
Ara meletakkan kepala Tristan perlahan pada sandaran sofa. Lalu ia keluar mengikuti tuan Haga tanpa berpamitan. Rupanya Ara di ajak ke sebuah restoran Jepang.
"Aku menyukai makanan seperti ini bagaimana dengan mu?" tanya kakek.
"Ya ... saya juga suka."
"Makanlah." Ara mengangguk dan memakan makanan jepang yang kebanyakan berbahan mentah. Karena dia tidak terbiasa, ada rasa mual menyerang perutnya. Ara hampir saja muntah. "Minumlah. Tidak usah dimakan jika memang tidak suka." Ara mengikuti nasehat beliau.
Ara terlihat lebih baik setelah minum.
"Karena tidak terbiasa, semuanya akan tidak enak. Jadi muntahkan saja." Ara mengerjap. Beliau tersenyum. "Tristan itu sangat benci ulang tahun. Karena itu adalah saat kematian orangtuanya." Ara mengangguk mengerti karena Tristan sudah pernah mengatakannya. "Tristan sepertinya sempat bercerita padamu."
"Ya, Kek."
"Namun ternyata saat hari ulang tahun kemarin, Tristan tidak jadi marah hanya karena kamu ikut terlibat. Kakek jadi tahu, kalau dia menganggap kamu spesial. Tapi ... semuanya ini apa?" Antoni mendekat dengan sebuah laporan portofolio.
__ADS_1
Ara terkejut melihat foto dirinya saat di rumah sewa. Juga foto perjanjian kontrak. Mungkin tulisan-tulisan di sana juga menjabarkan soal Ara yang jadi karyawan magang. Dia tidak ingin menyentuh itu.
"Kamu itu siapa?" tanya tuan Haga dengan wajah ingin tahunya. Ara menegakkan tubuhnya. Dadanya bergemuruh. Suasana akrab tadi berubah menjadi menegangkan. Membuat napas Ara sempat tercekat. Kesulitan bernapas seakan oksigen mulai menipis.
"Kakek ini ingin menikahkan cucunya, agar bisa tenang. Kakek ini kan sudah tua. Kalau ternyata kekasihnya itu tidak jelas, bagaimana kakek ini bisa tenang?"
Disini Ara sadar kesalahan terbesarnya, yaitu mengecewakan orang tua yang ingin mendapatkan ketenangan karena usianya yang sudah uzur, untuk mendapatkan menantu demi cucunya.
"Saya sempat marah dengan kalian berdua. Apa yang sebenarnya kalian lakukan? Permainan? Suatu gurauan? Kakek ini sudah tua. Tidak lagi bisa di ajak bercanda soal serius seperti ini."
Suara tuan Haga yang di buat tidak meninggi, justru membuat Ara makin bersalah. Kepala Ara menunduk mendengar beliau bicara.
Ara menelan ludah dan membasahi bibirnya yang kering. Tubuhnya berkeringat dingin karena tidak nyaman dengan semua ini. Apakah dia harus cerita kalau awalnya pacaran kontrak lalu berujung pacaran sungguhan kepada orang tua yang sudah berusaha menahan amarahnya ini?
"Mungkin terdengar sepele soal menikah yang penting cinta, tapi kakek juga tidak bisa memungkiri kalau kakek tidak tenang soal itu. Kenapa kakek juga perlu menyiapkan pasangan untuk Tristan bukan melalui proses seperti orang pada umumnya? Perusahaan ini bukan berdiri dengan begitu saja. Semuanya butuh perjuangan. Proses. Juga dukungan dari banyak pihak. Ini juga soal kelangsungan perusahaan yang menampung banyak orang bekerja, Ara. Kakek cemas saat kakek sudah tidak ada, Tristan akan kewalahan dan goyah. Makanya dia juga butuh dukungan besar untuk perusahaan. Kakek minta kamu paham."
__ADS_1
Dari sekian banyak kalimat, Ara hanya mengerti satu hal. Dia tidak termasuk kandidat wanita yang di jodohkan untuk Tristan. Pria itu butuh perempuan selain tangguh, juga punya hal yang bisa menyokong perusahaan.
"Ya, Kakek. Ara mengerti." Seonggok hati terasa sakit dan perih.
"Beberapa hari lagi, ada pertemuan penting saham perusahaan. Kakek harap Tristan bisa segera menyikapi hal ini dengan tepat. Antoni akan pesankan makanan lain yang bisa di makan. Makanan mentah seperti ini memang terasa aneh jika tidak biasa memakannya."
"Tidak usah kakek. Saya akan pulang saja," cegah Ara. Makan di saat seperti ini tidak baik untuk lambung. Selain karena makanannya, Ara tidak tahan situasinya.
"Jangan. Kamu harus makan. Kakek tidak akan membiarkan kamu pulang dengan perut lapar. Kamu makan apa? Antoni, pesan menu selain masakan Jepang," pinta kakek pada Antoni yang berdiri di dekat pintu.
"Ya, Tuan."
.......
.......
__ADS_1
.......
......................