
#sebelumnya
Kenan masuk ke kamar lalu meletakkan tasnya disisi kamar, matanya melihat ke seluruh penjuru kamar.
"Kamar ini tidak berubah ya. Padahal kamu tidak menempati ini lagi kan. Hem aromanya aku suka........ "
"Kenapa kamu datang kemari?" ketus Kania
'Tok tok tok'
#selanjutnya
Pembicaraan mereka terputus ketika bibi menyuruh mereka untuk makan siang bersama.
"Ayo, semuanya kita makan siang bersama! semua orang sudah menunggu kalian bersama." Pinta bibi
Kania memandang ke arah bibi dan turun begitu saja dengan wajah yang masam. Bibi memperhatikan Kania heran hingga turun, lalu bertanya kepada kenan dengan memberi kode.
"Biasalah bi, datang bulan heheh." Jelas kenan. Bibi tersenyum menggeleng
*
Kania mengambil lauk pauk pada piringnya sendiri, karna sebelumnya bibi sudah menyediakan nasi di setiap piring semua orang. Bibi menatap ke arah kakek bertanya. Kakek mengedikkan bahu, dan menegur kania.
"Kania, kenapa kamu tidak melayani suamimu?." Kenan yang mendengar hal itu seperti terbela. Ia pun tersenyum
Kania menatap kesal ke arah Kenan, Kenan merasa diberi aba-aba untuk mengambilnya sendiri menurunkan bibirnya dan langsung mengambil Lauknya sendiri.
"Tidak kek, Kenan ingin mengambilnya sendiri. Kasian Kania, di sana sudah terlalu repot melayani Kenan."
"Tanpa Kania, Kenan bisa melakukannya sendiri kok kek. Lihat saja, beberapa minggu tidak ada Kania badannya semakin melebar, raut wajahnya bahagia." Ketus Kania, dibalas senyum gemas dari Kenan.
Kenan merasa istrinya sangat mengemaskan jika marah seperti sekarang ini, selama makan Kenan terus memperhatikan Kania dengan tersenyum manis. Kakek, dan bibi merasa bahagia melihat tingkah konyol suami istri itu.
Selesai makan Kania melanjutkan aktifitasnya seperti biasa. Sedangkan Kenan diajak oleh kakek untuk pergi melihat perkebunan menyusul paman.
*
Makan malam tiba, semua orang berkumpul di meja makan. Kania tampak masih sangat kesal kepada Kenan. Setelah kepulangan Kenan dari pabrik bersama kakek, dan paman, tidak sekalipun Kania menyapa Kenan bahkan menyiapkan kebutuhannya pun tidak. Kania bersama bibi sedang mengatur semua makanan.
"Wah, wah makan malam yang spesial ya mah."
"Iya dong pah, menantu mama kan udah jauh-jauh datang kemari, pasti mama sambut dengan sangat spesial."
__ADS_1
Semua orang tertawa bahagia
"Kak Kenan, mana oleh-oleh untuk Linda?"
"Ada, nanti kamu minta sama kakak tersayangmu ya." Kenan sengaja melakukannya untuk memancing Kania. Kania yang mengetahui maksud Kenan tetap fokus dengan kegiatannya menyiapkan semua. Mereka saling menatap satu sama lain dan menggelengkan kepala.
Linda yang melihat ekspresi kakak sepupunya itu, ingin menjailinya. Mereka berdoa setelah itu mengambil lauk pauk. Kania tetap saja tidak mengubris suaminya itu, terpaksa Kenan mengambil sendiri makanannya. Walaupun sempat kakek igin menegur Kania, tetapi ditahan oleh Kenan dengan menggelengkan kepala.
"Kak Kenan, apakah kak Kenan merindukan Kak Kania?" Cantika mengerdikkan alisnya kepada Kenan sambil memberi isyarat untuk menjaili Kania. Kenan yang mengerti mencoba mengikuti permainan Linda.
"Tidak." Memperhatikan wajah Kania
'Deg' jantung Kania berdetak, ada rasa sakit yang dirasakannya. Karna jujur saja ia sangat merindukan Kenan. Ia pun membuang wajah
"Bagaimana rasanya tidak ada kak Kania disana selama beberapa minggu kak?"
