
Tristan segera melesat ke rumah sewa gadis itu. Namun dia tidak menemukan siapa-siapa di sana. Rumah itu hanya diterangi lampu kuning 5 watt saja di teras.
"Kemana kamu Ara? Pulang? Kamu pasti pulang ke rumah orangtuamu." Tristan menelepon Jarvis. Dia ingin meminta pria itu melaksanakan tugas besok pagi. Namun sebelum Tristan berhasil menelepon, Jarvis sudah menelepon duluan.
"Ada kebakaran di lantai 5 Tuan," ujar Jarvis memberitahu.
"Kenapa tidak ada yang meneleponku sejak tadi?!"
"Kami sudah mencoba menghubungi Tuan sejak tadi, tapi tidak ada respon." Tristan menggeram. Ia tahu ponselnya berdering. hanya saja, saat tahu itu bukan Ara, ia mengabaikannya. Itu bukan salah mereka.
"Aku akan ke sana sekarang." Tristan mengepalkan tangannya geram. Ia marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa mencari Ara saat ini. "Aku harus ke perusahaan. Maaf Ara, aku mengabaikanmu sebentar."
**
Ternyata kelelahan dan banyak pikiran membuat Tristan terlelap. Setelah membereskan masalah kebakaran di kantor polisi hingga malam, dia pulang. Tristan lupa soal Ara hingga pagi menjelang.
Setelah bangkit dari tempat tidur, Tristan keluar kamar.
"Ara, kamu sudah masak sarapan pagi ini?" tanya Tristan sambil mencoba membuka mata dengan sempurna. Namun tidak ada yang menyahut. Sepi. Hening. "Ara ..." Tristan lupa kalau Ara tidak ada sejak semalam. "Sial!" geram Tristan. Ia mulai sadar kalau gadis itu tidak ada.
__ADS_1
Suara bel pintu di tekan.
Tristan bergerak cepat menuju pintu. Berharap itu Ara, tapi saat membuka pintu ... harapannya pupus. Itu Jarvis.
"Kenapa kamu kesini pagi-pagi sekali Jarvis?" geram Tristan. Jarvis yang sudah siap karena mendapat berita soal Ara dari Antony berusaha tenang.
"Saya membawakan makanan pagi untuk Tuan."
"Kenapa membawanya? Aku tidak memintamu melakukan itu." Tristan berkata dengan ketus.
"Saya juga mendapat sesuatu dari Antoni tadi malam. Dia pesan untuk segera memberikan pada Anda." Jarvis menyerahkan sebuah amplop.
"Apa ini?" tanya Tristan tanpa menyuruh pria ini masuk.
Maaf saya menghilang, Pak. Saya paham sebenarnya kita tidak harus membohongi kakek. Jadi Bapak turuti saja keinginan Kakek yang ingin menjodohkan dengan putri pengusaha yang lain. Itu akan membantu Bapak kelak saat kakek sudah tidak ada.
"Bicara apa Ara? Tidak masuk akal," desis Tristan kesal. Namun ia melanjutkan baca.
Lalu soal upahnya ... Maaf, saya tidak bisa mengembalikan. Kakek bilang saya tidak perlu mengembalikan. Terima kasih.
__ADS_1
"Dasar Ara ... Dia menghilang dengan uangku."
Bapak harus sarapan pagi agar tidak sakit. Saya meminta Jarvis untuk merawat Anda. Semoga dia mengerti kalau harus ke apartemen Bapak pagi-pagi. Jadi jangan mencari saya, Pak.
"Jadi mereka mengikuti saran dari Ara ..." gumam Tristan.
Tolong buatkan saya nilai magang yang bagus dan sempurna. Itu kalau Bapak bersedia. Lalu jika tiba saatnya saya butuh, Jenny akan mengambil.
Ada senyum pedih yang di rasakannya. "Dia juga meminta aku membuatkan nilai sempurna untuknya? Dia benar-benar tidak tahu diri. Bukankah menghilang membuat nilainya turun ..."
Untuk ciumannya, terima kasih. Saya sangat berdebar saat itu. Mungkin saya akan terus mengenang lembutnya bibir Bapak. Selalu sehat ya ...
"Ciuman? Di saat menghilang begini dia justru bicara soal ciuman? Bukannya itu malah membuatku ingin mencarinya dan menciumnya. Kamu bodoh sekali Ara." Tristan menghela napas setelah bersandar pada sofa dan menutup mata kemudian.
Aku tidak bisa membayangkan wajah apa yang kamu tunjukkan saat menulis surat menyebalkan ini. Sedih, senang, atau bagaimana? Apa kamu menulisnya dengan menangis? Ada bercak air yang sempat menetes di kertas ini. Kamu sengaja ya?
.......
.......
__ADS_1
.......
......................