
Sepertinya Tristan benar-benar ada perlu. Hingga sore menjelang petang, pria itu tidak muncul di rumah kakek.
"Apa-apaan Tristan itu? Ini sudah sangat lama kamu di sini. Kakek senang saja ada cucu menantu kakek yang punya tenaga dan semangat luar biasa menemani, tapi kamu itu kan sudah lelah." Soal lelah jangan di taya lagi. Serasa tubuh Ara remuk semua. Ingin sekarang juga ia rebahan di sofa tanpa peduli ada tuan Haga di sini. Lelahnya bukan main. Uang banyak memang tidak bisa di dapat dengan mudah. Penuh perjuangan untuk mendapatkannya.
"Tidak apa-apa Kakek. Ara bisa pulang sendiri." Ara mencoba menenangkan beliau. Sebenarnya ia juga ingin tahu kemana Tristan sekarang. Ia tidak berani menelepon pria itu hanya karena ingin pulang.
"Pulang sendiri bagaimana ... Antoni yang akan mengantarmu, tapi seharusnya Tristan punya tanggung jawab untuk menjemputmu. Bukan di tinggal seperti ini."
"Perusahaan mungkin sedang ada keperluan penting, Kek."
"Kakek tidak yakin. Kamu mau pulang sekarang, Ara?" tanya Kakek. Ara mengangguk.
***
Ara sedikit berharap Tristan segera pulang. Ia ingin cerita soal memanen kentang di kebun Kakek. Namun harapannya pupus. Tristan tidak muncul. Bahkan pagi ini juga dia tidak bisa bertemu dengan pria itu. Tidak ada pesan ataupun kata-kata.
"Oke. Jadi aku tidak akan memasak banyak. Cukup untukku saja." Ara memantapkan diri untuk menganggap Tristan tidak pulang. Karena Tristan tidak ada, Ara naik motor ke kantor. Ini mengundang banyak tanya pada semua karyawan. Karena Ara bukanlah orang biasa. Dia kekasih direktur mereka.
__ADS_1
Sial. Aku lupa kalau soal hubungan ini.
Dengan tatapan heran orang-orang di area parkir, Ara memarkir motor bututnya. Jika biasanya dia bebas memakai motor itu, kali ini tidak.
Dari tatapan mereka, Ara tahu mereka ingin bertanya soal keberangkatan nya dengan motor butut ini. Namun mereka tidak berani.
"Non Ara!" panggil Jarvis. Ara menoleh. Pria itu mendekat. Bola mata Ara mencari sosok Tristan, tapi nihil. Jarvis muncul sendiri. "Kita masuk ke lift bersama." Ara mengangguk.
**
"Kenapa kamu berangkat dengan motor itu?" tegur Jarvis mengagetkan.
"Seharusnya kamu lebih hati-hati. Bagaimana mungkin kekasih Tristan akan memakai motor itu?"
"Itu memang motor butut, Jarvis, tapi itu berada berharga milikku." Ara tahu Jarvis ingin mengatakan bahwa motornya sudah butut.
"Kamu tidak tahu apa akibatnya jika berita ini sampai pada telinga tuan Haga."
__ADS_1
"Jadi kakek itu belum tahu soal berita ini?"
"Tentu saja. Kamu pikir aku akan diam saja. Tristan tentu menyuruhku bekerja lebih keras menyelesaikannya." Jarvis tampak kesal.
"Maafkan aku."
"Lagipula kenapa kamu menolak di jemput aku? Bukannya Tuan Tristan sudah memberitahumu untuk datang dan pulang di antar olehku?" tegur Jarvis lagi.
"Aku tidak tahu kalau kamu menjemputku. Tristan tidak pernah bilang apa-apa soal ini. Aku di rumah justru sedang menunggunya."
"Tuan Tristan ... tidak pulang?" tanya Jarvis merasa aneh.
"Ya. Setelah mengantarku berkunjung ke rumah tuan Haga, dia tidak pulang. Bahkan tadi pagi pun di masih belum muncul di apartemen."
"Aku pikir beliau menyuruhku menjemputmu karena dia sedang ada perlu." Jarvis kebingungan.
"Saat ke rumah tuan Haga, Tristan memang bilang kalau dia ada keperluan, tapi aku tidak tahu kalau dia sampai tidak pulang."
__ADS_1
"Kamu merindukannya?" tanya Jarvis seakan menangkap basah.
"Bukan seperti itu. Aku ini kan punya job baru yaitu memasak untuknya, jadi saat majikan ku yang sudah membayar uang gaji ku di muka tidak ada. Aku jelas panik. Mau masak banyak apa enggak? Kan bingung juga." Ara menjelaskan. Jarvis mengangguk.