KENCAN BUTA

KENCAN BUTA
Tristan memaksa


__ADS_3

**Jarvis terkejut Tristan mengajak Ara ikut ke dalam mobil mereka. Karena tidak ada pembahasan soal ini tadi.


"Urusan perawatan motor butut miliknya aku serahkan padamu. Sepertinya aku akan mengadakan briefing secepatnya dengannya," ujar Tristan. "Kunci. Aku akan menyetir sendiri." Tristan meminta kunci dengan mendadak. Ini sempat membuat Jarvis loading sejenak. "Jarvis?" tegur Tristan membuyarkan lamunan sekretarisnya.


"Ah, iya Tuan. Kunci mobil?" Jarvis merogoh sakunya dan menyerahkan kunci mobil pada atasannya. Kepala Tristan melihat ke arah gadis itu yang masih berdiri di luar mobil.


"Apa yang kamu lakukan? Masuklah," tegas Tristan mengatakan perintahnya.


"Baik Pak." Dengan sigap dan penuh rasa was-was yang menyergap, Ara membuka pintu belakang mobil. Lalu duduk dengan tenang. Tristan masuk setelah itu. Lalu langsung menyalakan mobil entah akan kemana. Sepanjang perjalanan Ara hanya melihat ke luar jendela. Tidak ada pembicaraan sama sekali. Walaupun begitu, itu lebih baik bagi Ara daripada pria ini mengajukan banyak pertanyaan.


"Dimana rumahmu?" tanya Tristan mengejutkan.


"Kenapa Anda menanyakan itu?" tanya Ara waspada.


"Jawab saja. Di sini kamu tidak berhak bertanya. Kewajiban kamu adalah menjawab pertanyaanku," ujar Tristan memberi peraturannya.


Dia memang berkuasa. Karena kesalahanku soal kencan itu, aku tidak berhak membuatnya marah.

__ADS_1


"Ya. Di daerah belakang pasar tradisional yang besar di kota ini, Pak. Belok kanan itu," kata Ara terpaksa menjabarkan.


"Daerah kumuh." Mendengar tanggapan Tristan, menipiskan bibirnya kesal. Itu sebuah hinaan baginya. Namun Ara tidak mau ambil pusing dengan hinaan itu. Toh di sana ia bisa hidup dengan baik. Setelah menghina, pria itu tidak membelokkan mobilnya ke arah rumahnya. Pria ini justru memacu mobilnya ke arah lain.


"Pasar tradisional di sana, Pak," kata Ara memberitahu dengan takut-takut.


"Aku tahu," sahut Tristan melihat ke arah kaca spion di atasnya. Ia melihat kegelisahan gadis yang duduk di bangku belakang. Gadis itu heran karena acara mengantarnya pulang tidak sesuai dengan apa yang di janjikan. "Aku harus ke tempat lain dulu untuk membahas pekerjaan barumu." Bola mata Ara yang tadinya melihat keluar jendela dengan cemas, kini menoleh ke depan. Membuat Tristan yang tadinya melihat Ara dari kaca spion kecil di atasnya, langsung memindah pandangannya ke arah lain.


Jadi dia memang mau menjadikan kekasih sementara itu sebagai pekerjaanku? Dapat ide darimana? gerutu Ara di dalam hati.


Rupanya mobil menuju sebuah rumah makan Jepang. Ini punya privasi lebih besar karena berada di dalam sekat-sekat yang mirip kamar di negara Jepang yang memakai pintu kertas itu. Ara sebagai orang yang tidak pernah datang ke resto semacam ini menjadi bingung. Namun dia berusaha tampil cool.


"Makanlah lebih dulu. Kita harus bicara banyak jadi kamu perlu tenaga untuk itu," kata Tristan yang mulai mengambil makanan yang di sajikan dan memasukkan ke dalam mulutnya.


Ara melongok sejenak. Ia senang melihat makanan itu, tapi apa perutnya juga senang dengan makanan baru itu?


"Kenapa?" tanya Tristan tidak suka makanya tidak di sentuh.

__ADS_1


"Saya tidak terbiasa dengan makanan seperti ini," kata Ara menunjuk makanan yang ada di depannya.


"Biasakan itu. Karena kakek sangat menyukai makanan Jepang seperti ini," kata Tristan tanpa peduli pada Ara yang memang baru pertama kali melihat dengan mata dan kepalanya secara langsung seperti ini, makanan Jepang yang kebanyakan berisikan bahan mentah semacam sushi dan sashimi.


Biasakan? Aku? Dengan kejamnya ia berkata biasakan sementara aku sendiri tidak tahan dengan bahan mentah seperti ini ...


"Ini termasuk latihan yang sewaktu-waktu di butuhkan saat kamu menjalani peranmu. Sandiwaramu," kata Tristan. Kata terakhir seperti sengaja di tekankan untuk mencela dirinya.


"Jadi aku di rekrut untuk dipaksa jadi pembohong?" lirih Ara yang di dengar Tristan.


"Tidak. Aku tidak merekrut mu. Kamu hanya perlu melakukannya sebagai persyaratan aku tidak mengeluarkan kamu dari daftar karyawan magang di perusahaanku. Ini hukuman. Ini kewajiban. Bukan pemaksaan, paham?" tegas Tristan membuat Ara mengangguk. "Cepat cicipi makanan mahal ini." tunjuk pria itu dengan sumpitnya.


Belum soal makanan, sumpit saja sudah membuat Ara kesusahan. Dia tidak bisa membayangkan kesusahan apalagi yang ia lalui saat terus menjalani hukuman yang di berikan Tristan.


.......


.......

__ADS_1


...B E R S A M B U N G...


 


__ADS_2