
beberapa hari kemudian, kondisi kenan sudah membaik. kenan akhirnya bisa untuk pergi ke kantor setelah beberapa hari meninggalkan kantornya. begitu banyak pekerjaan yang telah menumpuk.
"kania, sepertinya aku akan lembur malam ini. jangan menungguku pulang, ataupun makan mengerti."
"siapa juga yang mau menunggumu pulang dan makan. lebih baik aku tiduran dan juga ngapain aku kelaparan gara-garamu? hish." jawab kania ketus sambil menyungingkan bibirnya dengan sinis.
"ohhw, begitu ya. jadi, siapa yang selama ini selalu menungguku makan dan pulang?" bercekak pinggang sambil tersenyum karna kania
"mana ku tahu, mungkin istrimu." melipat kedua tanganya.
kenan semakin gemas dan geregetan dengan tingkah kania yang begitu menggoda. di dekatkan dirinya dengan kania. deg jantung kania berdegup kencang perasaan yang tidak ingin ia rasakan. karna wajahnya yang merah akan terlihat.
"kenapa kamu mendekatiku?"tanya kania dengan perasaan sedikit gugup
"tidak, aku tidak mendekatimu. aku hanya mendekati istriku." jawab kenan dengan menggoda
"untuk apa kamu mendekati istrimu?" menjauhkan tubuhnya dari kenan
wajah kenan mendekat, kania semakin grogi dan takut. cup satu kecupan lembut jatuh di kening kania
"untuk memberikan kecupan trimakasih, karna sudah menjadi istri yang baik untukku." ungkap kenan dengan tidak merasa bersalah. tapi, untuk apa merasa bersalah? kan kenan dan kania memang suami dan istri hehe
jantung kania terpompa sangat cepat. napasnya tidak beraturan, hingga kenan tersenyum lembut melihat kania yang tidak dapat mengontrol napasnya.
"tenanglah kania, jangan takut. aku tidak akan menyakitimu." kenan membelai rambut kania dengan lembut. kania semakin tidak dapat bernapas dengan baik.
"hahaha, kamu lucu sekali. wajahmu memerah sebaiknya aku pergi, jika tidak kau akan mati karna kehabisan napas." goda kenan mengambil tas kerjanya di atas ranjang.
setelah kenan pergi dari kamarnya, kania berusaha dengan cepat mengambil napas dan mengeluarkannya. ia duduk diatas sofa sambil menenagkan perasaannya yang bergejolak.
beberapa menit berlalu, kania memperhatikan ruangan terlarang itu. lalu mengambil kunci ruangan yang ia sembunyikan dari kenan.
kania memasukan kunci lalu memutarnya ke arah kanan dan pintu pun terbuka. betapa terkejut dirinya melihat ruangan terlarang itu. ruangan yang tertata dengan rapi, poto-poto keluarga terpampang di setiap sudut ruangan, seperangkat meja kerja di hadapkan mengarah ke depan jendela, beberapa alat fitnes, beberapa rak buku, dan juga seperangkat peralatan arsitektur. ruangan yang cukup besar. untuk menata itu semua.
"wah, ruangan ini bagus sekali, sepertinya selalu dibersihkan. tapi siapa yang membersihkan ruangan ini? bukankah tidak ada satupun orang yang boleh masuk ke ruangan ini? apakah kenan? tapi, kenapa ruangan ini tidak boleh dimasuki?" tanya kania
__ADS_1
rasa penasarannya pun mulai bermunculan dibenaknya. ia membongkar semua tempat untuk mencari sesuatu agar bisa dijadikan petunjuk.
"tidak ada apa-apa disini. hanya sekumpulan berkas, dan sketsa gambar rumah. ha? (menghela napasnya)" kesal kania. matanya berlalu ke arah dinding yang memampang foto-foto keluarga. "lucu-lucunya anak kecil ini. ini, pasti cantika, bang jack wajahnya jelas sekali. tidak ada yang berubah, ini pasti kenan hehe lucu sekali wajahnya."
ia menelusuri setiap bingkai poto dinding tersebut. hingga matanya terbelalak melihat poto yang memampangkan 4 anak kecil sedang berdiri bersama kakek dan nenek. dengan segera ia menelusuri kembali setiap poto melihat anak kecil itu. beberapa poto yang dikiranya adalah kenan sebenarnya bukan kenan tetapi, anak kecil yang entah siapa itu. ia mengambil handphone nya dan memfoto ulang foto tersebut agar dapat ia tanyakan kepada kakek dan nenek siapa diantara 2 anak kecil yang seumuran itu selain kenandri ganendra.
*
Telpon kania berdering ia mengangkatnya, seseorang nan jauh disana sedang berbicara kepada kania dengan penuh kesedihan. kania berusaha untuk menenangkannya.