"Hem, biasa saja. Seperti kata kakakmu Lin, kak Kenan semakin melebar dan juga bahagia." Melirik kembali ke arah Kania melihat responnya
"Wah, benar juga ya. Lihat pipi kakak ya ampun tembem banget." memanasi Kania
"Iya, ya benar. Apakah selama ini kamu tertekan ketika ada Kania ken?" Paman yang begitu polos ikut nimbrung. Kania melirik ke arah Kenan sebentar, lalu melanjutkan makannya
"Kamu gimana sih Kania? jangan galak-galak dong sama Kenan kasihan dia jadi tertekan. wuahaha." Sahut kakek
"wuahaha" Tawa sambung semua orang. Kania menghentikan makannya dan berdiri dengan wajah yang marah membuat semua orang berhenti tertawa
"Loh, loh Kania." Sahut kakek
"Nak, habiskan dulu makananmu." Pinta bibi.
"Kalian sih, memanas-manasi dia. Dari siang mood nya sudah tidak baik loh. Jadi, berabe kan." Jawab kakek.
"Kamu Linda, ayo sana tanggung jawab." Kata ayah
"Loh, kok Linda sih pa? papa juga salah sama kakek kenapa ikut-ikutan."
"Sudah Lin, biar kakak yang membujuk. Ini semua gara-gara kakak. Mari semua lanjutkan saja makannya, biar Kami makan dikamar saja." Jawab Kenan
"Ya, nak bicaralah dengan baik kepadanya." Pinta kakek.
*
Kenan masuk, dilihatnya Kania berdiri di balkon kamarnya dengan pipi yang telah basah dan bibir yang menahan tangisan pecah. Kenan meletakkan piring makanan Kania di atas nakas dan menghampirinya.
__ADS_1
"Maaf." Kenan berdiri disamping Kania.
Kania dengan tergesa-gesa menghapus airmatanya lalu pergi menghindari Kenan. Kenan mengejar Kania lalu menahan tangan Kania.
"Lepaskan."
"Tidak mau."
"Aku bilang lepaskan."
"Tidak mau, sebelum kau mendengarkan penjelasan dariku."
"Untuk apa? ngak ada yang perlu didengarkan. Bukankah semuanya sudah jelas?"
"Apanya yang jelas? hem? kamu tidak ingin tahu Cantika menikah dengan siapa?" Kania menoleh perlahan dengan tatapan penasaran kepada Kenan.
Melihat bujukan Kenan berhasil. Ia pun menarik Kania agar duduk di ranjang dan Ia menarik kursi riasnya dan duduk menghadap Kania. Kania menyilang kedua tangannya dengan membuang muka.
"Kamu kalau seperti itu makin ngegemesin deh." Goda Kenan.
"Aku pergi" Kania bangkit berdiri karna kesal.
"Ehhhh,,, jangan-jangan... aku hanya bercanda sayang..."
Kania menatap Kenan dengan menaiki satu alisnya karna mendengar sebutan sayang yang terlontar dari mulut Kenan."
"Aku datang kemari untuk menepati janjiku, menjemputmu pulang ke rumah. Kakek yang minta loh. Sebenarnya kakek dan nenek ingin ikut, tapi nenek sedang kurang baik, jadi aku menyuruh mereka untuk tetap tinggal. Tidak masalahkan." Kania menatap kenan sambil mengangguk. "Aku juga telah menepati janjiku untuk menikahkan Darta dengan Cantika?" Kania terperanjat.
"Benarkah?" Menarik tangan Kania untuk kembali duduk.
"Semangat kali sih dengerinnya, dimana- mana itu suami datang di sambut kek, di peluk kek, atau dicium. Ini malah dicuekin, dan dimarah. Mana ngambilin nasi sendiri lagi." Menyilangkan tangannya.
"Ya, kamu sih. Gimana ngak kesal kamunya ngak kasi kabar ke aku."
"Hem, jadi kamu rindu sama aku cerita ngambeknya ni."
"Enggak, aku itu...."
"Ala, ngeles aja kamu kerjaannya ya." Mencubit hidung Kania.
"Sakit ken." Mencoba melepaskan cubitan Kenan.
"Tapi sukakan?" Goda Kenan
__ADS_1
"Apaan sih." Kania tersipu malu.
"Kemari biar kupeluk." Kenan memeluk Kania dengan erat sambil mengusap dan mencium pucuk rambut Kania. Kania terkejut melihat perlakuan manis dari Kenan. Dengan malu-malu Kania mencoba untuk membalas pelukan itu