
Sungguh tidak terduga jika pria ini makan di tempat murahan begini. Ara di buat terheran-heran dengan keputusan pria ini makan di tempat ini.
"Sudah sering kesini?" bisik Ara.
"Tidak."
"Lalu? Kenapa tiba-tiba ingin makan di sini?" tanya Ara tidak lagi berbisik.
"Bukannya kamu lebih menyukai makan di tempat murah seperti ini?" Tristan justru bertanya.
"Aku?" tanya Ara yang kelihatannya sudah lupa siapa Tristan ini. Cara bicaranya tidak lagi formal. "Kenapa aku? Bukannya yang mau makan itu kamu?" tunjuk Ara pada Tristan. Pria itu terdiam. Agak lama. Ini membuat Ara sadar bahwa ia sudah kelewatan. "Eh, maaf. Saya jadi lancang. Maaf saya sudah bersikap tidak formal. Maafkan saya." Ara menunduk sambil mengeluh di dalam hati atas kelancangannya.
"Tidak masalah. Dengan begitu kamu akan terbiasa dan terus berimprovisasi di hadapan kakek. Karena sepertinya beliau tidak percaya bahwa kamu kekasihku," kata Tristan. Ara mengangguk.
Tentu saja tidak percaya. Bagaimana mungkin dia yang jarang bicara dengan banyak wanita selain pekerjaan tiba-tiba punya kekasih? Tuan Haga pasti paham itu. Bukannya dia kakek pria ini?
"Kenapa melihatku seperti itu?" tegur Tristan mengejutkan. Karena rupanya tanpa sadar Ara memandangi pria ini sambil bergumam.
"Ah maaf. Tidak. Saya tidak seperti itu." Karena terkejut dan mendadak takut, Ara jadi ingat bahwa dirinya adalah bawahan. Tristan menyeruput minumannya. Dia tidak lagi membahas Ara yang memandangi dirinya.
"Padahal aku tidak ingin meninggalkan kakek, kenapa kakek terus saja memaksaku untuk menikah? Apa semua orang tua seperti itu? Terus saja menginginkan putra atau cucunya menikah?" tanya Tristan membuat Ara mengerjap. Itu pembahasan pribadi. Apakah pria ini mendadak terbuka padanya dan ingin curhat? Ara menggeleng.
"Saya tidak tahu, Pak."
"Kamu. Apa kamu tidak di suruh orangtuamu untuk menikah?"
"Saya masih muda untuk menikah, Pak. Lagipula saya masih punya impian yang belum kesampaian. Jadi saya tidak mau harus menikah dulu," ujar Ara.
"Impian? Apa penipu sepertimu juga punya mimpi?" cela Tristan membuat bibir Ara menipis kesal.
"Tentu saja punya. Saya juga manusia yang punya hati," bela Ara.
"Oh, aku baru tahu itu."
Sialan pria ini.
__ADS_1
**
"Mana motorku?" tanya Ara yang melihat Jarvis mencegatnya. Dia memang tidak langsung pulang. Setelah mengganti pakaian di toilet umum perusahaan, ia kembali magang.
"Masih di bengkel."
"Bukannya enggak begitu parah? Kenapa lama?" tanya Ara tidak setuju ia harus meminta dulu motornya kembali.
"Tuan Tristan memintaku mengantarkanmu pulang. Jadi kamu tidak perlu meminta motor itu."
"Aku tidak bisa bebas," desis Ara.
"Aku tidak tahu. Aku hanya menjalankan perintah." Jarvis tidak peduli. Ara menipiskan bibir seraya berdecih.
"Aku bisa pulang sendiri."
"Tidak. Di dalam kontrak kamu harus mengikuti semua intruksi tuan Tristan," kata Jarvis membuat Ara melebarkan mata.
"Kontrak?"
"Jadi aku di kontrak menjadi pegawai perusahaan? Pegawai tetap?" tanya Ara berharap indah.
"Aku rasa bukan. Kamu akan tahu sendiri saat tuan Tristan menyuruhmu menandatanganinya."
"Beri tahu aku sedikit isinya," pinta Ara.
"Aku yakin itu berhubungan dengan profesimu sebelumnya."
"Apa?" tanya Ara bingung.
"Memainkan sandiwara."
"Oh, itu." Ara kecewa. Jarvis mengerutkan keningnya sejenak. Menurutnya itu suatu peran yang besar. Dimana selama ini Tristan tidak pernah menggunakan siapapun untuk menahan kakeknya menjodohkannya. Ini yang pertama. Dia perempuan pertama. "Tunggu. Jika permainan ini ada kontrak di atas kertas, apa akhirnya aku mendapat kompensasi?" selidik Ara mendapatkan secercah harapan baru.
"Mungkin. Sebaiknya kita segera mengantar mu pulang." Jarvis segera membuka pintu dan masuk.
__ADS_1
"Oke. Aku akan patuh karena ternyata ini tidak gratis." Dengan riang, Ara masuk ke dalam mobil. Jarvis terkejut saat gadis itu masuk lewat pintu depan. "Aku bukan bos mu. Mungkin duduk di belakang akan membuatmu seperti sopirku. Jadi biarkan aku di depan. Kita teman."
"Bukan. Aku tidak mengenalmu. Kita hanya menjadi rekan karena terpaksa." Jarvis tidak setuju jika mereka berdua di sebut teman.
"Terserahlah," ujar Ara pasrah.
***
Ara merebahkan tubuhnya di atas sofa butut di tempat ia menyewa rumah. Hari ini melelahkan baginya. Makan siang mewah itu selain menguras uang_ meski itu bukan dari kantongnya. Juga menguras pikiran dan tenaga. Karena ia harus pandai membawa sikap di depan tuan Haga, kakek Tristan. Dimana beliau adalah pemilik perusahaan ini. Jadi lebih menegangkan di bandingkan menghadapi Tristan.
Tanpa ia sadari, ada orang yang mengikutinya. Namun mereka tidak bisa menemukan gadis ini lagi karena hilang di kerumunan pasar yang mulai padat.
"Saya rasa Ara tidak aman Tuan," kata Jarvis memberitahu saat Tristan menanyakan soal Ara.
"Apa itu berhubungan dengan ku? Meski ia partnerku untuk menghentikan kakek tidak lagi menjodohkan ku, bukan berarti aku harus mengurusi dia sepenuhnya," kata Tristan dingin di seberang.
"Sepertinya itu orang-orang tuan Haga. Aku pernah melihat salah satu dari mereka bersama Antoni."
"Kakek?"
"Benar Tuan. Beliau sepertinya menyuruh orang untuk mengikuti Ara." Terdengar decihan kesal di sana. Jarvis paham itu.
"Apa mereka tahu kalau Ara tinggal di area pasar itu?"
"Saya rasa tidak. Mereka terhalang banyaknya orang-orang di pasar. Jadi keberadaan Ara masih abu-abu, Tuan. Mereka belum tahu pasti Ara tinggal di sana atau sekedar mengunjungi pasar." Jarvis memberi penjelasan.
"Berarti masih aman. Aku akan mencari solusi."
**
.......
.......
...B E R S A M B U N G...
__ADS_1