
Ara terdiam mendengar kalimat Tristan.
"Bilang saja sendiri, pak. Saya enggak mau minta ijin sama bapak ibu ..."
"Ara!" suara ibu terdengar dari belakang. Ara berdiri dan berjalan menghampiri ibu. "Ini ibu potongkan buah nanas sama semangka untuk bos kamu."
"Dia pasti enggak mau, Buk. Lagian buah begini dia bisa beli."
"Itu terserah dia. Sekarang dia tamu kita. Kita wajib menjamu tamu dengan baik Ara," tukas ibu memberi nasehat. Ara mengangguk.
"Mana Bapak?" tanya Ara yang melihat beliau sendirian.
"Keluar sebentar sama Pak Manto." Ara hanya mengangguk. "Sebenarnya dia itu siapa?" tanya Ibu tiba-tiba.
"Siapa?"
"Tristan itu siapa? Bukannya ibu pernah ketemu sama dia saat di rumah fasilitas dari kantor itu?" Rupanya ibu ingat ketika di apartemen itu.
"Yaa ... itu memang dia, Buk."
"Benarkah? Jadi teman kamu itu, ya boss kamu ini?" Ara mengangguk. Dia tidak ingin berbohong lagi. "Lalu kenapa bisa sampai sini?"
"Lagi ... pengen main."
"Seorang bos itu sibuk, Ara. Enggak punya banyak waktu untuk bermain. Apalagi perusahaan besar. Kalaupun harus bermain, biasanya untuk orang penting-penting saja. Lha, kamu kan hanya karyawan magang saja. Kenapa dia mau bela-belain ke rumah kamu di kampung?" Insting ibu sangat tajam.
__ADS_1
Sungguh aneh memang jika seorang bos sengaja mengunjungi dirinya yang karyawan biasa kalau tidak punya hubungan spesial.
"Dia orang baik, Bu." Ara menjawab dengan aman. Kening ibu mengerut merasa aneh.
"Ya, sudah. Cepat berikan padanya." Ara segera ke ruang tamu membawa buah potong itu.
"Aku pikir aku harus ikut ke belakang karena kamu lama sekali," kata Tristan berlebihan.
"Lama gimana, Pak. Ini aja baru lima menit. Buah. Ibu yang motong." Ara meletakkan piring berisi buah di meja.
Tiba-tiba petir menyambar. Ara yang masih berdiri menutup mata sejenak dengan tubuhnya yang mendadak tegang. Sepertinya ia takut petir.
"Ara ..." Tristan berdiri dan menyentuh lengan Ara. Suara petir terdengar lagi. Kali ini bersamaan dengan hujan yang turun. "Kamu enggak apa-apa?" tanya Tristan cemas. Ara masih diam. "Ara ..." panggil Tristan lirih. Kepala Ara mengangguk kemudian.
Mereka ...
"Sudah. Petirnya sudah tidak ada. Ayo duduk." Tristan membimbing tubuh Ara untuk duduk. "Kamu takut petir?"
"Sedikit." Ara tidak mau mengaku. Tristan tersenyum. Setelah melihat keadaan sudah bisa di ganggu, ibu muncul.
"Ara, ibu mau memberikan payung buat Bapak di rumah Pak Manto," kata ibu.
"Ya Bu." Namun belum sampai ibu keluar, Bapak muncul. Beliau tampak basah kuyup.
"Aduh, kenapa basah kuyup Pak," ujar ibu cemas.
__ADS_1
"Tadi sudah di jalan. Mendadak hujan, jadi enggak sempat pinjam payung. Sekalian saja berlari pulang." Bapak bercerita.
"Ya, sudah. Ayo masuk dan ganti baju." Ibu membungkuk untuk meletakkan keset tepat di bawah kaki bapak. "Kesetan dulu kalau mau masuk. Biar lantainya enggak basah." Bapak mengangguk.
"Lho, Nak Tristan masih di sini?" tanya Bapak saat lewat ruang tamu.
"Iya." Tristan mengangguk. Ara melirik. Dia ingin tahu apa yang akan di katakan Tristan. Bapak pasti bertanya banyak hal karena sudah malam seorang tamu pria belum pulang.
"Menginap saja dulu. Di luar hujan sangat deras. Petir juga. Di area sini jika petir menyambar, begitu berbahaya. Sebaiknya menginap semalam saja," kata bapak membuat Ara mendelik.
Apa?!!
Ibu melirik ke arah Ara lalu ke Tristan.
"Begitu ya, Pak? Baiklah." Tentu saja Tristan menyambutnya dengan senang hati. Ara langsung menoleh pada Tristan dengan cepat. Sorot mata tajam itu menyerang. Tristan mengangkat bahu samar. Ia merasa tidak bisa melakukan apa-apa karena itu permintaan orang tua Ara.
Ibu memperhatikan.
.......
.......
.......
......................
__ADS_1