Kenan Dan Kania

Kenan Dan Kania
Memahami Hati Pasangan


__ADS_3

Kania menatap Kenan dengan tatapan membunuh, rahangnya mengeras karna geram mendengar perkataan Kenan yang mengagumi wanita lain dihadapannya.


"Kau kenapa? Cemburu?"


"Apa? hahaha cemburu, kau mengharapkan aku cemburu, iya? Simpan harapanmu itu."


Kenan beranjak berdiri lalu mendekat kepada Kania. Kania mundur perlahan-lahan karna takut dengan Kenan.


"Kau, mau apa? jangan mendekat. Ken aku bilang jangan mendekat."


Tubuh Kania terhenti di dinding kamarnya dekat meja rias. Tangan Kenan meraup tubuh Kania untuk menempel ke tubuh Kenan. Mata mereka beradu, ada gejolak yang aneh pada Kania, wajahnya memerah, dan tubuhnya memanas. Ia menelan salivannya dengan susah.


Kenan berbisik lembut ke telinga Kania, dengan hembusan napasnya yang sengaja menggoda Kania.


"Memang kenapa jika aku mengharapkan kau cemburu? hem? kau kan istriku wajar dong aku mengharapkannya."


Jantung Kania berdegup kencang, perasaan yang tidak ia mengerti. Merasa jantungnya akan lepas, Kania pun mendorong dada Kenan hingga terlepas. Dengan perasaan canggung Kania kembali mengepak pakaiannya. Kenan senang karna berhasil menggoda Kania.


*


Keesokan harinya, Kenan keluar dari kamar mandi menggunakan celana kantornya dan kaus kutang sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Dilihatnya Kania duduk termenung di atas ranjang menghadap balkon. Kenan memanggil Kania untuk menyadarkannya dari lamunan.


"Kania." sedikit nyaring


"Ya." terkejut


"Tolong bajuku."


Kania memberikan baju berwarna biru navy lengan panjang kepada Kenan.


"Bantu aku pasang bajunya."


"Apa? tidak, tidak pasang saja sendiri. Biasanya juga kau memakainnya sendiri."


"Ayolah, Kania. Apakah permintaanku ini sesulit itu bagimu? aku suamimu, suami yang sah secara agama, dan secara hukum. Ohw, kau ingin aku memanggil wanita lain untuk memasangkannya? hem, siapa ya?. Clara saja lah, Aku akan memanggilnya besok pagi. Lagi pula kau kan pergi." Sambil memasang bajunya.


Kania menarik kerah leher Kenan yang sudah berada dirubuhnya dengan kuat, membuat mata mereka beradu. Beberapa detik kemudian setelah sadar dari tatapan mereka, Kania melipat tangan baju panjang Kenan dan mengancingkan pakaiannya


"Berani kau memanggilnya kemari, membawa masuk wanita lain ke dalam kamar ini atau memiliki hubungan dengan wanita lain. Keeeek,, (membuat gerakan membunuh pada lehernya) kau yang akan kubunuh mengerti."


"Wah, aku tidak menyangka istri Kenandri Ganendra sangatlah berbahaya." Ledek kenan yang menikmati perhatian Kania padanya.


"Aku tidak sedang bercanda SUAMIKU" Kania menekan suaranya membuat Kenan tersenyum bahagia.


Kenan tidak ingin menghilangkan kesempatan, dipeluknya Kania dari belakang untuk meredakan kecemburuan Kania.


"Aku akan menjemputmu pulang kerumah ini Kania, aku berjanji." mencium pipi Kania dari belakang.


Wajah Kania memerah, malu, dan senang itu yang ia rasakan. Kenan membalikkan tubuh Kania menghadap dirinya.


"Aku yang akan mengantarkanmu ke statiun, bersiaplah." Kania mengangguk.

__ADS_1


"Tunggulah aku Kania, aku akan menjemputmu. Aku tidak ingin kau merasa diusir dari rumah ini. Maka, dari itu aku sendiri yang harus mengantarmu ke stasiun agar kau merasa jika sedang berlibur ke rumah keluargamu." Gumam Kenan dalam hati sambil memperhatikan istrinya itu bersiap.


*


Kenan dan Kania turun beriringan dari tangga, Kenan mengajak Kania untuk pergi keruang makan untuk berpamitan kepada keluarganya. Tampak wajah semua orang terlihat sedih terutama semua perempuan dikeluarga itu.


"Kania jaga dirimu ya nak." Peluk nenek


"Ibu pasti merindukanmu." Peluk ibu sambil meneteskan air mata


"Maafkan aku kak Kania, gara- gara......" Sesal Cantika


"Sttttt, tidak Cantika. Kau harus jadi wanita yang kuat, demi anakmu mengerti." Cantika mengangguk dan memeluk Kania dengan deraian air mata.


