jika kenan sudah mulai menjaga dan memperhatikan Kania. dengan ekspresi
sedikit marah kepada kakeknya. Kenan mencoba untuk bangun dari sofa tidurnya. Bang jack dan ayah langsung membantunya.
“mau kemana ken?” tanya ayah
“ke tempat tidur saja ayah. Nanti ada yang marah-marah lagi. Panas kuping Kenan mendengarnya. (melirik ke arah kakeknya dengan wajah sangat kesal)”
Kakek tersenyum geli melihat ekspresi kenan. kakek pun mencoba untuk mempertahankan emosinya.
__ADS_1
“ini nih anak zaman sekarang kalau dikasi tahu sama orang tua bukannya nerima malah balik marah.” Kakek melirik tajam ke arah kenan. dan dibalas dengan pengalihan kesal dari kenan. semua orang menyembunyikan kegelian tingkah dua orang itu. terkecuali Kania yang masih dengan perasaan bersalahnya. Ibu yang melihat ekspresi Kania langsung mengelus rambutnya dan tersenyum menandakan jangan dipikirkan.
“sudah ayo kita pergi dari sini. Lama-lama disini kita bisa ikutan sakit juga karna anak itu (melirik kenan sambil mengangkat kedua alisnya)” kakek menambah.
“baiklah, Kania kami pergi dulu ya. Jaga kenan ya nak.” Pinta nenek kania pun mengangguk.
“kak Kania, semangat ya kak.” Ungkap Cantika
“dengar, awas saja kakek lihat kalian tidur terpisah. MENGERTI(menegaskan kalimaatnya)” pinta kakek
“iya kakek” jawab Kania
Sebenarnya kakek tidak tega dengan Kania. ia takut menyakiti perasaan menantu cucunya itu. ingin sekali kakek memeluknya dan mengatakan maaf kepada Kania. Tetapi, ia harus melakukan hal itu agar dua sejoli dapat bersatu. Semua orang pun keluar dari kamar mereka.
Kania dan Kenan kembali menatap hitungan beberapa detik langsung mengalihkan pandangan mereka.
*
Kania menjalankan tugasnya dengan baik. Ia merawat kenan dengan perhatian yang cukup ekstra. Ia bahkan, tidak melihat handphone nya sedikit pun. Ia hanya fokus menjaga dan merawat kenan. tetapi, ia juga mencoba untuk memperhatikan Cantika. Walaupun tidak seperhatian biasanya. Tetapi, Cantika bersyukur dan memahaminya.
Cantika sangat patuh kepada Kania. ia dilarang untuk bertemu dengan siapa pun termasuk Darta. Ia menyuruh mereka berdua untuk memberikan waktu kepada mereka masing-masing. Mengingat umur mereka bisa dikatakan masih sangat muda. Sepulang dari kuliah Cantika langsung pulang, beristirahat, dan
belajar yang tidak terlalu memforsir pikirannya.
handphonenya di meja sisi Kenan. Kania membuka ikat rambutnya dan merapikannya di atas bantal sambil menghadap kenan yang posisi kepalanya menghadap ke arah sisi lain. sambil menyesali apa yang telah terjadi
“maaf, ken kamu benar karna diriku kamu seperti ini, hingga kau pun bertengkar dengan kakekmu gara-gara aku. Maaf kan aku kenan.” gumam kania
Selang beberapa menit setelah kania terlelap tidur. Kenan merasa lehernya sakit dan memiringkannya ke arah kania. ia terkejut melihat wanita itu, tetapi lama-lama ia memandang lekat wajah kania. sambil menyesali
apa yang terjadi.
“maaf Kania aku marah-marah dan membentakmu tadi, seharusnya aku tidak menyalahkanmu. Seharusnya aku juga memandang langkahku. Aku menyesal Kania, gara-gara diriku juga kamu dimarahi oleh kakek. Maaf Kan aku kania maaf.” Gumam kenan
Mereka tertidur lelap dengan kepala sambil mengahadap.
*
Hari sudah pagi, kania bangun dan membersihkan dirinya. Ia pergi ke dapur dan memasak bubur ayam di bawah. Setelah siap ia pun membawanya ke kamar dengan air putih dan susu di sebuah nampan. Tanpa disadari dari tadi ada dua orang yang memperhatikan aktivitas Kania sejak awal. Ya, ayah dan Kakek mereka
tersenyum- senyum bahagia atas perhatian yang diberikan Kania kepada kenan.
Kania masuk ke dalam kamar dan melihat kenan yang telah menyambutnya dengan tatapan datar di sana. Kania meletakkan nampan di atas meja samping kenan.
“kamu, mau langsung sarapan atau mau mandi?” tanya kania.
__ADS_1
“kamu mau mandikan diriku?”
Seketika mata kania membulat dengan sempurna menatap kenan. wajahnya memerah dengan jelas. Kenan tertawa dengan ekspresi kania.
“ke- ke- kenapa kamu tertawa” tanya kania gugup
“wuahaha, tidak. Haha Tidak kenapa- kenapa haha.” tawa kenan
“kalau begitu kenapa tertawa bahagia seperti itu.” kesal kania
“karna wajahmu yang merah seperti tomat. Lucu sekali hahha.” kenan mengejek
“ich, dasar kamu ya.” Mendengus kesal.
Kania mencubiti perut kenan. kenan pun merintih kesakitan. Kesakitannya bertambah dua kali lipat ketika ia bergerak secara mendadak. Melihat Kenan yang kesakitan. Kania pun meminta maaf menyesali kelakuannya. Kenan yang menghindari pertengkaran dengan kania memaafkannya
“ma-maaf kenan (panik)”
“iya tidak apa-apa.”
“kalau begitu kamu mau aku bantu apa?”
“bantu aku ke kamar mandi saja. Aku mau buang air kecil.”
“baiklah.”
Kania membantu Kenan untuk bangkit. Mereka berjalan ke arah kamar mandi. beberapa menit kemudian ia pun membawa kenan ke arah tempat tidur dan menyelonjorkan diri Kenan di kepala tempat tidur.
“apakah kamu mau kupanggilkan pelayan untuk membantumu mandi?”
“tidak usah, aku sarapan saja sekarang.”
Kania mengambil piring di atas nampan yang dibawanya itu. lalu, menyuapi Kenan dengan perlahan-lahan. Entah bagaimana suasana di kamar itu menjadi sangat canggung. Mata kenan mengarah ke samping tempat tidur nya.
“apakah aku boleh tidur di ranjang ini?”tanya kenan. Kania sedikit mengeluarkan tawa ‘hahk’
“ada apa denganmu, sampai meminta persetujuanku untuk tidur di atas ranjangmu ini? apakah pernah aku melarangmu untuk tidur disini?” jawab kania. kenan menggelengkan kepalanya.
“tidak kan. Ini masih tempat tidurmu kenan. jadi tidak usah merasa sungkan seperti itu. seharusnya aku yang meminta ijin padamu untuk tidur disini.” sambung kania
“hem, jadi kamu mau tidur seranjang dengan ku?”
“iya, aku tidak keberatan”
Kenan mencoba menyembunyikan senyuman bahagianya untuk tidak terlihat kania. setelah itu Kania turun kebawah untuk membawa turun semua isi nampan.
__ADS_1