
Dada Ara bergemuruh.
"Bapak masih ingat soal kedatangan Bapak di kampung Ara?" tanya Ara. Ia mulai berani bertanya soal itu karena Tristan sempat menyinggungnya tadi.
"Tentu saja. Bahkan setiap hari aku selalu ingat," kata Tristan tegas.
"Aku pikir ... Aku pikir Bapak sudah tidak ingat soal itu. Aku pikir ..." Belum menyelesaikan kalimatnya, air mata Ara meleleh.
"Ara. Kamu menangis? Aku menyakitimu?" Tristan panik. Ia menyeka air mata gadis ini.
Ara menggeleng.
"Aku pikir Bapak sudah tidak ingat padaku lagi. Bapak sudah lupa soal janji itu." Masih dengan air mata yang menggenang di matanya, Ara mencoba bicara.
"Apa yang kamu katakan Ara. Itu tidak mungkin. Tidak mungkin aku melupakanmu." Tristan memeluk Ara erat.
"Lalu kenapa Bapak tadi diam saja saat bertemu denganku?" kecam Ara masih di dalam pelukan Tristan. Itu yang membuat Ara yakin bahwa pria ini tidak mengingatnya lagi.
"Aku takut langsung menerjang mu jika tidak bisa tenang, Ara," hembusan hangat napas Tristan menerpa kepalanya. Hatinya seakan ikut menghangat juga. Bahkan wajahnya memerah juga. "Aku menekan diriku sendiri agar tidak memeluk dan mencium kamu di depan kakek. Kamu tahu, itu sulit Ara. Setelah kita berpisah lagi, sulit bagiku untuk menahan diri," lanjut Tristan.
Ara menenggelamkan wajahnya pada dada bidang pria ini. Ia makin malu karena kalimat jujur Tristan. Dia menyentuh dagu Ara untuk mendongak.
"Kamu mungkin tidak tahu semua itu karena sejak pertama menunduk saja. Kamu takut melihatku?"
"Ya. Aku takut Cerita di kampung itu adalah khayalan saja. Bapak tidak mengingatku," kata Ara. Tristan mengecup bibir Ara lembut.
__ADS_1
"Kamu itu berpikir pendek."
"Bapak itu pria tampan dan mapan. Membuang ku saja tidak mungkin membuat dunia Bapak hancur," kata Ara tahu diri.
"Kamu belum benar-benar mengenal aku, Ara? Aku sudah jatuh cinta ke kamu. Jatuh cinta pada penipu yang sudah membolak-balikkan perasaanku," ungkap Tristan.
Ara tersenyum tersipu.
"Jadi ... Kamu datang hanya untuk mengambil daftar nilai ujian?"
"Sepertinya begitu."
Astaga.
Ara melebarkan mata terkejut. Sontak wajahnya memerah. Lalu mendorong tubuh Tristan. Namun pria itu enggan melepaskan. Justru makin erat memeluk.
"Tidak. Kamu tidak boleh kabur, Ara," kata Tristan. Ponsel Tristan berdering di atas meja. Namun Tristan mengabaikannya.
"Handphone Bapak berdering," ujar Ara memberitahu.
"Biarkan saja." Tristan menatap Ara dengan sensual. Ara mengerjapkan mata seraya berusaha lepas dari pelukannya.
__ADS_1
"Jangan, Pak. Nanti itu telepon penting." Ara mencoba mengalihkan perhatian Tristan pada dirinya. Ponsel berhenti berdering.
"Itu bukan telepon penting." Tristan lebih suka memeluk dan menggoda Ara daripada menerima telepon.
Ponsel berdering lagi.
"Pak. Coba Bapak lihat dulu. Mungkin itu benar-benar telepon penting. Atau itu dari kakek." Mendengar Ara bicara soal kakek. Tristan langsung terkesiap.
"Aku melupakan Kakek. Beliau ingin makan siang dan bicara padaku." Tristan baru ingat. "Kamu benar-benar membuatku lupa segala hal penting lainnya, Ara." Tristan menowel hidung kecil Ara. Lalu melepaskan perlahan.
Ara menghela napas. Ia sudah deg-deg-an tadi. Karena bisa saja Tristan lupa daratan. Ia membetulkan rambutnya.
"Kamu bebas. Aku melepaskanmu sekarang. Aku akan ke kakek dulu, lalu menyelesaikan dengan cepat dan kembali padamu. Jadi tetaplah di ruanganku," tunjuk Tristan pada Ara.
"Aku harus tetap di sini?" tanya Ara.
"Kamu ingin ikut aku menemui Kakek?" tanya Tristan. Ia menyadari Ara tidak setuju menunggu di ruangannya.
"Bukan itu maksudku. Maksudku adalah ..." ralat Ara.
Tristan langsung menyambar tangan Ara.
"Jangan cemas. Kakek tidak akan marah padamu. Aku yakin," ujar Tristan meyakinkan. Ara diam.
______
__ADS_1