KENCAN BUTA

KENCAN BUTA
Bab. 78


__ADS_3

"Jadi di sini kamu bersembunyi?" ujar Tristan seraya mengedarkan pandangan ke sekitar. Ara langsung bangkit dan membersihkan tubuhnya dari tanah.


"Apa yang kau lakukan di sini Tristan?" tanya Ara sangat terkejut. Tidak ada dalam bayangannya pria ini muncul saat ini, di sini. Saat dirinya berseragam ibu-ibu ke sawah.


Bola mata Tristan pindah ke arah gadis ini.


"Tristan?" tanya Tristan yang merasa panggilan Ara sedikit berbeda.


"Ah, maaf. Kenapa Anda datang ke sini, Pak?" ulang Ara yang tahu apa yang di maksud Tristan. Dia melihat Ara secara seksama.


"Ini seragam mu saat di rumah tenyata." Ara meringis. Ia tahu saat ini dirinya dalam keadaan kacau balau. Selain sempat galau karena Tristan, dia juga sedang mode bekerja keras.


"Cih. Terus terang saja kalau mau mengejek. Namanya juga ke ladang, pasti pakai pakaian seperti ini. Bukan pakai gaun. Hei, tunggu. Bapak belum menjawab pertanyaan saya. Kenapa Bapak bisa ada di tempat ini?"


"Hanya lewat," jawab Tristan asal.


"Tidak mungkin hanya lewat Pak. Jarak ladang ini dengan jalan besar itu tidak dekat. Tidak mungkin Anda hanya kebetulan muncul di sini!" Ara naik darah.


"Tentu saja aku tidak hanya lewat, Ara. Aku datang khusus untuk mencarimu!" Kini nada bicara Tristan meninggi juga. Ara mengerjap.

__ADS_1


"Mencari ku?"


"Ya. Tidak mungkin aku sengaja datang ke negeri antah berantah ini untuk piknik," ujar Tristan geram. Ara menipiskan bibir dan diam. "Aku menjemputmu Ara."


"Kenapa menjemputku? Aku bukan piknik, aku ini pulang kampung. Pulang ke rumah orangtuaku, Pak." Ara berkata dengan lambat.


"Kamu itu kabur. Kabur dari hal yang belum di selesaikan."


"Maaf soal magang. Itu sudah saya bicarakan dengan kakek."


"Kamu tidak tanya apa aku baik-baik saja atau tidak, Ara?" tanya Tristan dengan wajah sendu.


"Kamu salah. Aku tidak baik-baik saja Ara. Beberapa hari ini aku selalu mencoba menahan diri untuk tidak mencarimu. Aku harus pastikan dulu tempat untuk kamu datangi jika aku menjemputmu. Aku tidak baik-baik saja. Hanya sedang mencoba kuat," ujar Tristan pedih.


Ara kebingungan dengan suasana hatinya yang mendadak sendu. Tangannya mengepal.


"Bapak seharusnya tidak kesini. Kakek akan kebingungan jika tahu kita bertemu lagi. Kasihan beliau sudah tua."


"Kamu lebih kasihan pada kakek daripada aku?"

__ADS_1


"Itu ... Aku tidak perlu mengasihani Bapak. Bapak ini terlalu sempurna untuk dikasihani. Bapak kaya dan tampan. Justru yang pantas dikasihani di sini adalah aku. Aku adalah orang miskin." Ara mencoba menenangkan atmosfir yang akan membuat matanya berair. Ia tidak ingin menangis.


"Percuma kaya dan tampan jika mendapatkan kamu saja aku tidak bisa." Telinga Ara memerah. Dia senang. Tristan berusaha mendapatkannya?


"Bapak harus pulang dan jangan ke sini. Kita tidak boleh bersama lagi. Apalagi bermain sandiwara seperti yang kemarin-kemarin."


"Aku memang tidak sedang ingin bermain Ara. Aku tidak mau sandiwara. Aku membawa keseriusan. Serius untuk mencintaimu!" seru Tristan membuat tubuhnya yang panas, makin panas karena kata-kata Tristan yang membara.


Aku bisa goyah. Aku bisa langsung memeluknya sekarang juga kalau begini. Itu tidak boleh.


Ara mendongak ingin mengatakan sesuatu, tapi saat melihat wajah Tristan yang kemerahan karena panas Ara segera menarik lengan pria ini.


"Jangan berdiri di bawah terik matahari yang panas, tanpa pelindung kepala Pak." Ara membawa pria ini berteduh di gubuk yang ada di sana.


.......


.......


.......

__ADS_1


...****************...


__ADS_2