
Waktu sudah berganti pagi. Ara bekerja keras membuat makanan sehat ala sosial media. Dia akan menghidangkan itu untuk atasannya yang sakit.
Meskipun penasaran, Ara tidak pernah mempertanyakan kemana Tristan selama ini. Dia tidak punya hak. Dirinya hanyalah seorang bawahan. Ara membuatkan bubur ayam dan menyiapkan buah untuk sarapan Tristan.
Meskipun dia terlihat sibuk di dapur, tapi Ara tetap memeriksa pintu kamar Tristan. Kamar itu tetap tertutup. Ara jadi khawatir.
Dia tinggalkan kegiatan di dapur setelah mematikan kompor. Lalu bergegas mendekat ke pintu. Dia tempelkan daun telinganya pada pintu. Berusaha mendengarkan gerakan di dalam. Bibirnya bergerak-gerak sambil mencoba mendengarkan dengan seksama.
"Dia bangun apa belum, ya?" Sesekali matanya memicing. Namun tidak ada suara apapun yang terdengar dari dalam. Ara menegakkan tubuh dan bersila tangan. "Enggak mungkin kan aku masuk ke kamarnya tanpa permisi. Itu sangat tidak sopan. Berbeda dengan kemarin, dimana aku memang sedang mengantarnya ke dalam."
Ara kembali ingin menempelkan daun telinganya pada pintu. Namun tanpa disadarinya, pintu kamar itu terbuka dari dalam. Sehingga membuat daun telinga Ara menempel pada dada Tristan.
Ara terkejut menyadari telinganya tidak lagi menempel pada pintu melainkan dada seorang pria. Tubuh Ara tegak seketika. Ia langsung salah tingkah.
"Maafkan saya, Pak. Maaf." Tubuhnya membungkuk.
"Apa yang kamu lakukan?" tegur Tristan.
__ADS_1
"S-saya ..." Ara mendadak gagap. Apalagi menyadari bahwa tubuh atas Tristan tanpa busana. Matanya melebar. Napasnya tercekat sejenak. Ia jadi kebingungan mencari arah pandangan. Wajahnya memerah.
Sial. Aku tidak bisa mengontrol diri untuk tenang.
Tristan awalnya tidak sadar bahwa tubuhnya telanjang, menunduk. Lalu menghela napas setelah tahu Ara kebingungan karena melihat tubuhnya.
"Ternyata kamu kebingungan karena ini ..." kata Tristan seperti tidak ada apa-apa. Lalu dia masuk ke dalam kamar lagi tanpa permisi. Ara segera melesat ke dapur. Dia tidak ingin pikirannya terganggu karena pemandangan barusan. Ia menyelesaikan membuat bubur di dapur.
Oh, tidak. Kenapa dia muncul dengan telanjang dada sih. Dada itu ... menggugah selera. Oh, tidak. Apa yang aku pikirkan. Ara jadi tidak fokus. Ia segera menuju kulkas dan mengisi gelas dengan air dingin. Meneguknya perlahan demi menetralkan syok yang menyerangnya. Lalu menghela napas.
"Saya pikir Bapak masih demam. Jadi saya membuat bubur ayam sehat khusus untuk orang demam," jelas Ara masih tetap menunduk.
"Jangan menunduk terus, Ara. Aku sudah memakai kaos." Tristan tahu Ara terus menunduk karena takut melihat dadanya yang telanjang tadi. Ara menghela napas mendengar penjelasan itu. Ia merasa tidak perlu lagi merasa tegang. Ia pun mendongak karena merasa tidak sopan jika di ajak bicara orang lain kepalanya menunduk.
Namun mengejutkan saat Ara mendongak, pria itu tersenyum padanya. Bola mata Ara mengerjap.
Ada apa dengan senyuman itu?
__ADS_1
"Aku tidak tahu kalau kamu juga tidak tahan melihat tubuh pria telanjang," ujar Tristan dengan senyum miringnya. Ara menelan ludah. Dia yakin wajahnya memerah lagi. "Aku yakin kamu berbohong sering bertemu banyak pria. Melihat tubuhku setengah telanjang saja kamu sudah tidak bisa bicara."
Ara yakin saat ini Tristan sedang mencibirnya. Namun dengan raut wajah jenaka. Dimana bukan membuatnya marah, tapi justru malu.
"S-saya itu ..."
"Aku lebih suka kamu yang seperti ini. Dengan berani mengantarku ke kamar tidur, tapi memerah hanya karena aku bertelanjang dada."
Mengantar dia ke kamar dan melihatnya dadanya tanpa kaos kan beda cerita. Saat itu yang aku pikirkan adalah dia sakit dan harus di tolong, tapi melihat dada atletisnya polos dengan kesadaran penuh, itu ...
.......
.......
.......
......................
__ADS_1