
sebelum
Minggir Kenan. ihc" mendorong tubuh Kenan agar menjauh. "Kenan ku bilang minggir. "
"Aku akan minggir sebelum kau memanggilku dengan sebutan sayang. "
"loh, kok berubah jadi sayang?" tanya Kania bingung.
"Suka-suka diriku dong, kan aku suamimu. ble" mengejek Kania
Selanjutnya
"terserahlah, aku ngak perduli. Kenan minggir." Kania semakin memberontak untuk melepaskan dirinya. Tetapi, Kenan malah semakin mempererat kunciannya sambil menahan kedua tangan Kania.
"Dengar, jika kau semakin memberontak. aku tidak akan bertanggung jawab jika sesuatu terjadi diantara kita." Kania bingung "Kau tidak ingin aku melakukan hal yang intim bersamamu kan?" membisikkan keteliga Kania. Kania terperanjat dan tidak sadar jika ia menendang sesuatu yang berharga milik Kenan.
Kenan melepaskan Kania lalu merintih kesakitan.
"K A N I A...... " merintih kesakitan
"Apakah sakit?"
" shuttttt (menghirup napas) tidak Kania, ini tidak sakit. (bepura pura tidak kesakitan) awwwwwww. (merintih kesakitan) "
"Maaf, maaf aku tidak sengaja Ken. " merasa bersalah.
"Tidak sengaja katamu... awwww." Membungkukan badannya sambil menahan sakit. "Kau tidak tau ini masa depan kita?."
"Maksudnya? masa depan apa? kalau bicara itu yang jelas dong.... "
"Sudahlah, berbicara dengan orang sepolosmu itu ngak akan pernah jelas sama nyambung... aichhhhh.... " Menahan sakitnya lalu pergi meninggalkan kamar.
*
Keesokan harinya, para pemuda dan pemudi kampung beekumpul di balai desa untuk menganti kepengurusan muda-mudi kampung. Kania hadir menemani Linda dalam pertemuan itu.
"Bagaimana jika Reno saja." salah satu pengurus lama menunjuk Reno agar menjadi ketua.
"Ah, tidak bagaimana bisa saya menjadi ketua kak? sedangkan saya masih kuliah di perantauan. "
"Iya, aku melupakan hal itu." sahut pemberi saran. Kekecewaan juga terukir di wajah beberapa orang....
Kania menjadi teringat perkataan Reno, tentang alasan kuat kakek yang tidak pernah memperbolehkannya Kuliah di kolkuta. Ia pun memikirkan sebuah rencana untuk itu.
*
Kania dan Linda telah pulang dari balai. Kania masuk ke kamar dan mendapati Kenan sedang membereskan pakaian ke dalam koper.
"Ada apa? kenapa kamu memasukkan baju kedalam koper? " tanya Kania mendekat
__ADS_1
"Besok aku harus pergi ke luar kota beberapa hari, ada masalah yang harus ku selesaikan." menatap Kania sambil mengusap lembut pipinya. "Kemas kan bajumu, kita pulang sekarang ya. " Lanjut Kenan sambil mengepak bajunya ke dalam koper.
"Pulang? sekarang?" tanya Kania heran
"Iya, sekarang Kania. Ayo, cepat biar aku bisa istirahat sampai dirumah dengan cepat. "
"…Oh tuhan, apa yang harus aku lakukan saat ini? jika aku pulang ke rumah Kenan, tidak mungkin, aku harus mengambil sebuah keputusan" pikir Kania
Kenan berhenti mengepak pakaiannya, ia melihat ke arah Kania sambil berdecak.
"apalagi yang ditunggu Kania. Ayo bergegas."
Kania, duduk di samping ranjang dengan wajah bingung.
"Sepertinya, aku tidak akan pulang Ken!" Menatap Kenan.
"Maksudnya?" tanya Kenan.
"Aku ingin mencari tau tentang kedua orangtuaku. Selama ini cerita, maupun potonya tidak pernah kuketahui. Karna kupikir aku tidak perlu mengetahuinya, mereka yang telah membuangku jadi aku tidak perlu menganggap mereka." Jelas Kania.
Mendengar hal itu Kenan mengambil posisi duduk di sebelah kiri Kania sambil menatapnya.
"Apa alasanmu ingin mencari tahunya sekarang?"
"Kau tahu beberapa kali aku ingin melanjutkan pendidikan di Kolkuta. Tapi, selalu ada pertentangan dari kakek...... Aku juga tidak mengerti apa alasan sebenarnya sampai sekarang. Aku pun tersadar oleh perkataan dari kak Roy."
"Kennnn, (menatap kenan serius)" Kania tahu bahwa Kenan tidak menyukai Roy.
"Lalu ?" mencoba untuk serius.