Kania memberanikan diri untuk berpamitan kepada ayah dan kakek. Tetapi, kekecewaan kakek membuatnya harus tertegun, karena sebelum melangkah ke arahnya kakek mengakhiri makanannya dan pergi.


"Ayah, Kania.....hicks hicks" Ayah mertuanya berdiri dari kursinya.


"Pergilah nak, restu ayah bersamamu" Sambil mengelus lembut rambut Kania. Tangis Kania pecah lalu memeluk ayah mertuanya.


Kenan menarik tubuh Kania untuk menyudahi perpisahan menyedihkan itu.


*


Sebelum bis Kania berangkat, Kania berpesan kepada Kenan.


"Ken..."


"Hem?"


"Apa?"


"Aku, ingin kau menikahkan Cantika dan Darta."


"Aku tidak....."


"Jangan Ken... aku tidak ingin kau mengatakan kata tidak. Please." Dengan tatapan sedih.


"Akan kuusahakan ok." Jawab Kenan dengan mengusap lembut pipi kanan Kania.


"Trimakasih Ken, Cantika dan Darta saling mencintai Ken. Kau tahu, mereka sudah saling mencintai sebelum kau berhubungan dengan Aira Naka. Mereka memendam perasaan satu sama lain, agar kau dan Aira bisa bersatu. Sampai saat ini juga, tuhan masih menguji cinta mereka. Aku tahu kakek pasti akan menjodohkannya dengan pria yang terbaik. Kau pasti lebih mengerti apa yang akan terjadi jika salah satu dari mereka tidak saling mencintai satu sama lain. Keduanya akan menderita, satu menerima dan satunya menolak. Mereka akan seperti magnet yang bertolak belakang. Kehidupan pernikahan seperti itu akan menjadi neraka bagi mereka." Jelas kania


Kenan tersentak dengan perkataan yang dikatakan Kania. Ia pun bertanya;


"Apakah kau merasakan hal seperti itu juga ketika menikah denganku?"


"Iya." Jawab Kania dengan tegas


"Sampai saat ini?" Memperjelas perasaan Kania.


"Tanya hatimu Ken, apakah aku masih merasakannya apa tidak?"

__ADS_1


"Bagaimana aku tahu, aku kan bertanya tentang perasaanmu."


"Jawabannya ada padamu. Pernikahan itu bisa dikatakan berhasil ketika suami dan istri menyatukan perasaan mereka. Maka suami dan istri akan terikat dengan perasaan keduanya. Itu yang dikatakan dengan memahami hati pasangannya."


Bis pun akan berangkat, Kania mencium tangan Kenan. Lalu, disambut dengan kecupan di kening Kania oleh Kenan.


"Beritahukan jika kau sudah sampai disana, mengerti?"


"Iya, jaga kesehatanmu ya. Jangan lupa beritahu aku kalau kau sudah mendapatkan penggantiku yang baru." Ledek Kania. Kenan tersenyum memandang Kania.


"Baiklah istriku yang manis. Aku akan memberitahukannya kepadamu." Mencubit hidung Kania dengan kuat. kania meringis kesakitan.


"Kau ini, sakit tahu." Kenan langung memeluk erat tubuh Kania.


"Aku, pasti akan merindukanmu Kania."


"Jangan, kamu ngak akan kuat. Biar Kakek saja."


"Heee? kok kakek?"


"Iya, kalau kakek yang rindu. Pasti aku akan disuruh pulang kerumah kan?" mereka pun tertawa.


"Benar juga ya."


"Itupun kalau dia merindukanku, jika tidak?." Pesimis Kania


"Kania, kau ingat janjiku kan?." Menyemangati Kania


"Iya, kau akan membawaku pulang."


"Percayalah padaku Kania, ok."


"Ok, aku naik dulu ya. Dah"


"Dah, kirim salam kepada semua orang."


"Pasti."


Bis pun melaju ke arah perhentian mereka, Kenan masih tetap setia menghantarkan mereka sampai mereka hilang dari jarak pandangan Kenan. Ia pun masuk ke dalam mobil dan mengendarakannya menuju Kantor miliknya, baru saja Kania hilang dari pandangannya. Ia langsung mengambil ponsel dan menelpon Kania.


"Kau sudah sampai dimana?"


"Baru di Tol, Kau sudah berangkat ke kantor?"


"Iya, ini aku sedang berbelok untuk menuju kantor."


"Baiklah, hati-hati mengendarai mobilnya ya."


"Siap istriku." Kania terkejut, kenan selalu berhasil menggoda istrinya itu. "Kok diam? aku tebak pasti wajahmu saat ini sedang memerah tomat seperti biasanya kan?"


"Apaan sih, biasa aja kali." ketus Kania dengan wajahnya memerah tomat sambil tersenyum malu.

__ADS_1


"Baiklah, aku matikan ya." Sambil tersenyum bahagia.


"Iya." Kania menutup mulutnya menahan senyum yang ingin lepas dengan bebas.


__ADS_2