Kenan Dan Kania

Kenan Dan Kania
Aku Ingin Satu Seperti Kania


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu dengan kebahagiaan yang tak dapat diukir dengan apapun. Seperti saat ini semua


keluarga sedang bercengkrama dimeja makan untuk makan malam. Padahal selama ini meja makan tidak pernah seribut ini setelah kejadian itu. Bak, kembali ke masa yang lalu dimana kebahagiaan jelas sempurna untuk di nikmati.


".... Kakekmu dulu memang seperti itu, ketika merayu nenek. Berbagai cara ia lakukan untuk memacari nenek." semua orang tertawa.


"Aku tau pasti ini ceritanya, nenek selalu jual mahal kan ketika kakek mengajak untuk berpacaran." Jelas bang Jack


"Ya, ya bang. Aku paling suka pada saat Kakek harus menaiki pohon di samping kamar nenek untuk membujuknya berkencan." Sambut Leon


"Hem, benar kak Leon. Kakek tidak pernah berhasil untuk membujuk nenek berkencan. berulang kali kakek selalu menyatakan cinta kepada nenek. tapi, hahahah kakek selalu ditolak. Tidak sampai disitu, berbagai cara telah dilakukan kakek untuk mengajak nenek. Hingga hari yang ditunggu oleh kakek pun tiba, Kamar nenek berada di lantai dua jadi, kakek berinisiatif untuk mengajak nenek ke sebuah acara muda mudi dengan memanjat sebuah pohon yang tepat berada di samping kamar nenek. Padahal kakek buyut dan nenek buyut sangat galak sekali... tapi, tidak menyurutkan semangat kakek." Jawab Cantika


"Terus, Terus." Kania tampak serius menyimak


Kenan menatap Kania dengan tatapan heran. Lalu, menutup pembicaraan karna Kenan, ayah, bang Jack, kakek serta Leon telah berjanji untuk berjumpa dengan kolega.


"Terus, simpan rasa penasaranmu. Karna kami harus pergi sekarang." Jelas Kenan sambil medorong kursinya kebelakang dan menoleh ke arah Kania


"Yah, kamu memang ngak asik. Jika, kau ingin pergi, pergilah sana. Aku kan bisa berbincang bersama Leon, kakek, nenek, ibu,......." jawab Kania


"Leon, dan kakek juga ikut bersama kami. Sedangkan ibu, nenek, dan kak Kamila akan pergi menjenguk tante dari kak Kamila sekaligus salah satu pemegang yayasan."


"Ya, sudah aku akan bercerita dengan Cantika ble..." Kania kesal


Semua orang tertawa mendengar perdebatan kecil yang mengelitik antara sepasang suami istri itu. Tapi, disela perdebatan itu. Kania, Leon, dan Cantika saling menatap


"Kau akan sendiri disini Kania. Cantika akan keluar makan malam bersama Radit." ejek Kenan


"Radit? siapa dia?" tanya Kania


"Dia, anak teman kolega ayah Kania. Kami berencana untuk menjodohkannya dengan Cantika." sahut ayah Kenan


"Menjodohkan?" Kania terkejut. Semua orang menatap Kania. "Maksudnya, bukankah Cantika masih kuliah? kenapa dia tidak menyelesaikannya terlebih dahulu ayah?"

__ADS_1


"Semuanya bisa seiring Kan. Lagipula kami tidak memaksa Cantika. Cukup perkenalan saja dulu."


Leon, Cantika, dan Kania saling melempar tatapan.


*


Kania berdiam diri di kamar setelah semua orang pergi ke tujuan mereka masing-masing. Kania memang sudah diajak oleh ibu untuk ikut mereka menjeguk di rumah sakit. Tetapi, kania lebih memilih tinggal di rumah.


Kania duduk didekat jendela sambil memikirkan tentang Cantika.


"Bagaimana ini, Bagaimana aku akan menyelesaikan masalah Cantika? oh tuhan berikan aku jalan keluar." gumam Kania dalam hati.


"Aku jadi sangat bosan saat ini. Apa yang harus kulakukan sekarang ya?" tanya Kania


Setelah ia lama menentukan apa yang akan dilakukannya. Ia pun memilih untuk meluangkan kegundahan hatinya kepada Leon. Kania mengambil telepon gengamnya di atas meja sofa. Langsung mengirimkan pesan kepada Leon


Kania: p


beberapa menit kemudian


Kania: Kau memang teman, dan saudara yang sangat pengertian.


Leon: Pastinya, Jangan terlalu dipikirkan Kania. Kau tidak sendirian ada aku. Apakah kau lupa jika Cantika adalah adikku?


Kania: Wuahahah, bukan seperti itu Leon... hanya saja mungkin saat ini aku sedikit khawatir.


Leon: Jika kau khawatir itu hal yang wajar. Aku akan mempertanyakan kalau kau tidak khawatirkan.


Kania: Ya, ya ya ya. Ngomong ngomong bagaimana? apakah kau menikmati pertemuannya?


Leon: Sangat membosankan. Jika, saja aku dapat mengajakmu, pasti tidak semembosankan ini.


Leon tersenyum setiap kali membalas pesan dari Kania. Kenan yang duduk disebelahnya langsung tersenyum dan bertanya.

__ADS_1


"Sepertinya dari seorang wanita?" tanya Kenan berbisik


"Hem." balas Leon sambil menatap layar ponselnya


"Kekasihmu?" semakin selidik


"Sebenarnya ingin kujadikan kekasih, tetapi tidak bisa?"


"Kenapa?"


"Karna dia, is...triĀ  Saudaraku. heheheh." balas Leon tanpa beban


Kenan sedikit terkejut mendengar perkataan Leon.


"Maksudmu itu dari Kania?" tanya Kenan yang sedikit terkejut.


"Siapa lagi?" Leo tersenyum. Usahanya untuk membuat Kenan cemburu ternyata berhasil


"Kenapa dia mengechat mu?, bukan diriku?" dengan wajah yang sedikit ditekuk.


"Kau sih yang tidak pernah perhatian. Syukur aku yang dichat nya, Bagaimana kalau orang lain."


"Sekalipun itu kau, tidak seharusnya dia mengechat seorang pria" rutuk Kenan.


Leon berusaha menahan tawanya, karena, melihat wajah Kenan yang sudah cemberut habis.


"Makanya punya isri jangan dianggurin bro." Leon menepuk- nepuk punggung Kenan.


-


Akhirnya Kenan beserta rombongan tiba dirumah. Sepanjang jalan Kenan masih terbakar cemburu karena Kania lebih memilih chat bersama Leon ketimbang dirinya. Berulangkali kakek dan ayah bertanya dengan kenan, ada apa dengannya. Sedangkan Leon yang tau penyebabnya berusaha menahan tawa.


Mereka turun dari mobil untuk masuk kedalam rumah. Tangan kenan langsung meraih Leon dan memberhentikannya.

__ADS_1


"Carilah pacar, jangan dekati Kania." Jelas Kenan dengan ekspresi serius.


"Jika kau tidak ingin aku mendekati Kania, Carikan aku satu, seperti Kania." Leon mengidikkan alisnya kepada Kenan. Ia merasa sangat senang telah berhasil mengerjai saudaranya itu. Sedangkan api cemburu Kenan makin berkobar.


__ADS_2