
Terdengar suara kamera cctv di matikan. Dengan wajah puas, Tristan melanjutkan kesenangannya tadi. Dia kembali menatap Ara. Mendekatkan wajahnya dan ...
Ting!
Pintu lift terbuka. Jarvis terkejut Ara ada di dalam lift. Apalagi dengan tangan Tristan yang tetap menempel pada dagu gadis itu. Ia segera mengangguk memberi salam pada Tristan. Seketika ingatan soal mereka ciuman muncul kembali.
Tatapan tajam Tristan membuat Jarvis mundur. Mereka tidak jadi berciuman. Ara melepaskan tangan Tristan dari dagunya dan menyapa Jarvis.
"Halo, Jarvis," sapa Ara. Jarvis mengangguk. Kemudian Ara keluar dari lift di ikuti Tristan yang menggeram.
"Tetap di ruanganmu. Aku ada di ruangan bersama Ara." Tristan memberi peringatan pada Jarvis tidak boleh masuk ruangan.
"Ya, Tuan." Jarvis mengerti. Sekarang karyawan magang itu adalah segalanya.
**
Tristan melepas jasnya lalu mendekat pada Ara yang sudah lebih dulu duduk di sofa. Gadis ini kebingungan mencari aktifitas demi menetralkan kegugupannya.
"HH ..." Tristan duduk dan bersandar pada sofa. Ara yang berniat menjauh, urung. Tristan tampak lelah. Pria ini seperti menanggung banyak beban. Ara berinisiatif mendekat.
"Bapak sakit lagi?" tanya Ara khawatir. Ia mendekat dan menatap Tristan dengan harapan pria ini tidak sakit.
"Tidak. Hanya sedikit lelah." Tristan menoleh ke samping dan tersenyum. Dia masih bersandar pada sofa. "Aku tidak bisa tidur dengan nyenyak tadi malam."
__ADS_1
"Ada pekerjaan penting yang harus di selesaikan?" Ara prihatin.
"Tidak. Aku hanya tidak bisa tidur karena tahu kamu ada di kamar sebelah. Aku jadi tidak bisa tenang dan ingin menemuimu tadi malam. Padahal kamu pasti sudah terlelap." Ara kembali memerah karena ucapan Tristan.
Pria ini bisa membuatku pingsan karena terlalu bahagia.
Setelah meredakan sensasi meledak-ledak di hatinya, Ara bisa bicara dengan normal.
"Jangan sakit, Pak." Tangan Ara terulur untuk memeriksa kening Tristan. Namun pria ini justru menangkapnya. Ara terkejut.
"Kamu tidak ingin aku sakit?" tanya Tristan. Ara mengangguk. "Beri aku tenaga tambahan." Bola mata Tristan menatapnya lembut. Ara berdebar.
"Tenaga?"
Tristan akan mencium ku! Dia belum menyerah untuk itu.
Benar saja, Tristan mendekatkan bibirnya lagi. Sekarang tidak ada alasan Ara menolak. Ia membiarkan bibir pria ini menyentuh bibirnya pelan.
"Aku jadi mengantuk setelah menciummu," ujar Tristan sambil meletakkan kepalanya pada bahu Ara. Bola Ara mengerjap. Mimpi. Seperti mimpi di cium pria yang jadi orang penting di perusahaan ini.
Tok! Tok!
Pintu ruangan Tristan di ketuk. Ara melongok ke belakang sofa. Tristan masih bersandar pada bahunya dengan mata tertutup. Sepertinya Tristan benar-benar terlelap. Ara kebingungan mau membuka pintu atau membiarkannya. Ia tidak bisa mengambil keputusan.
__ADS_1
Akhirnya pintu itu terbuka sendiri. Ternyata Jarvis. Bukankah pria itu sudah di beri peringatan oleh Tristan tidak boleh masuk ruangan.
"Tuan Tristan ... " Namun seseorang menerobos masuk memotong kalimat Jarvis. Itu tuan Haga.
"Oh, Kakek." Ara terkejut.
"Kamu di sini?" tanya beliau terkejut.
"Ya." Bola mata kakek melirik ke arah Tristan yang bersandar pada bahunya.
"Dia tertidur?"
"Ya. Baru saja. Aku bisa bangunkan Tristan, Kek."
"Tidak perlu. Jika bertemu denganmu di sini, lebih baik aku bicara denganmu saja," kata Kakek. Ara hendak mengguncangkan tubuh Tristan berhenti.
"Denganku?" tanya Ara bingung.
.......
.......
.......
__ADS_1
......................