KENCAN BUTA

KENCAN BUTA
Bab. 73


__ADS_3

Tristan yang sudah tidur sejak tadi terbangun. Ia merasa ada yang salah. Ara tidak membangunkannya yang tertidur di sofa. Tubuhnya bangkit dan segera mendekat ke rak sepatu di dekat pintu. Tidak ada sepatu gadis itu. Ia berjalan menuju pantry, tidak ada bekas seseorang melakukan aktifitas memasak.


Pintu kamar mandi juga terbuka. Terakhir adalah kamar Ara. Pintunya masih tertutup. Kemungkinan dia ada di dalam sana.


Tok! Tok!


"Ara. Maaf mengganggumu. Kamu ada di dalam?" Tidak ada jawaban. "Ara. Kamu janji akan membuatkan masakan untuk makan malam. Sejak tadi aku menunggumu hingga tertidur." Masih sunyi. Tristan mengerutkan kening. Ada yang aneh. Ia mencoba membuka pintu kamar. Tidak di kunci.


"Ara." Namun saat masuk ke dalam, suasana di sana kosong melompong. Tidak ada tanda tanda gadis itu ada di sana. "Ara." Tristan segera keluar dan mengambil ponsel. Mencoba menghubungi nomor gadis itu. Namun justru operator yang menjawab. Ara mematikan ponselnya. "Ini pasti kakek." Tristan mengambil jaket dan kunci mobil. Melesat keluar untuk ke rumah kakek.


**


Suasana rumah kakek lengang. Jam pada arloji Tristan menunjukkan pukul 9 malam. Tristan terus melangkah masuk hingga ke ruang tengah. Ada Antoni yang baru keluar dari ruang baca.


"Oh, Tuan."


"Dimana Kakek?" tanya Tristan tidak sabar.


"Ada di dalam ruang baca." Antoni menunjuk pintu di belakangnya. Tristan langsung menerobos masuk melewati Antoni.


"Dimana Ara, Kakek?" tanya Tristan langsung tanpa basa basi.

__ADS_1


"Ketuk pintu dulu sebelum masuk, Tristan."


"Cepat katakan, Kakek! Dimana Ara?!" Tristan tidak mendengarkan dengan benar kata-kata Tuan Haga.


"Ternyata tanpa di undang, kamu langsung datang. Kebetulan sekali. Kakek ingin bicara denganmu."


"Aku harus mencari Ara. Dia tidak ada di kamarnya."


"Apa peduli mu? Kalian hanya bersandiwara bukan?" tanya kakek mengejutkan Tristan. Dia langsung berhenti melangkah dan membalikkan tubuhnya untuk melihat tuan Haga. "Dia tidak akan kembali. Kakek sudah mengatakan semua hal yang harus di katakan."


"Apa yang sudah Kakek lakukan pada Ara?" desis Tristan marah.


"Di mana Ara, Kek?" Tristan tidak peduli pada perkataan tuan Haga.


"Menjaganya saja tidak bisa, bertingkah membohongi kakek. Apa yang ada di dalam pikiranmu Tristan? Menjadikannya kekasih sementara? Kamu pikir dia tidak punya hati?"


"Bukankah sama seperti kakek saat menjodohkan ku. Apa kakek juga punya hati saat aku harus menikah dengan perempuan yang tidak aku cintai?" Tristan langsung membalas perkataan kakek.


"Jangan hanya mengandalkan cinta. Kamu pikir bisa membuat perusahaan ini bertahan dengan cinta?"


"Aku tahu perusahaan penting. Karena kita semua hidup dari hasil perusahaan yang kakek bangun sejak muda, tapi haruskah kakek menjadi kaku seperti ini?"

__ADS_1


"Kakek ini bukan kaku. Kakek hanya sedang membuat rencana masa depanmu."


"Masa depan tidak bisa di prediksi kakek. Begitu juga dengan perempuan yang nantinya kakek jodohkan denganku. Bisa saja mereka juga buruk dalam mengelola perusahaan dan membuat kita makin bangkrut. Apa kakek sudah berpikir ke sana?"


Tuan Haga menatap cucu satu-satunya itu dengan dalam.


"Apa kamu tahu apa yang sedang kau lakukan sekarang?" tanya kakek serius.


"Jangan membuatku kesal, Kakek! Aku tidak bisa berpikir! Aku harus mencari Ara sekarang."


"Tidak perlu mencarinya. Dia memang harus pergi dari apartemen mu karena itu bukan tempat tinggalnya. Kakek malu kamu seperti itu Tristan. Menggunakan kelemahan seseorang untuk mendapatkan keuntungan," kata tuan Haga.


"Sial!" Tristan kesal dan bergegas keluar ruangan.


.......


.......


.......


......................

__ADS_1


__ADS_2