KENCAN BUTA

KENCAN BUTA
Bab. 81


__ADS_3

"Sudah terbiasa memanen kentang?" tanya Ara setengah mencibir. Tristan tergelak pelan seraya menggelengkan kepala.


"Maaf. Aku tidak ingin kamu marah karena tidak bisa menyelesaikan memanen kentang. Aku hanya berusaha membujuk bapak untuk pulang." Tristan tahu dia berbohong.


"Jadi ... Bapak mau bantuin Ara?"


"Ya. Ajari aku. Aku harus kelihatan bisa karena sudah mengaku pandai tadi." Tristan harus mempertanggungjawabkan perkataannya tadi.


"Bapak buka dulu jasnya itu. Saya jadi tambah kepanasan liat bapak pakai itu," kata Ara. Sejak tadi ia risih dengan setelan jas yang membuat tubuh sesak itu. Tristan menunduk ke arah dirinya sendiri.


"Ya. Aku juga sebenarnya kepanasan sejak tadi, tapi aku ingin tetap terlihat bagus di depanmu," ungkap Tristan jujur. Ara tersenyum. Tersipu mendengarnya.


Pria ini lucu dan manis.


"Saya bantu." Ara mendekat. Lalu meminta caping di tangan Tristan. Agar pria ini leluasa membuka jasnya. "Sini," ujar Ara meminta jas yang sudah di lepas Tristan. "Sepatunya juga Pak. Bapak pakai sandal ku. Biar saya taruh di gubuk nanti."


"Tidak. Aku pakai sepatu saja. Kaki kamu nanti kepanasan jika sandal itu di berikan padaku."


"Jangan Pak. Lepaskan saja. Atau pakai kaos kaki saja. Jadi Bapak bisa lepas sepatu."


"Baiklah." Tristan patuh saja. Karena udara dan sinar yang menyengat, bajunya sekarang tidak mendukung.


"Bapak pakai ini biar enggak kepanasan." Setelah jas berganti ke tangan Ara, dia menyodorkan caping di tangannya.


Tristan mulai memakai caping di kepalanya.


"Begini?" tanya Tristan ingin menjadikan Ara sebagai cerminnya. Tentu saja ini pertama kalinya pria ini memakai caping di kepalanya.


"Sebentar. Miring." Dengan berjinjit karena tubuh Tristan lebih tinggi, ia membetulkan letak caping. "Sudah. Sip." Ara memberikan jempol tanda sudah pas.

__ADS_1


"Benar? Apa kelihatan bagus?" tanya Tristan ragu.


"Tentu saja. Lagipula, Bapak akan tetap terlihat bagus dengan memakai apapun. Wajah tampan dan aura elegan sejak lahir tidak akan pudar meski Bapak memakai pakaian compang camping sekalipun," puji Ara. "Berbeda denganku," lanjut Ara.


"Kenapa?"


"Tentu saja saya akan terlihat mirip gembel jika pakai baju compang camping, Pak." Ara tergelak sendiri.


"Tidak. Di mataku kamu pakai apapun tetap manis," ujar Tristan membuat senyum Ara hilang karena terkejut. Berganti semburat merah menghiasi wajah dan telinganya.


"Jangan menggombal Pak." Ara malu. Ia berbalik ingin menyembunyikan semburat merah itu.


"Mau kemana?" tanya Tristan karena Ara justru hendak ke arah pulang. "Bukannya mau ke gubuk untuk meletakkan jas dan sepatu?" Tristan mengingatkan.


Ara langsung berbalik arah sambil menggeram. Ia jadi hilang kendali karena mleyot oleh pujian Tristan. Gadis ini berbalik menuju ke gubuk. Meletakkan jas dan sepatu di sana.


Tristan tersenyum karena tahu Ara tersipu.


"Pak. Saya keringetan. Bau. Ini cuaca lagi panas." Ara tidak nyaman.


"Aku tahu. Tidak apa-apa," sahut Tristan. Ara tambah malu. "Karena sepertinya aku juga berkeringat banyak karena terus saja berdiri di bawah sinar matahari." Tristan mengaku. Ara tersenyum geli di pelukan pria ini.


"Enggak. Bapak tetap wangi," kata Ara balik memeluk tubuh Tristan.


"Oh, ya? Padahal aku sudah berkeringat banyak. Mungkin kamu suka aroma tubuhku. Jadi meskipun bau kamu tetap suka." Ara terkejut dengan kalimat Tristan.


"Apaan sih, Pak." Ara memukul Tristan pelan.


"Aku butuh tambahan energi karena sudah berjuang seminggu lebih untuk menahan diri tidak bertemu denganmu." Ara memeluk Tristan lebih erat. "Apalagi sebentar lagi harus ikut memanen kentang." Ara tergelak.

__ADS_1


"Ya sudah. Ambil energi saya banyak-banyak Pak. Saya punya banyak stok energi."


"Pelukan saja tidak cukup. Aku ingin yang lain," ucap Tristan tidak tahu malu.


.......


.......


.......


......................


Baca cerita yang lain yah?









__ADS_1




__ADS_2