
Suatu petang di cafe.
"Tristan telanjang? Wow ... itu mengagumkan." Jenny yang sedang jajan di cafe bareng Ara terkejut.
"Jangan keras-keras, Jenny," desis Ara geregetan. Gadis itu hanya cekikikan saja.
"Melihat dia pakai baju saja, sudah terasa indahnya ... Apalagi saat tanpa baju." Ara menyeruput minuman dingin di depannya. "Jadi ini kamu benar-benar akan terus saja dengannya?"
"Aku terikat kontrak."
"Kontrak yang sebenarnya enggak ada kalau kamu enggak menerimanya," timpal Jenny.
"Kontrak yang enggak akan ada kalau aku enggak menolongku, wahai sobat," sindir Ara. Jenny melebarkan senyumnya. Ia selalu salah jika bahas itu.
"Tidak juga. Semua resiko harus kamu tanggung karena kamu menerima upah." Ara juga tidak bisa lanjut protes. Tangan mereka meraih kentang goreng favorit dan memasukkan ke dalam mulut masing-masing hampir bersamaan. "Cepat selesaikan kontrak itu. Kamu juga punya kehidupan sendiri. Tidak melulu tentang Tristan."
"Aku tidak tahu kapan kontrak berakhir."
"Terus?" tanya Jenny dengan dahi mengerut tidak setuju.
"Ya ... begitu," sahut Ara asal.
"Begitu gimana? Kamu ini bukan hanya pesuruh Tristan, Ara. Bagaimana jika ada pria yang mencintaimu dan ingin menjadi kekasihmu? Oke. Mungkin kamu menyukai uang. Sekarang bukan lagi soal kamu butuh, tapi kamu sedang menggilai uang."
__ADS_1
"Memangnya kamu enggak?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan. Aku sedang bahas kamu," sergah Jenny. Ara menipiskan bibir dan mencebik. "Cepat selesaikan kontrakmu dengan Tristan dan jalani hidupmu dengan normal. Bisa saja setelah kamu lepas dari Tristan, akan ada pria yang mendekatimu."
***
Ara ingin kembali ke rumah sewa dengan di antar oleh Jenny. Ia ingin mengambil foto ibu di sana.
"Kenapa tiba-tiba ingin mengambil foto ibu?" Jenny duduk di kursi menunggu gadis itu keluar dari kamarnya. "Bukannya Tristan melarangmu membawa barang banyak dari rumah ini?"
"Aku rindu ibu. Lagipula ini hanya sebuah foto. Berlebihan jika dia melarang ku membawanya."
"Rumah ini terlihat bersih. Bukannya kamu bilang tidak tinggal di sini?" Jenny meneliti sudut-sudut rumah ini.
"Aku pulang tempo hari."
"Lupa." Karena dekapan Tristan yang tiba-tiba, ia melupakan itu. "Oh gawat Jenny! Aku lupa aku tidak boleh sembarangan ke rumah sewa ini." Ara baru ingat.
"Kenapa?" Jenny ikut panik. Dia langsung berdiri dari duduknya.
"Kita harus segera keluar dari rumah ini, Jen."
"Kenapa? Kenapa?"
__ADS_1
"Orang-orang tuan Haga akan menemukanku. Tristan akan kerepotan melakukan perjodohan lagi jika aku ketahuan." Ara membimbing Jenny keluar dari rumahnya. Gadis itu setuju saja. Benar dugaan Ara, beberapa orang yang ia rasa bukan orang sini, mengikuti mereka. "Kita harus cepat, Jenny." Langkah mereka di gang di percepat. Untuk lari, tidak mungkin karena gang ini banyak juga anak kecil. Tentu makin aneh jika mereka berlari.
Akhirnya mereka bisa lega setelah masuk ke dalam mobil Jenny.
"Sebenarnya ini bagaimana sih?" tanya Jenny langsung menodong.
"Cepat pergi dari sini Jen. Kita bahas nanti. Mereka akan segera sampai di sini juga," pinta Ara. Jenny pun menyalakan mobil dan menjauh dari pasar.
**
Setelah merasa aman, Jenny bertanya lagi. Hingga Ara pun harus cerita.
"Kakek Tristan akan menjodohkan dia lagi seandainya siapa diriku yang asli di temukan." Ara menjelaskan.
"Lalu, kamu yang palsu itu jadi siapa?"
"Aku kurang tahu, tapi yang pasti menjadi kekasih Tristan haruslah bukan orang biasa. Tidak mungkin karakter palsuku juga biasa saja seperti aslinya. Sementara itu tuan Haga sepertinya masih kurang percaya pada Tristan yang tiba-tiba mengenalkanku pada beliau. Jadi beliau menyuruh orang-orangnya untuk mencari tahu siapa aku sebenarnya."
"Kamu seperti buronan. Permainan ini enggak bagus, Ar. Kamu bisa di anggap penipu ulung dan di jebloskan penjara." Jenny bercerita. Ara bergidik. "Hentikan saja apapun itu alasannya. Biar urusan jodoh itu Tristan sendiri yang mengurusnya. Jadi kamu jangan sampai terlibat. Mereka bukan orang biasa yang bisa kamu permainkan Ara. Meskipun itu karena ulah Tristan, cucu beliau sendiri."
.......
.......
__ADS_1
.......
......................