Kenan Dan Kania

Kenan Dan Kania
Aku Tahu Siapa Orang Tuaku


__ADS_3

Keesokan harinya setelah menyelesaikan beberapa mata kuliah. Kania, Feren dan Jeje siap berangkat untuk menemui salah satu List pertama dari ketiga nama yang sudah pasti mirip dengan inisial orangtuanya tersebut.


Mereka telah sampai di sebuah kafe yang menampilkan keasrian yang sangat sejuk, nyaman , dan segar. Ini adalah requestian dari orang tersebut. Karena lokasi nya yang berada di antara titik tengah mereka.


“Kan, kami disini saja ya.” Sedikit menjauh diantara Kania dan orang tersebut agar tidak mengganggu.


“Baiklah, sepertinya Ibu itu yang duduk dipojokan disana.”


“Ya, udah samperin gih. Kasian entar keburu nungguin lama.”


“Ok, dah.”


“Dah, Semangat Kania.” jawab kedua sahabatnya itu


“Iya iya.” Kania tersenyum hangat, ia senang di pertemukan dengan orang yang mau mendukungnya disaat-saat seperti ini.


-


Kania mendekati ibu tersebut dan menyapanya.


“Selamat sore tante.” Sapa Kania


“Sore, kamu Kania kan?” Jawab wanita paruh baya tersebut dengan ramah


“Iya, tante saya Kania yang telah mengundang tante kemari.”


“Iya, iya duduk Kania.” Wanita tersebut memperisilahkan Kania untuk duduk bersamanya


“Maaf sudah meunggu ya tan.”


“Tenang saja Kan, tante juga baru selesai meeting kok dengan beberapa klien disini.”


“Hem, begitu ya tan.”


“Iya Kan. Terus gimana nih? Maksud tante ada perlu apa ya?” Sepertinya wanita paruh baya tersebut tidak ingin berbasa-basi lagi.


“Begini, tante kenal dengan kakek Amonade?” Tanya Kania lembut supaya tidak menyinggung hati wanita yang tampaknya sangat baik dan ramah.


“Amonade? Sepertinya pernah dengar, siapa ya? Tunggu tante ingat dulu.” Mencoba untuk mengingat

__ADS_1


Satu point yang kania telah dapatkan. Bahwa wanita paruh baya tersebu bukan ibunya.


“Ohw, iya tante ingat. Tuan amonade.”. ‘Jreng’ kania berdegup sejauh mana dia mengenal kakek. “Tuan Amonade salah satu yang punya perkebunan teh terkenal itu kan?” ‘Swing’ Kania menselorot karena ia mengenal kakeknya karena memag kakeknya terpandang. Kania cengir karna sedikit malas menanggapi. “Ayahnya Sarah Putri Amonade?” ‘JEDUAR’ hati Kania bergemuruh benderang tak sanggup menahan kenyataan amat sangat pahit. Hal yang ia takuti telah terjadi. “Salah satu rivalku dahulu dibidang akademik dan juga kecantikkan. Hahahah” sambung wanita paruh baya tersebut sedikit mengenang. “Emangnya ada apa Kan?” Tanya wanita paruh baya tersebut dengan penasaran.


“Tidak, tidak ada apa-apa tante. Hanya sedikit…….” Kania memegang kepalanya yang terasa berdenyut hebat.


“Gedubrak!” Kania terjatuh dari tempat duduknya, sepertinya ia sangat terkejut atas kenyataan yang baru saja ia ketahui.


Dengan segera Feren dan Jeje menghampiri mereka dan membawa Kania ke rumah sakit terdekat.


-


Kania mulai menggerakkan jemari tanda ia sudah hamper sadar. Dengan paniknya Feren dan Jeje berebut paksa berkomunikasi dengannya.


“Kania. Kania kamu sudah sadar.” Panic Feren dan Jeje sambil memegang tangan Kania disisi mereka masing-masing.


Kania memegang kepalanya yang memang masih terasa berat tersebut.


“Ren, tekan tombol darurat untuk memanggil dokter kemari dengan segera.” Perintah Jeje


“Tombol? yang mana?” Tanya Jeje yang kebingungan mencari letak tombol tersebut.


“Ohw, iya. Maaf je biasa gelagap.”


“Hem, ni ya kata orang tua zaman dulu, kalau ada ular udah dipatok kamu.” Kesal Jeje


“Iya, iya maaf. Ya udahlah Je ngapain sih kita berdebat segala. Kania baru sadar ini.” Alih Feren. Jeje terdiam benar juga apa yang dikatakan sahabatnya tersebut. Yang penting sekarang adalah kesehatan Kania.


