KENCAN BUTA

KENCAN BUTA
Rencana terwujud


__ADS_3

Ara bangun pagi dengan mata lengket karena lelah tadi malam. Tiba-tiba saja ia harus meninggalkan rumah sewa yang sudah lama ia tempati demi menjalani kontrak dengan Tristan. Matanya beredar ke sekeliling kamar. Terasa sangat berbeda dengan kamar miliknya dulu. Dinding, perabot, langit-langit. Semua begitu mencolok mata karena perbedaannya.


"Tidak perlu banyak barang yang perlu kamu bawa dari rumah itu. Di sini semua sudah cukup untukmu hidup selama kontrak. Tidak perlu menambah kekacauan dengan menambah barang yang tidak perlu dari rumahmu," tukas Tristan saat Ara selesai menadatangani surat perjanjian.


"Walaupun begitu, aku tetap harus membawa beberapa barang dari sana. Tidak mungkin aku tidak membawa satupun baju milikku karena aku harus ganti baju," sengit Ara.


"Tidak. Aku akan menyediakan semua baju untukmu."


"Semua? Kamu akan menyediakan semua bajuku?" tanya Ara tidak percaya. Dia sampai lupa dengan sebutan Pak untuk Tristan. "Bahkan ****** *****?" tanya Ara di dalam hati iseng.


Ternyata pikirannya tidak benar-benar terwujud. Saat ia melihat ke dalam lemari berwarna cokelat yang ada di samping ranjang, ia menemukan semua macam pakaian kecuali pakaian dalam. Tentu itu mustahil. Siapa dia, harus membuat CEO muda seperti Tristan menyediakan pakaian dalam seorang wanita miskin yang tidak sengaja terjebak dalam situasi penuh sandiwara ini.


Ara bangkit dari tidurnya lalu segera ke kamar mandi. Roda kehidupannya berubah secara 360 derajat. Dari yang tinggal di ruang sewa reot dan usang, ia akhirnya tiba di sini. Apartemen indah milik ceo perusahaan tempatnya magang.


"Sial," umpat Ara pelan. Ia menyadari bahwa dirinya mirip jadi wanita simpanan atasannya itu. "Aku tidak seperti itu. Langit tahu bagaimana sebenarnya kisahku," ujar Ara menghibur diri. Ia menyiramkan air shower ke kepalanya. "Aaghh!!" Sungguh mengejutkan bahwa yang keluar dari shower adalah air hangat.


Tristan memejamkan mata seraya mendesis kesal mendengar suara teriakan barusan.


"Apa yang ia lakukan di dalam sana? Pagiku yang hening terganggu oleh suaranya." Tristan melirik ke pintu warna cokelat kayu di ujung ruangan. Itu kamar yang dipilihkan untuk gadis itu. Ruangan yang sedikit jauh dari kamar miliknya. Karena sebenarnya ia tidak ingin kenyamanannya terganggu.


**


Ara keluar dari kamar saat melihat pria ini membaca koran dengan sebuah cangkir teh di atas meja. Meskipun merasa asing, Ara berjuang keras untuk tidak terpengaruh.


"Selamat pagi, Pak," sapa Ara sambil mengangguk sebentar.

__ADS_1


"Biasakan dirimu memanggil namaku dengan santai Ara. Aku beri kamu kehormatan untuk melakukannya," kata Tristan.


Cih sikapnya, cibir Ara di dalam hati.


"Ya. Saya akan berusaha." Demi kontrak Ara patuh. Tristan mengganti arah pandangan matanya dari Ara ke koran yang berada di tangannya.


"Aku sudah mentransfer sejumlah uang ke dalam rekeningmu sesuai kontrak. Lihat dengan segera."


Uang? Aku akan mendapat uang lagi? Asyik ... Ara merayakan kebahagiaan itu dengan diam. Aku bisa mengirim uang untuk ibu lagi. Hore!!!


"Baik. Terimakasih," ucap Ara tulus.


"Hmm ...," sahut Tristan. Ara melihat jam kerja masih panjang. Tak sengaja ia melirik ke ara cangkir teh di atas meja.


"Anda sudah sarapan?" tanya Ara membuat Tristan mendongak.


"Padahal aku hanya tanya dia sarapan apa belum? Maksudnya aku bisa membuatkannya sarapan pagi kalau mau. Karena aku juga akan membuat sarapan untukku." Sedikit menggerutu, Ara berbelok ke arah pantry yang sudah di jelaskan Tristan kemarin. "Okelah. Aku akan membuat makan pagi untukku sendiri."


***


Tinggal satu atap dengan orang baru sempat membuat Tristan kelabakan. Ia yang menyukai sendiri sedikit terganggu dengan adanya Ara. Namun, ia harus bertahan. Ada hal yang membuatnya bisa nekat melakukannya. Entah apa.


"Anda terlihat lelah, Tuan." Jarvis melihat Tristan memijit dahinya pelan.


"Ya. Satu atap dengan seseorang yang baru aku kenal membuat pikiran tidak tenang."

__ADS_1


"Ara bikin ulah, Tuan?" tanya Jarvis cemas.


"Tidak. Aku hanya tidak terbiasa." Tristan mengerjapkan mata berulang-ulang karena lelah.


Jarvis sebenarnya kurang mengerti kenapa pria ini memaksakan diri untuk memboyong Ara ke apartemennya. Bahkan itu sebelum pernah ada seorangpun tinggal di sana kecuali Tristan sendiri. Kenapa perlu bersandiwara? Apakah hanya sekedar membuat kakeknya tidak menjodohkan dirinya lagi perlu melakukan hal sejauh ini?


Pintu terbuka dengan tiba-tiba. Kakek muncul dengan tatapan memburu.


"Kakek?" Tristan terkejut. Jarvis menoleh ke arah Tuan Haga. Membungkuk sebentar untuk memberi hormat.


"Sepertinya kau sudah membawa gadis itu ke apartemen mu. Jadi aku bisa menemuinya sekarang?" tanya tuan Haga membuat Tristan tercengang. Beliau tahu itu. Pasti orang-orang miliknya berkeliaran mencari informasi.


"Dia sibuk."


"Sesibuk apapun tidak mungkin dia berani mengabaikan pertemuan dengan kakek bukan? Bukannya kalian kekasih? Jadi aku adalah keluargamu yang wajib ia temui." Tuan Haga bersikeras.


"Dia masih bekerja, Kakek."


"Bekerja? Dia pemilik perusahaan apa?" tanya Kakek antusias. Tristan menghela napas. Jarvis melirik.


"Tidak. Dia sedang magang."


"Magang?" Kening kakek mengerut lagi. "Sudah. Temukan aku dengan dia. Aku ingin bicara dengannya. Kita bertemu di tempat kemarin saat makan siang," kata kakek sambil berlalu keluar ruangan bersama Antoni.


"Saya harus segera memberitahu Ara dan membawanya ke salon Tuan?" tanya Jarvis peka.

__ADS_1


"Ya. Segera lakukan." Jarvis mengangguk.


**


__ADS_2