
Meski Tristan sudah mempercepat laju mobilnya, mereka tetap terlambat mendahului kakek. Tatap mata kakek terasa membelah tubuh mereka saat mereka baru muncul.
"Kalian melupakan kedatanganku?" desis tuan Haga. Tristan menghela napas. Ara tengah mengatur napas. Ia sungguh tidak menduga soal ini. Kakinya terasa sakit karena memakai high heel dengan kecepatan jalan di atas rata-rata. Tanpa mendengarkan keluhan kakek, Tristan membuka pintu apartemen. Ara mengikuti dari belakang. "Kamu tinggal di sini?" tanya kakek tiba-tiba. Ada nada tidak suka di sana.
"Y-ya." Ara yang tadinya terus saja melihat kakinya kini berdiri tegak demi menjaga kesopanan. "Itu permintaan Tristan," sahut Ara sambil menoleh ke arah pria itu dan tersenyum. Tuan Haga melirik cucunya. Mendengus kemudian.
"Seperti yang aku bilang kakek. Jadi ini bukan main-main," kata Tristan. Beliau melangkah melewati mereka berdua dan duduk di sofa. Suasana canggung sangat terasa. Ara yang biasanya bisa bertingkah di depan Tristan, kini tampak tidak bergerak bebas. Apalagi jika harus berbincang.
"Kakek sudah makan?" tanya Ara tiba-tiba. "Aku bisa membuatkan makan siang untuk kakek." Tristan sedikit terkejut. Karena ia tidak pernah membahas akan ada jamuan makan. Tristan menoleh pada Ara untuk mempertanyakannya. Namun gadis itu memberi kode Tristan untuk diam.
"Makan? Apa kamu bisa memasak?" tanya kakek meremehkan.
"Tentu saja. Kakek duduk dengan tenang, aku akan menyiapkan makanan dengan cepat. Ajak kakek mengobrol Tristan. Akan membosankan jika beliau hanya diam saat menunggu makan siang." Ara memberi titah seenaknya pada pria itu. Namun Tristan harus patuh. Ia pun ikut duduk bersama kakek. Ia memilih membiarkan Ara dengan idenya.
Ara segera ke pantry dan menuju kulkas. Dia tahu ada bahan makanan yang bisa dimasak. Dia harus membuat tuan Haga terkesan. Paling tidak ia tidak harus repot oleh rasa canggung karena kedatangan beliau di apartemen ini. Ia akan sibuk sendiri.
"Jarang sekali zaman sekarang ada anak perempuan yang bisa memasak. Apa dia ikut kursus memasak?" selidik kakek sambil sesekali mengamati.
"Dia tidak pernah ikut kursus memasak. Ara memang pandai memasak," ujar Tristan bohong. Melihat gadis itu menawarkan makan siang dengan memasak sendiri, kemungkinan dia memang terbiasa memasak. Dari sofa, Tristan masih bisa melihat gadis itu dengan cekatan bergerak di dapur.
__ADS_1
"Sss ..." desis Ara tertahan. Kakinya yang lecet masih sakit. Sepertinya mengelupas. Karena ia merasa makin sakit saja lecet itu. Namun ia tidak harus mengeluh terus menerus karena ia sedang berperan jadi orang lain. Ia harus segera menyelesaikan masakan ini hingga tuan Haga bisa segera pergi dengan pikiran baik tentang dia dan Tristan.
**
Masakan sudah selesai sekitar setengah jam lebih. Ara menyiapkan semua masakan dengan rapi di atas meja makan. Dengan kode, Ara memberitahu Tristan. Kemudian pria itu mengajak kakeknya ke meja makan.
Mata mereka sempat terpukau dengan masakan yang sudah siap di atas meja. Ini memasak dengan mendadak, tapi Ara bisa menyelesaikan dengan baik.
"Silakan duduk Kakek." Ara menarik kursi untuk kakek Tristan. Namun Beliau justru duduk di tempat lain. Ara mengerjap. Kakek tidak suka.
"Duduklah." Tristan mendekat menyentuh bahunya. Meminta Ara duduk di kursi yang ia tarik barusan. Rupanya ia ingin Ara tidak malu karena kakek menolak duduk di kursi yang ia siapkan. "Kamu juga perlu duduk setelah memasak." Setelah mengatakan itu, Tristan ikut duduk di sebelahnya. Ara ingin mengajak Antoni makan. Namun ia ragu melihat raut wajah tuan Haga.
"Saya?" tanya Antoni ragu. Karena tuan Haga tidak memberi perintah untuk makan.
"Ya."
"Tidak perlu, Tuan." Antoni melirik ke arah beliau. Tuan Haga tidak bereaksi.
"Tidak apa-apa. Makanan di masak dengan empat porsi. Jadi ada jatah untuk kamu. Ara sengaja menyiapkannya. Ayo duduklah. Aku yakin kamu juga belum makan siang. Kakek tidak akan marah. Aku menjaminnya." Tristan meyakinkan Antoni.
__ADS_1
"Duduklah. Aku belum tentu mau menghabiskannya. Kamu bisa makan lebih banyak jika mau," ujar kakek memberi perintah.
"Terima kasih." Antoni akhirnya duduk juga. Ara tersenyum.
"Saya akan mengambilkan makanan untuk kakek," ujar Ara hendak berdiri.
"Tidak. Biar aku mengambil sendiri. Sudah aku bilang, aku belum tentu mau makan," tolak kakek.
"Baik." Ara kembali duduk dengan canggung. Tuan Haga seakan terus saja menolak kebaikannya. Sebenarnya itu wajar. Beliau memang sejak awal tidak setuju jika Tristan memilih dengannya padahal sudah ada calon yang akan menjadi pendampingnya. Dia juga tidak harus melakukan banyak hal seperti ini karena hubungan dengan Tristan hanya sandiwara. Namun rasa canggung dan gugup yang tiba-tiba tadi, membuatnya memilih menjauh dari orang tua ini dengan memasak. Namun ternyata itu justru membuat kakek terus menunjukkan sikap dingin padanya.
"Ambilkan untukku," ujar Tristan mengangkat piringnya. Pria ini menyelamatkannya lagi.
.......
.......
.......
...----------------...
__ADS_1