
'PLAK' satu tamparan kasar mengenai pipi Kania. Semua orang terkejut melihat tangan kakek yang mendarat di pipi Kania.
Flash back On
Sore hari yang begitu cerah, seperti biasa semua orang berkumpul setelah rutinitas pekerjaan, dan lainnya telah selesai kecuali Kenandri. Ia belum juga pulang sedangkan nenek Nasya berbaring dikamar karna merasa tidak enak badan.
Di kamarnya nenek Nasya, nenek Nasya berdiri dengan terhuyung-huyung mencari pengikat kepala yang ia pakai ketika sedang pusing. Alhasil beberapa menit ia mencari tidak menemukannya, ia pun terduduk dimeja rias sambil memegang kepala dan mengingat terkahir kali aia meletakkannya.
"Astaga, kamar Cantika."
Nenek Nasya berjalan ke arah kamar Cantika. Krek bunyi pintu terbuka, dicarinya pengikat kepala tersebut hingga kelemari pakaian Cantika dan alhasil ia menemukannya di laci lemari Cantika di sebuah amplop coklat. Merasa penasaran, nenek Nasya mengambil amplop tersebut lalu duduk diatas ranjang dan membuka amplop coklat yang berada ditangannya saat ini. Betapa terkejutnya ia melihat sebuah test pack, hasil pemeriksaan dokter, dan juga resep dokter atas nama Cantika.
"Apa? Cantika hamil? ini tidak mungkin, pasti tidak mungkin." Dengan langkah gontai sambil memegang kepalanya Nenek Nasya turun menuju ruang keluarga.
*
Nenek Nasya melemparkan amplop tersebut ke meja tepat dihadapan cantika.
"Jelaskan pada nenek apa ini." Semua orang heran melihat ketegangan nenek Nasya
__ADS_1
"Ada apa ibu..."
"Sttt..... diam aku sedang bertanya pada Cantika. CANTIKA JAWAB." Bentak nenek.
Cantika gemetar ketakutan, sesekali ia melirik ke arah Kania. Kania pun mengerti apa yang nenek pertanyakan kepada Cantika begitu juga dengan Leon.
Karna tidak mendapatkan jawaban apapun dari cantika. Ayah pun mengambil amplop tersebut dan melihat isinya. Ekspresi Ayah sama ketika nenek Nasya mengetahui isi amplop tersebut. Kakek bingung dengan ekspresi keterkejutan anaknya. Akhirnya, ia pun mengambil apa yang dibaca oleh anaknya itu. Disambut dengan penerimaan amplop beserta isinya kepada semua orang.
"Siapa yang melakukan ini padamu nak?" Kakek bertanya
"Ka.... kek....." Jawab cantika.
"Jawab kakek mu nak, siapa yang telah melakukan ini terhadapmu." Jelas Ibu Cantika yang begitu terkejut mengetahui apa yang terjadi.
"Emosi kakek dan Ayah serta bang Jack memuncak."
"Brengsek, berani sekali bocah tengik itu, lihat saja akan kubunuh dia." Ungkap bang Jack dengan emosi sambil akan melangkah pergi keluar menemui Darta dan membasminya. Syukurlah Leon dengan segera menahannya.
"Tenanglah dulu bang, emosi tidak akan bisa menyelesaikan masalah." Tenang Leon.
__ADS_1
"Apa yang dikatakan Jack benar. Ayo, sekarang kita pergi kerumah Darta. Candra telpon polisi. Aku ingin dia memenjarakan anak itu. Anak itu harus menanggung kesalahannya." kakek berbicara
"Kek, paman ayolah. Kalian jangan terbawa emosi seperti ini. Jika kalian memenjarakan Darta apakah ini akan menjadi solusi yang tepat? pikirkan Cantika. Pikirkan bayi yang dikandunginya saat ini."
"Maksudmu apa Leon?"
"Nikahkan Cantika dan Darta?"
"APA?" Ketiga pria itu terkejut
Semua orang terkejut mendengar saran yang diberikan Leon kepada mereka.
"TIDAK, sampai kapanpun aku tidak mau berhubungan dengan keluarga itu. MENJIJIKAN cuih" Ayah meludah kasar.
"Paman ayolah, aku tau hubungan kita dan keluarganya buruk dimasa lampau. Lupakan masa lalu, jangan jadikan satu orang yang berbuat kita menghukum semuanya. Tanyakan pada Cantika? apakah dia mencintai Darta atau tidak?"
Kakek mendekat kearah Cantika dan bertanya.
"Apakah yang dikatakan Leon itu benar nak? Apakah kau juga menyukai Darta?"
__ADS_1
"I..... ya.... kakek" Jawab Cantika dengan rasa sangat takut.
Kakek mengangkat tangannya untuk menampar Cantika. Tetapi, sayang Kania dengan cepat menghadang alhasil, 'PLAK' satu tamparan kasar mengenai pipi Kania. Semua orang terkejut melihat tangan kakek yang mendarat di pipi Kania.