"Apakah kau tidak merasa aneh? Selama ini kakek selalu mendukung keputusanku. Tetapi, melihat sikap kakek yang menentang keras tujuanku ke Kolkuta pasti ada hubungannya dengan orangtuaku kan?. (terdiam sambil menatap Kenan) Aku tahu, aku tidak terlalu memusingkan persoalan kedua orangtuaku dan aku........"
"Kau perlu mengetahui orangtuamu Kania. Apapun itu kejadian dimasa yang lalu, mau baik atau pun buruk kau harus tetap mengetahuinya. Apakah kau sudah pernah bertanya kepada kakek tentang alasannya menolakmu untuk ke kolkuta?"
"Berkali-kali Kenan, Kakek tetap tidak pernah mau memberitahukannya kepadaku." Jawab Kania dengan wajah cemberut."
Kenan tertawa kecil melihat ekspresi menggemaskan Kania.
"Ada, apa?"
"Tidak, aku hanya merasa kau semakin menggemaskan." mendekatkan dirinya ke arah Kania. Kania mendorong tubuhnya ke belakang.
Tangan Kania memegang jidat Kenan.
"Kau sedang tidak sakit kan Ken. Akhir-akhir ini aku merasa tingkahmu sedikit menjijikan."
"Apa? menjijikan?. Bla bla bla bla"
Pembicaraan mereka pun diakhir dengan perdebatan kembali.
__ADS_1
*
Kenan telah selesai mengepak barangnya, ia berpamitan kepada semua orang.
"Kenan pergi ya kek, bibi, paman."
"Iya, hati-hati ya nak." jawab kakek
"Kamu yakin Kania tidak mau ikut pulang bersama Kenan? entar rindu lagi loh, kan susah mukanya cembetut" tanya paman menggoda.
Semua orang tertawa melihat Kania yang masuk kedalam godaan paman.
"Biarin aja paman, kan ini keputusannya. Biar dia nangis karna rindu denganku." Lanjut Kenan menggoda.
"Apaan sih, lebay. Ingat ya aku ngak akan pernah menangis apalagi rindu karnamu ihhhhh (bergidik)" jawab Kania
"Hati- hati loh Kan, bibi juga pernah bilang seperti itu kepada pamanmu, waktu dulu ngejar-ngejar bibi. Bibi bilang 'Ingat ya aku ngak akan pernah suka samamu'..."
"Eh, sekarang malah bibimu cinta mati sama paman." mendekap bibi
"Apaan sih, kamu tuh yang cinta mati." menyiku dada paman
"Begini ni, wanita malu-malu tapi mau." paman mengejek bibi
Percakapan perpisahan itupun ditutupi dengan tawa canda semuanya.
Kenan dan Kania sepakat untuk sementara waktu, Kania tinggal bersama keluarganya. Kania ingin mengumpulkan informasi tentang keberadaan kedua orang tuanya.
Beberapa hari telah berlalu, tetapi Kania belum mendapatkan informasi apapun mengenai kedua orang tuanya. Ia mencoba bertanya kepada bibi, paman, para karyawan perkebunan yang sudah lama bekerja dan bahkan karna putus asanya ia juga bertanya kepada kakek. Alhasil pertengkaran Kania dan kakek pun terjadi.
Kania menangis tersedu-sedu didalam kamar, tia-tiba suara hpnya berdering. Telpon dari Kenan, Kania pun mengangkatnya.
"Ha... lo" (suara tersedu-sedu)
"Ada apa? kenapa kau menangis? siapa yang membuatmu menangis katakan padaku? berani sekali membuatmu menangis, dia tidak tahu siapa aku.... katakan Kania siapa... aku akan mematahkan tulang-tulangnya....." Jawab Kenan dengan perasaan panik dan marah.
Kenan berhenti seketika mendengar suara tawa Kania yang lembut.
"Kenapa kau tertawa? kau sedang mengerjaiku ya dengan berpura-pura menangis? Dengar, Kania aku tidak menyukainya!" Kenan berbicara dengan nada yang tinggi karena merasa kesal
"Siapa yang mengerjaimu? kenapa nada suaramu tinggi begitu kepadaku?" Kania marah
"Ya, kamu sih. tiba-tiba nangis terus ketawa. Kan, aku bingung" mencoba untuk menetralkan suasana.
"Makanya jadi orang jangan Gede Rasa." Ketus Kania sambil sesegukkan
"Maaf-maaf, lalu kenapa kamu menangis?"
Kania menceritakan kejadian yang terjadi antara dirinya dan kakek Koba. Kenan pun mencoba untuk menghiburnya. Walaupun berhasil tetapi tetap berakhiran kekesalan masing-masing.
__ADS_1