"kamu tenang dulu ya. dimana kita akan bertemu? kirimkan alamatnya, aku akan segera meluncur kesana." jawab kania dengan perasaan sedikit cemas.
kania mengambil tasnya dan memasukkan beberapa keperluannya. ia menuruni tangga dengan sangat cepat dan mencari keberadaan ibu mertuanya, kak kamila ataupun nenek. yang bisa dimintai izin agar dapat keluar.
"mba, dimana nenek, mama, ataupun kak kamila? siapa saja pokoknya." tanya kania terburu-buru
"maaf nyonya, saya tidak tahu." jawab salah satu pekerja
salah satu pekerja yang sedikit menguping pembicaraan kania langsung menghampirinya lalu memberitahukan keberadaan salah satu dari mereka.
"iya, kamu tahu dimana keberadaanya?" tanya kania
"iya saya tahu nyonya, barusan saya melihat nyonya besar berada di depan gerbang sedang berbicara dengan beberapa penjaga." jawab pekerja itu
"ohw, baiklah. trimakasih ya." ungkap kania dengan berlalu
"sama-sama nyonya." jawab pekerja itu sambil dicolek oleh salah satu pekerja yang pertama.
*
"nenek." pangil kania dengan suara yang lantang, membuat nenek nasya yang sedang fokus dengan para penjaga langsung menoleh.
kania berlari ke arah nenek nasya dengan terengah-engah. nenek nasya bingung mengapa cucu menantunya itu begitu tergesa-gesa. pasti ada sesuatu hal yang darurat.
"ada apa kania? kenapa kamu berlari seperti itu?"
__ADS_1
"ne ha nenek ha kania ha ha (terengah- engah)."
"tarik dulu napasmu, lalu keluarkan ayo." pinta nenek kepada kania yang langsung diikuti oleh kania. setelah kania merasa napasnya sudah beraturan. kania langsung memberitahukan tujuannya.
"nenek, apakah kania bolh izin untuk bertemu dengan teman kania?"
"teman yang waktu itu mengajak mu ke panti asuhan?"
"panti asuhan?" tanya kania heran, seingatnya dia tidak pernah kepanti asuhan.
"iya, yang pagi-pagi itu loh. yang pulangnya kamu bersama cantika! masa kamu lupa?"
kania mengerutkan keningnya sambil berusaha mengingat-ingat. akhirnya tidak berapa lama, ia baru tersadar. jika waktu itu dia berbohong untuk pergi ke panti asuhan bersama temannya, padahal kania mengikuti cantika.
"ohw iya, bener nek bener. dia lah orangnya nek." kania sedikit tidak enak dengan kebohongannya
"ada apa dengan dirinya? kenapa kamu sepertinya terburu- buru untuk menemuinya?" tanya nenek dengan penuh selidik
"iya nek, dia butuh bantuan kania saat ini."
"bantuan apa?"
"dia sedang mengalami kesedihan nek. kasian dia, kania ingin membantu menenangkannya nek. kania tidak ingin dia merasa sendirian."
kania memperhatikanĀ wajah nenek nasya yang sepertinya tidak menyukai kania untuk bertemu dengan temannya itu. karna, setahu nenek nasya temannya itu adalah seorang pria. memang kania berbohong kepada semua orang tentang kepergiannya waktu itu. tetapi, selebihnya kania selalu jujur kepada mereka semua.
kania datang mendekap ke arah nenek nasya dan memberikan sedikit bujukan.
"nenek, nenek jangan khawatir. kania tidak akan macam-macam kok. kania tidak akan pernah mengkhianati suami kania. kania tahu, nenek khawatirkan kalau kania dekat dengan dia? nenek takut kan jika kania malah mencintai dia dan meninggalkan kenan seperti aira naka?" nenek memandang ke arah kania dengan ekspresi yang sangat terkejut.
bagaimana bisa kania mengetahui tentang mantan tunangannya kenan. padahal setahu nenek tidak ada seorang pun dirumah yang membicarakan tentang masa lalu kenan itu.
"nek, mungkin kania dan kenan menikah bukan karna cinta. kania tidak perduli, mau kenan akan membukakan hatinya untuk kania atau tidak. tapi, bagi kania kenan adalah satu-satunya pria yang akan menemani kania sampai akhir hidup kania. percayalah nek" kania menghadapkan tubuh nenek ke hadapannya. sambil menatap nenek dengan pernuh keyakinan.
melihat ketulusan dan kebenaran yang tersirat di mata kania. nenek pun menganggukkan kepalanya dan memperbolehkan kani untuk pergi. kania melompat kegirangan lalu mencium pipi kanan neneknya dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1