“Kepalaku.” Keluh Kania.


“Apa yang sakit Kan?” Tanya Jeje


“Kepalaku berat sekali.”


Dokter masuk dengan satu perawat untuk memeriksa keadaan Kania yang sudah tersadar.


-


Setelah beberapa menit memeriksa semua keadaan Kania Jeje bertanya.

__ADS_1


“Bagaimana dok?” Tanya Jeje


“Keadaan ibu Kania baik-baik saja. Sepertinya ibu Kania sedang mempunyai banyak pikiran sehingga membuatnya tertekan dan pada akhirnya tumbang.” Jelas dokter. “tapi, tenang saja setelah istirahat dengan total ibu Kania akan kembali seperti biasa.”


“Baik dokter.” Jawab Jeje


“Kalau begitu saya akan memberikan resep untuk obat serta vitamin yang harus ibu Kania minum.”


“Terimakasih dok.” Ungkap Jeje


-


Kania tidak tahan akan bau rumah sakit. Sehingga ia meminta tolong kepada kedua sahabatnya tersebut untuk mengantarkannya ke apartment miliknya setelah mendapatkan izin dari dokter untuk beristirahat di rumah. Mereka pun pergi mengendarai mobil Feren dan sekarang mereka telah masuk ke dalam apartemennya.


Kania meletakkan tubuhnya dengan kasar di atas sofa ruang tamu diikuti kedua sahabatnya tersebut.


“Sebenarnya ada apa Kan? Apa yang membuatmu pingsan?” Tanya Feren sambil menggenggam erat tangan Kania.


Sejenak Kania terdiam terpaku tanpa suara. Melihat hal itu Jeje dan Feren bertanya melalui bahasa komat-kamit mereka di bibir.


“Ya, sudahlah Kan. Jika kau belum sanggup untuk menceritakannya sekarang tidak apa-apa kok.” pengertian Jeje


“Aku sudah tahu siapa orangtuaku sesungguhnya.” Pandangan Kania tetap tertuju kedepan. Dengan rasa penasaran mereka berdua pun mendekat sangat rapat dari sebelumnya kepada Kania. Seperti ingin mendengarkan kabar terbaru yang menyebabkan si korban tumbang.


“Siapa Kania?” Tanya Feren dan Jeje dengan rasa penasarannya.


“Sarah Putri Amonade. Atau lebih tepatnya Ibu Sandra”


“HA?” serempak


“Ketika aku bertanya pasal kenal atau tidak dengan kakekku terhadap tante itu. Awalnya aku piker ia mengenal karena kakek yang cukup tersohor, disela pembicaraanya ia langsung merujuk kepada nama itu. Sarah Putri Amonade.” Jelas Kania dengan wajah yang serius.


-


Feren dan Jeje pamit meninggalkan Sarah diapartmen. Awalnya, mereka ingin menginap sambil menjaga Kania niatnya. Tetapi, Kania kekeh tidak ingin karena ia butuh waktu untuk sendiri. Feren dan Jeje yang mengerti juga tidak memaksakan kehendak mereka walaupun mereka juga khawatir akan kondisi Kania. Sebisa mungkin Kania meyakinkan kedua sahabatnya itu.


Setelah kepulangan mereka, Kania membersihkan dirinya dikamar mandi kamarnya. Ia berendam dengan airhangat yang bercampur aroma terapi agar dapat merilekskan tubuhnya. Ia berjalan keluar kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuhnya dan rambutnya yang dicepol memperlihatkan leher jenjangnya.


Ketika dia mengambil handphone genggamnya di atas nakas. Tiba- tiba ia di peluk dari arah belakang. Dengan cepat ia langsung menoleh kebelakang sambil ingin melepas pelukan tersebut. Betapa terkejutnya dia, pria yang sangat bucin ada dihadapannya.

__ADS_1


Kania membalas pelukan tersebut, betapa senang hatinya saat ini hingga tanpa sadar air matanya mengalir membasahi pipinya. Tersadar jika bajunya telah basah dibahunya. Pria tersebut melepaskan pelukannya lalu mengecup kening, kedua matanya bergantian, hidung, pipi, dan terakhir adalah bibirnya. lalu mereka saling memeluk dengan erat satu sama lain seperti tak ingin melepaskan diri mereka masing-masing.


__ADS_2