
Halo ha, para pembaca setia 'Kenan dan Kania.'
Mohon dukungannya untuk karya pertamaku ini,
Agar author bisa semakin semangat buat nerusin atau lanjutin buat cerita ini.
Jangan lupa Like, Rate, dan Komen kalian ya agar author bisa semakin memperbaiki karya autor.
Dan supaya kalian ngak ketinggalan jangan lupa Favoritenya ya!!!!
Terimakasih dan selamat membaca..
*
"Kita pergi sekarang?" Kania tersadar dan langsung menganggukan kepalanya. Kenan tersenyum hangat lalu menggandeng tangan Kania untuk turun kebawah.
Kenan membukakan pintu mobil buat Kania. Kania masuk kedalam mobil dan berusaha untuk menggunakan sabuk pengamannya tetapi, sabuk pengaman itu terlalu sulit digunakan oleh Kania. Melihat hal itu Kenan dengan sigap memasangkan Kania sabuk pengaman itu. Mata Kania terbelalak menatap Kenan yang sangat dekat dengan dirinya. Jantungnya kembali berdetak kencang. Aksi aneh Kenan tidak sampai disitu saja, saat perjalanan Kenan menggenggam tangan Kania dengan erat. Kania menatap Ke arah Kenan dengan perasaan yang aneh.
"Ada apa dengan mahkluk ini? apakah dia sedang kemasukan jin? hi...... seram." terang kania dalam hati sambil bergidik.
Aksinya tersebut, rupanya dilihat oleh Kenan. Kenan tersenyum heran dan bertanya
__ADS_1
"Ada apa denganmu? kenapa bergidik seram seperti itu?" tanya Kenan
"Seharusnya aku yang bertanya padamu. Ada apa denganmu? kenapa bersifat aneh terhadapku?"
"Bersikap aneh? maksudnya?"
"Kamu kenapa jadi hobi sekali memegang tanganku? berdekatan denganku?" tanya Kania penuh selidik.
"Hahah, Emang kenapa kalau aku memegangmu dan berdekatan denganmu? Aku kan suamimu jadi boleh dong? kamu keberatan?"
Kania bingung akan menjawab apa kepada kenan. Karna jika ia merasa keberatan ia akan merasa berdosa. Bagaimanapun alasannya Kenan adalah suaminya, dan Kania harus tunduk kepadanya. Kania pun memilih diam dan menatap ke arah depan.
*
Kania berusaha cepat untuk menghubungi Leon.
"Hallo, kamu dimana?"
"Aku sudah di atas Kania. Kamu sudah sampai?"
"Iya. jadi bagaimana? aku menyusul atau kamu datang kemari?"
__ADS_1
"Kamu menyusul ke atas aja ya. Aku malas turun kebawah.."
"Baiklah dah."
Kania mengajak Kenan naik keatas sambil menarik tangan Kenan yang kekar. Raut wajah Kenan tampak tidak bersahabat ia sangat kesal.
"Ayolah Ken, wajahmu itu jangan ditekuk seperti itu dong." melas kania.
Kenan mencoba untuk tersenyum. Kania mencubit pipi Kenan karna merasa sangat gemes. Hal itu membuat Kenan merasa bahagia. Wajahnya pun berubah dengan total.
Mereka berjalan ke arah Leon dan mengejutkan Leon yang sedang menatap ke arah luar pemandangan dari atas cafe dan resto.
"Sudah lama?"
"Kan..."terkejut, "Nan... "melihat ke arah kenan
Leon terlihat begitu terkejut dengan kehadiran Kenan dan Kania. Kania yang semula merekahkan senyuman manisnya menatap ke arah mata Leon yang sedang menatap keterkejutan dihadapannya yaitu Kenan. Kania melirik bergantian ke arah dua pria kekar itu, meminta sebuah kejelasan. Karna, bukan hanya Leon tetapi wajah Kenan lebih sangat terkejut bahkan menyimpan sebuah amarah yang begitu besar dalam sorot matanya.
'Buk' satu bogem besar dari Kenan mendarat diwajah kanan Leon. Leon terjatuh, seketika suasana ruangan menjadi ricuh dan tegang. Kenan mengangkat kerah baju kaos Leon dan kembali melemparkan bogemnya. ketiga kalinya karna merasa tertindas. Leon pun membalas kenan hingga dua kali. Merasa tidak leluasa Kenan menyeret Leon ke bawah. Kania sangat ketakutan dan bingung. Berulang kali Kania mencoba untuk melerai pertengkaran ke dua pria yang entah apa alasannya.
Beberapa pria juga mencoba untuk menahan aksi Kenan yang menarik paksa Leon ke luar cafe. Tetapi, amarah kenan tidak dapat dihentikan. Ia mendorong jatuh Leon ke arah rumput segar halaman cafe dan meninjunya ber ulang-ulang begitu juga Leon membalasnya dengan begitu brutal. Kania berteriak beberapa orang berusaha untuk melerai perkelahian mereka. Hingga ketika mereka sama-sama mencoba untuk kembali memukul.
__ADS_1
'buk, buk' wajah Kania terkena kedua pukulan itu. satu mengarah dipelipis Kania, yang satu mengarah di hidung Kania. Kenan dan Leon panik lalu menghampiri Kania. Kania terdiam menatap kedua laki-laki yang sedang menyesal itu.