
Baru saja tuan Haga keluar rumah, masih di teras, muncul bapak Ara. Beliau terheran-heran dengan kemunculan dua orang asing dari dalam rumah.
"Ada apa ini?" tanya bapak menurunkan kayu-kayu yang berada di pundaknya. "Ini siapa?" tanya bapak sambil melihat tuan Haga dan Antoni dengan tatapannya.
Bapak? Ara yang berdiri di belakang mendelik. Ia segera menyerobot dan memaksa keluar.
"Bapak baru pulang?" tanya Ara. "Kenapa Bapak lewat sini? Kan seharusnya lewat belakang. Ayo, Ara bantu." Ara ingin mengalihkan perhatian bapak. Namun bapak sudah terlanjur penasaran dengan orang-orang berpakaian resmi ini.
"Bapak ingin tahu siapa mereka," kata bapak menolak bantuan Ara.
"Kami dari ..." Antoni ingin menjawab pertanyaan bapak Ara.
"Mereka dari kota. Dari perusahaan Tristan. Keluarganya," ujar ibu menyerobot untuk memberitahu. Wajah Bapak langsung berubah. Yang tadinya muram, kini cerah.
"Berarti .. Keluarganya atasannya Ara?" tanya bapak antusias.
"I-iya," sahut Antoni.
"Wah. Ayo masuk, masuk." Bapak justru mempersilakan tuan Haga dan Antoni masuk lagi.
"Tidak. Aku mau pulang." Tuan Haga menolak.
__ADS_1
"Tidak. Anda harus masuk lagi karena saya belum menyambut Anda." Bapak membimbing tuan Haga dan Antoni untuk masuk lagi. "Atasan Ara pasti orang yang bijak. Karena Tristan sendiri adalah orang yang sangat baik. Saya tidak meragukan itu," kata Bapak senang.
Semua saling pandang. Bapak salah paham.
"Ayo, Buk. Kita harus menyambut atasan Ara ini. Ara, kamu juga segera bantu ibu buat menyiapkan makan untuk atasan mu ini." Bapak memberi komando. Ara mengerjap. Lalu menoleh ke arah ibu dan Tristan.
"Atasan Ara sudah mau pulang." Ibu memberi tahu.
"Benar. Saya ini mau pulang. Saya tidak mau di suruh masuk lagi. Saya sudah lelah," gerutu tuan Haga.
"Tidak. Anda tidak boleh pulang. Harus tetap di sini sebelum saya selesai menyambut Anda." Bapak pantang menyerah. Ini membuat tuan Haga kewalahan. Karena Antoni diam saja tidak membantunya bicara. Bahkan Tristan hanya tergelak pelan. Ia membiarkan bapak Ara menahan kepulangan beliau.
Ibu dan Ara di tugaskan di dapur untuk menyiapkan makan. Dengan terpaksa mereka berdua mengangguk.
**
Bapak termasuk orang gigih rupanya. Beliau bisa menahan tuan Haga meski orang tua itu menggerutu berulang-ulang.
"Bapak gimana sih, Buk?" Ara menggerutu.
"Kenapa? Bapakmu itu kan sedang bersikap baik pada tamu. Memangnya ada yang salah?" tanya ibu yang menggoreng lele yang sebenarnya lauk buat nanti malam dan besok.
__ADS_1
"Ibu setuju kakek Tristan itu enggak pulang?"
"Ibu terserah. Namanya tamu, tapi yang ibu ingin tahu itu kenapa kamu bisa terlibat sama orang kaya?" Ibu mulai mode interogasi. "Nyari pria itu memang harus mapan karena buat sandaran kamu sebagai istri dalam rumah tangga, tapi ini terlewat mapan. Bos kamu itu kan berarti yang punya perusahaan tempat kamu magang itu." Ibu mengatakannya dengan geregetan. "Bukan tidak bersyukur, tapi kalau terlalu kaya seperti Tristan itu kan ya repot. Kita ini keluarga biasa. Kenapa kamu malah nyari yang perbedaannya sangat jauh dari kita?"
Ara menger
"Maafkan saya soal kakek, ibu. Dan juga ... bukan Ara yang menyukai saya, saya dulu yang tertarik dengan Ara." Tristan yang ke belakang untuk melihat keadaan ibu dan Ara, mendengar ucapan ibu barusan.
"Jangan membela Ara terus. Mana mungkin kamu yang tinggal melirik saja untuk dapat pendamping, bisa tertarik dengan putri ibu. Meskipun Ara itu anak ibu sendiri, tapi ibu tahu diri. Kalian itu berbeda," kata ibu sambil melihat Ara sebentar. Bibir Ara menipis mendengar ibu bicara.
Tristan tersenyum hangat.
"Tidak, tidak. Ibu salah. Ara itu istimewa," ujar Tristan.
.......
.......
.......
......................
__ADS_1